Home » Berita Utama » Gawat, Lania Terancam Batal Nyalon
Gawat, Lania Terancam Batal  Nyalon
Lania Laosa

Gawat, Lania Terancam Batal Nyalon

SALAKAN-Tinggal menghitung jam Partai Golkar (PG) segera menentukan sikap politiknya di pilkada Bangkep. Dijadwalkan, hasil keputusan rapat tertutup tim pilkada DPP PG yang digelar sejak Sabtu malam(17/9) lalu akan dirilis  Senin (19/9) dalam bentuk surat keputusan (SK) yang menetapkan bakal calon bupati dan wakil bupati usungan. Minggu (18/9) tepatnya pukul 11.30 Wita, tim pilkada DPP PG kembali dikabarkan telah mengakhiri rapat. Uniknya, hasil kerja para elit justru melenceng dari dua nama yang belakangan acapkali digadang-gadang bakal menahkodai perahu beringin rindang. Yakni Ketua DPD II PG Bangkep, Lania Laosa dan pendatang baru Zainal Mus. Dialah Irianto Malingong dan Hesmon Pandili. Informasinya, pasangan Balon kada yang mulai populer dengan tagline “Irhes” ini menjadi pilihan akhir DPP PG di pilkada Bangkep. Jika benar, maka harapan Lania bertarung menggunakan partainya pupus. Begitupula dengan Zainal Mus yang terlihat berambisi merebut Golkar. Saat dikonfirmasi, Lania Laosa enggan berspekulasi sebelum SK DPP PG dikeluarkan secara resmi. Dia mengaku belum mengetahui siapa yang menjadi keputusan tim pilkada melalui rapat tertutup. “Saya belum tahu apakah saya atau nama lain yang diputuskan tim pilkada. Saya masih menunggu SK DPP,” tegas Bupati Bangkep ini, Minggu (18/9). Meski begitu, Lania optimistis mampu mengantongi SK mengingat dirinya sebagai kader yang selama ini telah berperan dan berkontribusi membesarkan partai.
Sementara itu, sektretaris DPD PG Bangkep, Harsono Moidady memilih irit bicara. Dia membenarkan bahwa rapat tim pilkada telah selesai. Untuk kepastiannya, Harsono menegaskan SK yang akan menjawab. “Kita lihat saja besok (hari ini-Red),” katanya.
Terkait Zainal Mus, Harsono memastikan tak ada lagi peluang mantan Ketua DPRD Kabupaten Pulau Taliabu itu merebut tiket PG. Sebab, sejak sepekan lalu DPP PG telah mencoret nama Zainal Mus dari list kandidat usungan partai. “Saya lihat sendiri kok di meja pak Sekjen Idrus Marham. Hanya saja selama ini kami terus merahasiakanya,” ungkapnya. Informasi serupa juga diakui oleh Ketua Harian DPD PG Bangkep, Muh Risal Arwie. Risal juga mengaku sempat mendengar informasi tentang keberhasilan Irhes merebut SK partainya. “Apapun keputusan DPP kami tunduk, kami kader taat azas. Siapapun dia, kami siap mendukung, asal jangan Zainal Mus,” kecam Risal. Mengapa demikian? Sejak awal, jelas Risal, dirinya mengharamkan partainya menjadi mesin politik Zainal Mus. Keberadaan Zainal Mus di Bangkep sangatlah misterius. Sebab, selama ini mayoritas masyarakat Bangkep tak mengenali maksud dan sosok politikus asal provinsi Maluku Utara tersebut. “Kami ini putera daerah, kami tidak mau Bangkep dipimpin oleh orang yang tidak tahu dari mana asalnya tiba-tiba main pasang baliho kiri kanan. Apalagi cara Zainal berburu rekomendasi telah menabrak beberapa aturan PG. Masih banyak alasan lain yang diantaranya kisah historis nenek moyang kami,” murka Ketua DPRD Bangkep ini.
Terpentalnya Zainal Mus dalam bursa kandidat usungan PG membuat Risal bersyukur. Hanya saja, sampai kemarin dia serta para jajaran beringin bersepakat menunggu dikeluarkannya fisik SK DPP PG. “Kami siap mendukung putera daerah, siapapun dia yang akan jadi usungan Golkar,” tekannya. Salah seorang tim pemenangan Irhes, Muh Ikra menginformasikan pihaknya telah menerima informasi tentang keberhasilan Irianto dan Hesmon menjawarai SK PG. Meski begitu, pihaknya tak mau tak kabur mengumbar keberhasilan sebelum dikeluarkannya SK. “Kami masih menunggu legalitas formalnya (SK,Red),” katanya singkat.
Terpisah Staf Khusus Zainal Mus, Mutakim La Adee saat dihubungi mengaku belum mengetahui informasi terbaru di DPP Golkar.”Saya belum tahu info terbaru, saya hubungi dulu pak Zainal Mus, nanti saya kabari lagi,” katanya.  Hingga berita berita ini diturunkan belum ada tanggapan dari kubu Zainal Mus.

