Home » Berita Utama » Refleksi Mengenang Sejarah Perjuangan Pembebasan Irian Barat
Refleksi Mengenang Sejarah Perjuangan Pembebasan Irian Barat
Berdiri kokoh di puncak bukit, monumen Trikora Jayawijaya menjadi salah satu objek wisata yang memperindah penampilan kota Salakan.

Refleksi Mengenang Sejarah Perjuangan Pembebasan Irian Barat

Monumen atau tugu tak hanya berupa bangunan yang bertujuan untuk memperindah penampilan sebuah tempat. Lebih dari pada itu, monumen merupakan simbol memperingati peristiwa penting dimasa lampau. Di provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), monumen bersejarah dapat anda jumpai di kota Salakan, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep).

Laporan: L Iman Firmansyah Haffilu, Luwuk Post

WAKTU menunjuk pukul 12.05 Wita. Kondisi alam Bangkep sedikit berbeda ketimbang kota Luwuk, di Kabupaten Banggai. Terutama dari sisi suhu udaranya. Wajarlah, sebab wilayah administrasi daerah suku Banggai itu didominasi laut yang lima kali lipat lebih luas dari daratannya.
Untungnya siang itu cuaca agak sedikit mendung. Kendati begitu, panasnya suhu laut tetap saja terasa menyengat kulit kepala se sampai di lapangan Bumi Mutiara, Alun-alun Salakan.
Di sana (Alun-alun,Red) berdiri kokoh sebuh monumen bersejarah. Jayawijaya namanya. Masyarakat sekitar lebih mengenal dengan sebutan Monumen Trikora (Tri Komando Rakyat). Letaknya yang strategis di puncak bukit pusat kota Salakan (ibu kota Banggai Kepulauan,Red) membuatnya mudah dijumpai oleh para penjelajah sejarah.
Pesona keindahan hamparan biru teluk Ambelang dan pulau Bakalan, serta gugusan pulau-pulau berukuran sedang hingga berbentuk karang yang mencuat ke permukaan laut semakin terlihat jelas. Itu dikarenakan monumen berada di dataran tinggi tepat menghadap perairan pulau Peling.
Mendekati monumen anda akan langsung disambut oleh relief tiga dimensi bergambarkan pasukan tentara serta pejuang adat Banggai. Konon, karya pahat itu adalah gambaran singkat tentang situasi perjuangan lima desawarsa silam tersebut.
Perjalanan belum selesai. Menaiki 28 anak tangga yang terdiri atas tiga bagian terpisah, prasasti berlapis tegel hitam kembali menyambut. Pada bagian depannya terpampang logo burung Garuda bertuliskan, “PRASASTI DJAYAWIJAYA persembahan prajurit bangsa yang siap dan rela mengorbankan jiwa dan raganya merebut kembali Irian Barat kepangkuan NKRI”. Prasasti itu ditandatangani oleh Presiden RI kedua, Soeharto tertanggal Pulau Peling, 12 Agutus 1995. Sedangkan bagian belakang terdapat 50 nama kapal RI serta pasukan pendarat-45 yang hadir di pulau Peling.
Melewati itu barulah perjalanan yang sesungguhnya menanti. Sekitar 180 anak tangga dengan ketinggian cukup terjal wajib dilalui untuk melihat secara dekat bahkan menyentuh badan monumen Trikora. Lutut saya bahkan sampai gemetar berjalan menanjaki anak tangga yang kiri kanannya berpagarkan kawat besi dan pepohonan jambu mente, itu.
Fisik monumen Trikora Jayawijaya berbentuk segitiga dengan tinggi 17 meter menjulang ke langit. Pada bagian dasar dikelilingi teras atau pondasi berbentuk lingkaran. Perjalanan singkat itu seperti membawa saya meneropong ulas balik tentang  sejarah yang terjadi di tahun 1992 tersebut.
