Home » Berita Utama » Warga Tanjung Siaga, Bakar Ban dan Blokade Jalan
Warga Tanjung Siaga, Bakar Ban dan Blokade Jalan
Ratusan warga Tanjung, Kelurahan Keraton, Kecamatan Luwuk, melakukan aksi blokade di jalan Yos Sudarso, dengan membakar ban bekas, Kamis (22/9). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk perlawanan mendengar adanya pergerakan massa dari sejumlah tempat untuk membantu pelaksanaan eksekusi di kawasan tanjung.

Warga Tanjung Siaga, Bakar Ban dan Blokade Jalan

LUWUK-Eksekusi lahan seluas 6,4 hektar Tanjung, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, kembali memanas, Kamis pagi (22/9) sekira pukul 09.00 Wita. Ratusan warga yang mendiami lokasi objek sengketa membakar ban bekas dan memblokade jalan dengan kayu, batu, bahkan kontener.
Blokade jalan dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap proses pelaksanaan eksekusi yang dilakukan Pengadilan Negeri Luwuk sesuai waktu yang ditetapkan. Kamis (22/9) kemarin, rencananya Pengadilan Negeri Luwuk akan membacakan amar putusan Mahkamah Agung atau sering disebut sidang lapangan. Namun, karena konsentrasi massa, sidang lapangan itu batal dilaksanakan.
Amatan Luwuk Post, sebagian jalan Yos Sudarso Kelurahan Karaton ditutup. Arus lalu lintas dialihkan. Akses jalan menuju pelabuhan Luwuk lumpuh total. Bahkan, aktivitas bongkar muat di pelabuhan tidak berjalan. Mobil tronton yang sebelumnya berlalu lalang membawa kontener, tidak terlihat sama sekali. Yang ada hanya aktivitas warga memadati jalan menyaksikan kobaran api dibawah terik matahari.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, aksi perlawanan itu merespons rencana Pengadilan Negeri Luwuk membacakan amar putusan Mahkamah Agung (MA) atau yang biasa disebut sidang lapangan yang digunakan sebagai landasan pelaksanaan eksekusi. Tapi, setelah melihat kondisi keamanan, pembacaan amar putusan tersebut kembali ditunda, dengan waktu yang belum ditetapkan.

Ratusan Warga Duduki Pengadilan
Di tempat berbeda, ratusan warga yang mengatasnamakan keluarga ahli waris Berkah Albakar, menduduki kantor Pengadilan Negeri (PN) Luwuk. Mereka mendesak Ketua PN Luwuk, Nanang Zulkarnaen Faisal, segera membacakan amar putusan MA di lokasi objek sengketa. Sebab, pelaksanaan eksekusi sudah ditunda sekira empat kali dan dianggap merugikan ahli waris. Selain mendesak Ketua PN, mereka juga dikabarkan akan mengamankan pengadilan saat membacakan amar putusan.
Namun, desakan mereka tidak mendapat respons memuaskan. Karena saat itu, Ketua PN sementara berada di luar Kota Luwuk.
Informasi yang dihimpun, ratusan warga tersebut datang dari berbagai wilayah, seperti Bungin, Bungin Timur, Soho, Maahas, Kintom dan Nambo.
Konsentrasi massa baik di Tanjung dan PN Luwuk membubarkan diri sekira pukul 11.00 Wita, setelah adanya kesepakatan bersama antara PN Luwuk yang diwakili Bagian Humas Sudirman SH, Kapolres Banggai AKBP Jamaludin Farti, perwakilan ahli waris, serta tiga kuasa hukum ahli waris Berkah Albakar.
Namun hingga sore sekira pukul 17.00 Wita, blokade jalan belum dibuka. Sisa ban bekas yang dibakar belum juga dibersihkan. Meski demikian pengguna jalan sudah bisa melewati jalan tersebut, meski harus tetap berhati hati karena api dari ban bekas masih berkobar.
Kapolres Banggai, AKBP Jamaludin Farti, saat tiba di PN Luwuk meminta semua pihak tidak melakukan tindakan yang membenturkan warga dengan warga. Kata dia, kalau terjadi chaos (hura hara) bisa dipastikan eksekusi akan gagal. Dan yang mengalami kerugian adalah ahli waris. “Hukum itu, tidak boleh menggunakan kaca mata kuda. Situasi Kamtibmas tanggung jawab saya,” tandasnya.
Pihaknya, kata dia, juga bisa bertindak tegas menangkap otak di balik adanya konsentrasi massa di PN Luwuk. Karena menurutnya tindakan itu sudah melanggar hukum. “Kalau ada apa apa, yang saya tangkap duluan adalah orang yang atur ini. Dan saya tidak main main,” tegas Jamaludin.
Ia menegaskan, Polres Banggai tidak pernah menyatakan bahwa eksekusi di Tanjung dibatalkan. Polres hanya menyampaikan penundaan eksekusi. Ia juga mengaku sudah menyampaikan secara tegas kepada masyarakat Tanjung yang tidak punya alas hak atas lahan mereka agar tau diri. “Ibarat sepeda motor, kalau tidak punya surat surat kendaraan, berarti milik orang. Nah ini yang terus saya sampaikan ke masyarakat Tanjung,” terangnya.

Warga Digegerkan Adanya Provokator
Sebelumnya, Kamis dini hari (22/9) sekira pukul 02.00 Wita, warga Tanjung yang mendiami lokasi objek sengketa digegerkan dengan teriakan seorang warga yang mengaku melihat sejumlah orang tak dikenal (OTK), bertopeng, menggunakan sepeda motor, datang di pemukiman warga untuk membakar rumah. Teriakan itu sontak membuat warga terbangun dari tidur nyeyaknya.
Lalu sekira pukul 03.00 Wita dini hari kemarin, sepanjang jalan kompleks Tanjung dipenuhi warga. Mereka siaga satu. Tidak ada yang sendiri, semua berkelompok sambil diskusi dengan bola mata selalu mengintai setiap pergerakan yang mencurigakan.
Informasi yang berkembang menyebutkan, sejumlah laki-laki bertopeng itu bersembunyi di sebuah rerumputan yang ada di sekitar gudang Bulog. Sepeda motor mereka juga disembunyikan dibalik rerumputan tebal tersebut. Perbincangan OTK seputar pelaksanaan eksekusi Tanjung. Warga tanjung lantas bersiaga karena menerima informasi sejumlah OTK itu dikabarkan hendak membakar rumah karena kecewa dengan penundaan eksekusi.
Sebelum kejadian warga setempat memang sudah waspada. Mereka khawatir eksekusi dilakukan di luar prosedur hukum. “Pokoknya kami tetap waspada. Dan pengalaman malam ini, kami akan berjaga-jaga setiap malam,” kata salah seorang warga setempat.
Amatan wartawan koran ini, warga tanjung memang tidak bisa terlelap hingga menjelang pagi kemarin. Bahkan, saat matahari nampak di ufuk barat, warga masih saja terlihat berjaga-jaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sekira pukul 07.00 Wita konsentrasi masa terlihat di depan Sekretariat Gerakan Masyarakat Tanjung (GMT). Pukul 09.00 Wita, warga mulai membakar ban dan memblokade jalan Yos Sudarso.(awi)

About uman