Home » Berita Utama » Lagu ‘Kota Luwuk’ Melekat pada Sudarto
Lagu ‘Kota Luwuk’ Melekat pada Sudarto
Almarhum Sudarto (tengah) melantunkan lagu Kota Luwuk bersama Bupati Banggai Herwin Yatim dan Wakil Bupati Mustar Labolo, pada kegiatan kontes ternak se-Sulteng di lapangan Bumi Mutiara Luwuk, beberapa waktu lalu.

Lagu ‘Kota Luwuk’ Melekat pada Sudarto

LUWUK – Dua hari sudah almarhum Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Sudarto pergi. Kenangan semasa hidupnya akan tetap teringat begitu segar, termasuk mengenai lagu yang diciptakan Fredy Galuanta di tahun 1982 yang sering dilantunkan mantan Bupati Banggai itu.
Pencipta lagu sekaligus penyanyi lokal, Syaifuddin Muid berpendapat, lagu Kota Luwuk memiliki syair bagus serta irama musiknya cocok dengan selera masyarakat Kabupaten Banggai. “Jenis musiknya pop. Dan cocok dengan irama musik di daerah ini,” kata Pudin sapaan akrab Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Politik ini, Senin (3/10).
Terlebih lagi lanjut pemilik Anisa Production ini, suara Sudarto sangat pas dengan lagu tersebut. “Ada rohnya lagu itu ketika pak Darto melantunkannya. Karakter suara pas dan tepat. Jadi siapapun menyanyikan lagu itu, rohnya tidak akan sama ketika pak Darto yang melantunkannya. Ada karakter dan lagu menjadi berkharisma,” kata Pudin sembari menambahkan bahwa kita kehilangan tokoh besar Kabupaten Banggai dibidang musik.
Seingat Pudin, lagu itu pertama dinyanyikan Sudarto saat menjabat bupati Banggai pada akhir jabatan periode pertamanya. Lagu tersebut menceritakan tentang keindahan kota Luwuk. Dan lagu tersebut sudah dinonton di youtube hampir 30 ribu pengunjung. Dalam album Kota Luwuk itu juga ada beberapa lagu lainnya. Diantaranya sebut Pudin, Paya le Tonginau’mo, Putri Balantak dan Banggai Tano Monondok.

Dengar Keluhan Petani sebelum Tutup Usia
Sangat terpukul. Hanya kata itu yang dilontarkan para petani di dataran Toili ketika mendengar kabar bahwa Wakil Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Sudarto telah tutup usia.
Sosok yang akrab disapa Pak Darto itu, sangat diandalkan oleh petani yang berada di wilayah ini. Selain dekat dengan petani, juga kerap memperjuangkan nasib mereka sejak almarhum menjabat sebagai Bupati Banggai hingga Wakil Gubernur Sulteng.
Salah seorang dari Desa Tohiti Sari, Rohman menuturkan, almarhum Sudarto adalah sosok pemimpin yang benar-benar merakyat. Pada Maret lalu misalnya, pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur itu menyempatkan diri mendengar keluhan para petani. Meski terdapat tugas-tugas pemerintahan yang tentu jauh lebih penting
“Beliau mengundang beberapa petani untuk mendengar keluhan kami langsung tanpa perantara. Dengan kepergian Pak Darto saat ini akan membuat kami para petani mengangeni (rindu) akan wujud dan  kepemimpinannya,” tutur Rohman, senin (3/10).
Terpisah, KUPT Dinas Pertanian Kecamatan Toili, Gendon Prabowo mengakui, jika almarhum Pak Darto memang sangat dikagumi kalangan petani. “Dengan berpulangnya (meninggal dunia) almarhum Pak Darto, yang paling merasakan kehilangan adalah para petani khususnya di wilayah kecamatan Toili,” kata gendan.
Dari Kota Luwuk, kemarin di mesjid-mesjid mengumumkan kepada masyarakat dan kantor-kantor pemerintah agar memasang bendera setengah sebagai simbol menghormati almarhum Pak Darto, salah satunya di Mesjid Abdul Aziz, Kelurahan Karaton. Hanya saja, imbauan itu belum tersosialisasi dengan baik. Contohnya di Graha Dongkalan yang belum memasang bendera setengah tiang hingga sore hari.  (yan/aum/ali/ajy)

About uman