Home » Berita Utama » Blok Tiaka Bakal Lama Diparkir
Blok Tiaka Bakal Lama Diparkir
Nasvar Nazar, Kepala Perwakilan SKK Migas Kalimantan dan Sulawesi saat menjawab pertanyaan sejumlah wartawan usai membuka kegiatan Edukasi dan Gathering Media di Hotel Melia Makassar, Rabu (21/9).

Blok Tiaka Bakal Lama Diparkir

LUWUK-Turunnya harga minyak bumi berdampak besar. Bahkan sejumlah tambang migas memilih tutup. Seperti blok Tiaka di Kabupaten Morowali Utara.
Kepala Perwakilan SKK Migas Kalimantan dan Sulawesi, Nasvar Nazar mengungkapkan penutupan sejumlah tambang minyak terpaksa dilakukan untuk menghidari penambahan jumlah kerugian perusahaan. Sebab, dengan anjloknya harga minyak dunia, biaya operasional untuk produksi migas di blok Tiaka tak sebanding lagi dengan keuntungannya.
“Untuk Tiaka itu produksinya kecil. Dengan harga minyak dunia yang drop begini maka hanya akan menghasilkan kerugian jika terus dioperasikan. Belum tahu sampai kapan tutup, karena semua bergantung harga minyak dunia,” kata Nasvar, Rabu (21/9) usai membuka secara resmi kegiatan Edukasi dan Gathering Media yang dilaksanakan oleh SKK Migas – KKKS  Wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
Nasvar menjelaskan, setiap titik produksi gas memiliki perbedaan kuota produksi. Hal itu yang membuat sejumlah tambang seperti Tiaka harus dihentikan sementara. Namun, Nasvar mengatakan jika nantinya harga minyak dunia naik atau stabil maka blok Tiaka akan kembali dioperasionalkan. “Kalau sekarang belum bisa dioperasikan. Karena produksinya kecil dan harga minyak dunia dibawah. Sementara operasional kita itu cukup besar karena ada di tengah laut. Untuk Tiaka sebetulnya 2 tahun mereka bertahan dengan harapan harga minyak naik, tapi ternyata yo malah turun,” pungkasnya.
Menurutnya, di pesisir timur Sulawesi memang banyak wilayah kerja migas untuk eksplorasi. Hanya saja saat ini belum dikelola. Hal itu dilakukan untuk menghindari kerugian negara karena biaya operasional lebih tinggi dari laba. Ia menyontohkan salah satu pengeboran di wilayah laut Papua. Menggunakan teknologi tinggi tapi ternyata saat proses pengeboran dilakukan, migasnya tidak ada. Di sisi lain, perusahaan yang memenangkan tender atas pengerjaan proyek itu telah mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp2 triliun. “Yah kalau sudah begitu itu risiko. Total investasi dari eksplorasi sampai produksi untuk laut dalam itu mahal. Untuk wilayah timur Sulawesi itu seperti blok mandar, sudah lebih dari Rp 1 triliun tapi tidak dapat apa apa. Hanya saja, tidak ada cost recovery karena masih jadi tanggungjawab KKKS,” jelasnya.
Mengenai perusahaan yang mendapatkan kontrak PSE selama 30 tahun kegagalan menemukan sumur migas memang merugikan. Sebab dari masa kontrak mereka diberi deadline selama 10 tahun untuk eksplorasi dan pembebasan lahan, kemudian 20 tahun masa produksi. Jika dalam 10 tahun awal gagal, maka kontrak bisa dibatalkan dan Kementerian ESDM bisa melakukan tender lagi. Terkait dana bagi hasil (DBH) untuk Kabupaten Banggai, Nasvar mengaku tidak ingat berapa persen totalnya. Hanya saja, penutupan sejumlah unit produksi cukup memengaruhi pendapatan Negara. Artinya, DBH juga memengaruhi keuangan daerah. “Kalau dampaknya ke DBH saya kira bukan cuma kabupaten Banggai saja tapi kita semua merasakan itu,” tutupnya.(van)

About uman