Kala itu operasi Djayawijaya dalam misi perjuangan pembebasan wilayah Irian Barat digiatkan.  Pulau Peling yang merupakan daerah terpencil serta sepi dari lalulintas perhubungan laut Nusantara seketika kedatangan rombongan kapal perang TNI.  Sejarah mencatat, kapal beserta pasukan dengan jumlah besar dibawah komando Mandala yang dipimpin Mayjen Soeharto menjadikan teluk Ambelang pusat kekuatan pasukan TNI.   Tak heran, selain menjadi ikon kota Salakan, monumen Trikora Jayawijaya menjadi salah satu objek wisata para pelancong mancanegara maupun domestik ke Bangkep.
Sejak diresmikan pada tahun 1995 silam, monumen tersebut berada dibawah pengelolaan Kodim 1308 L/B. Barulah di tahun 2015 lalu diserahkan kepada pemerintah daerah (Pemda) Bangkep. Meksi terlihat bersih dari sampah, namun pepohonan yang tumbuh subur mengesankan bahwa monumen tersebut minim perhatian.
Kepala Bidang Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Kabupaten Bangkep, Sartono mengungkapkan, pasca penyerahan pengelolaan oleh Kodim, pemda langsung berperan dalam menjaga dan melestarikan Trikora Jayawijaya.
Program yang dicanangkan pada tahun 2016 ini diantaranya, pembangunan lampu penerang, RTH (ruang terbuka hijau,Red), MCK, Gazebo (pondok persinggahan,Red) ditambah perawatan lain. Sayangnya, anggaran sebesar Rp 20 miliar tersebut batal terealisasi karena sebagian APBD Bangkep dialokasikan untuk anggaran pilkada serentak 2017. Selain itu, pemangkasan DAU juga turut mempengaruhinya. “Kami sudah desain pembangunannya. Tapi mau di apa kalau anggarannya tidak ada,” kesal Sartono.
Dia menyadari bahwa Bangkep dikaruniai berbagai pesona alam yang sangat indah. Selain pariwisata alam, salah satunya adalah monumen Trikora Jayawijaya. Untuk meningkatkan PAD Bangkep, Dinas Pariwisata telah berencana menggenjot kualitas pariwisata dengan tujuan menarik perhatian pelancong luar daerah bahkan mancanegara. “Monumen Trikora layak diprioritaskan karena menjadi ikon Salakan. Selain itu lokasinya mudah ditemui, apalagi di dalamnya menyisahkan kisah perjuangan para prajurit TNI terdahulu,” jelasnya.
Tentunya sangat menarik bagi penjelajah sejarah. Hanya saja, keberadaan monumen Trikora dan objek wisata lainnya di Bangkep belum begitu terekspos. Padahal jika disandingkan dengan pariwisata yang terkenal di daerah lain, Bangkep mampu bersaing.
Monumen Trikora, kata dia, menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat  Bangkep. Betapa tidak, tanah yang mereka pijaki saat ini menjadi saksi sejarah getirnya perjuangan menuju kemerdekaan RI. Terutama mempertahankan Irian Barat dari pangkuan bumi Pertiwi.
Bagi Sartono, prosesi pelaksanaan upacara proklmasi kemerdekaan RI yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus terasa lebih hikmat di Bangkep. Kondisi itu tak terlepas dengan keberadaan Trikora yang berdiri di pojok lapangan Bumi Mutiara, Alun-alun Salakan. Yah, lapangan itu menjadi lokasi setiap kali upacara bendera 17-an digelar.
“Makanya harus selalu dijaga, dilestarikan serta terus diperindah areal sekitar monumen,” katanya.
Dia berharap, monumen Trikora menjadi alasan seluruh masyarakat Bangkep agar senantiasa menjaga rasa nasionalisme kepada negara tercinta Republik Indonesia.
Jadi bagi anda yang penasaran mungkin bisa meluangkan waktu memperkenalkan kepada keluarga tentang berbagai peninggalan sejarah di negeri ini.(*)

About uman