Home » Berita Utama » Ruangan Sempit, Satu Pintu, Juga Pengap
Ruangan Sempit, Satu Pintu, Juga Pengap
Seorang warga membawa anaknya saat mendatangi kantor Dispendukcapil Banggai, Rabu (28/9). Jelang batas akhir kebijakan pencetakan yakni 30 September, jumlah pembuat e-KTP makin meningkat.

Ruangan Sempit, Satu Pintu, Juga Pengap

AZAN ashar sudah berkumandang. Alponsina Makase, 79, masih duduk termangu di kursi besi berukuran panjang itu. Menoleh sesekali melihat warga lain masuk-keluar dari ruang tempat pengurusan elektronic KTP (e-KTP) di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Banggai. Di samping kiri kanannya, warga lain ikut mengantre. Rata-rata juga mengurus e-KTP. Di depannya puluhan orang berjubel di meja berukuran sekira 2 X 3 meter itu mengambil nomor antrean.
“Dari jam 9 di sini. Sekarang belum juga dipanggil. Dengar-dengar saja. Saya juga mau urus KTP,  nomor urut 131,” ucap warga Desa Pondan, Kecamatan Mantoh, itu kepada Luwuk Post saat disambangi sekitar pukul 15.00 Wita, Rabu (28/9).
Meski begitu, sembari memegang persyaratan pengurusan e-KTP, Alponsina tetap menunggu hingga namanya dipanggil petugas. Padahal, sejam lagi pelayanan sudah harus ditutup. “Kalau tidak dipanggil hari ini, besok antre lagi. Datang ke sini sama-sama dengan cucu,” tuturnya.
Tak hanya Alponsina. Ani, salah seorang warga Desa Pongian, Kecamatan Bunta juga mengalami hal yang sama. Ani datang ke Disdukcapil pukul 08.30 wita. Hingga sore hari, belum juga terlayani. Nomor urutnya menembus 187. “Sudah mau pulang,” tutur Ani yang enggan menunggu esok hari.
Di sebelah kanan Ani, ada Putu Supardini. Dia datang ke Disdukcapil untuk mengurusi e-KTP putrinya yang masih duduk di bangku SMA. Nomor antrean Putu sebenarnya sudah dikantongi pada Selasa (27/9), tapi belum juga dipanggil karena harus menunggu anaknya pulang dari sekolah. “Saya nomor urut 55. Dibilang lusa (Jumat, Red) tapi bukan hanya ini yang dikerja,” kesal warga Kelurahan Hanga-hanga, Kecamatan Luwuk Selatan itu.
Saking banyaknya warga yang mengurus e-KTP, ruangan itu pengap. Meski dua unit pendingin ruangan telah dipasang. Di parkiran eks kantor Bupati Banggai itu juga warga berjejal. Menunggu giliran dipanggil merekam. Ada yang terpaksa duduk di atas sepeda motor hingga terbaring di musholah.
Nah, saat memasuki pintu ruangan pengurusan e-KTP, hidung langsung disambut dengan aroma. Setelah dikroscek, ternyata alat untuk mereka hanya satu unit saja. Jadi, sekali masuk ke ruangan merekam, hanya bisa 5 orang saja. Wajar saja jika antrean panjang tak terhindarkan.
Terpisah, anggota Komisi I DPRD Banggai, Irwanto Kulab menyatakan, Disdukcapil seharusnya ‘jemput bola’ dengan cara turun langsung ke kecamatan-kecamatan untuk melayani perekaman agar tidak terjadi antrean. “Kalau buat KTPnya nanti di kabupaten saja,” jelas politikus Golkar itu.
Irwanto mengaku, jika kekurangan mobil operasional, pihaknya siap mendorong pada APBD tahun 2017 mendatang. Itu dilakukan agar pelayanan publik bisa maksimal. “Itu pun kalau mereka (Disdukcapil, Red) turun ke kecamatan atau sampai ke desa,” terangnya. (ali)

About uman