Spekulasi Faktor
Pendorong Keberhasilan Irianto

Kabar keberhasilan Irianto Malingong sontak mengejutkan masyarakat Bangkep, khususnya diinternal DPD II Partai Golkar (PG). Meski belum didasari SK, namun para elit di Bangkep mulai pesimistis terhadap upaya Lania merebut perahu beringin rindang. Diketahui, belakangan terdapat dua nama yang acap kali dikait-kaitkan akan menahkodai perahu PG di pilkada Bangkep. Yakni Ketua DPD II PG Bangkep Lania Laosa dan figur pendatang baru, mantan Ketua DPRD Kabupaten Pulau Taliabu, H Zainal Mus. Apalagi keduanya telah lebih dulu berjibaku dalam perburuan rekomendasi diinternal beringin rindang hingga ditingkat DPP. Namun, Irianto bukanlah nama baru dalam bursa calon usungan PG. Sejak awal digiatkannya proses penjaringan oleh DPD II PG Bangkep mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten, Irianto tercatat sebagai salah satu kandidat yang telah terdaftar bersama calon petahana Lania Laosa dan beberapa lainnya. Sedangkan Zainal Mus dipastikan tidak melalui tahapan yang diatur dalam Juklak PG Nomor 1 tersebut. Meski begitu, perjuangan Irianto merebut Golkar terkesan meredup. Yang memperlihatkan kompetisi sengit pra pilkada diinternal PG justru antara Lania dan Zainal. Saling klaim mewarnai pertarungan itu hingga menimbulkan gesekan antar kubu. Kubu Lania bersikukuh dengan dalih sebagai kader, pimpinan partai, calon petahana dan putera daerah. Sementara pihak Zainal kabarnya memanfaatkan link elit PG di DPP berkat hubungan kedekatan emosional. Kondisi itupun menuai respon Ketua Umum (Ketum) PG, Setya Novanto (Setnov). Setnov menegaskan mengambil alih persoalan yang melilit Golkar Bangkep. Berbagai pertimbangan dilakukan dengan merujuk pada konstitusi PG. Sementara Lania dan Zainal terus melancarkan lobi-lobi politik di tataran elit. Konstitusi ditegakan, regulasi dikaji yang pada akhirnya membuat Setnov melegitimasi Indo Barometer melakukan survei di Bangkep. Rujukannya adalah Juklak Nomor 13 yang berbunyi, kader akan diprioritaskan, akan tetapi jika hasil survei selisih 5 persen dimana figur non kader lebih dominan maka akan dipertimbangkan. Akhir pekan lalu, Indo Barometer akhirnya menuntaskan pekerjaan. Meski belum dirilis secara resmi di Bangkep, konon kabarnya Irianto masih di atas angin. Sedangkan Lania Laosa berada pada posisi kedua. Adapun Zainal Mus dan kandidat bupati lainnya berada dibawah angka 10 persen. Informasi terakhir yang dihimpun koran ini kemarin, Irianto Malingong telah memenuhi seluruh persyaratan sehingga tak ada dalih untuk tidak diusung. Apalagi ditengah gonjang-ganjing SK antara Lania dan Zainal. Sementara Lania terkendala hasil survei. Disisi lain, Zainal Mus justru memiliki berbagai aspek yang tak terpenuhi sehingga dicoret dari list calon kandidat usungan PG di pilkada Bangkep. Para pengusus PG di Bangkep menilai, hal itu merupakan bentuk komitmen Setnov yang menegaskan akan menegakan aturan partai.”Inilah wujud komitmen pak Ketum Setnov yang akan mengubah paradigma PG dari elit terdahulu,” ungkap Sekretaris DPD PG Bangkep, Harsono Moidady, Minggu (18/9). Namun, hingga saat ini baik kubu Lania maupun Irianto sama-sama meyakini SK DPP PG akan menjadi miliknya. Terkait itu akan dijawab setelah dikeluarkannya SK resmi yang dijadwalkan pada Senin (19/9) besok. Jika jawabannya adalah Irianto, maka politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut diam-diam menjadi sosok kuda hitam yang selama ini menjaga suhu politik di internal Golkar ditengah perseteruan antara Lania dan Zainal. Dampaknya berimbas pada nasib pencalonan antara Lania dan Zainal di pilkada serentak gelombang ke dua nanti.

Delmard Tolak
Disebut Kuda Hitam
Sementara itu, calon Bupati Bangkep dari jalur perseorangan, Delmard Siako menolak disebut sebagai kuda hitam di pilkada 2017 mendatang. Alasannya, sejak awal menyatakan sikap berkompetisi dirinya menargetkan kemenangan, bukan tampil hanya sebagai pemandu sorak. “Saya tidak setuju dengan istilah kuda hitam,” tegas mantan Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Bangkep ini akhir pekan lalu. Optimitis kemenangan Delmard berdasar pada dukungan ril sebanyak 9.836 suara yang telah diverifikasi dan diplenokan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bangkep sebagai syarat pencalonan politikus beringin rindang. “Itu dukungan murni masyarakat yang diserahkan melalui KTP serta pernyataan sikap di atas materai 6 ribu,” katanya. Bahkan, lanjut dia, masih terdapat ribuan masyarakat yang tak sempat menyatakan sikap dukungan diakibatkan keterbatasan waktu yang disesuaikan dengan tahapan pilkada serentak gelombang ke dua Februari 2017 nanti. “Kalau mau digarap maksimal masih ada sekitar 13 ribu yang menyatakan penyesalannya tidak sempat memberikan dukungan. Belum lagi karena faktor waktu,” jelas Delmard.
Sebagai satu-satunya kandidat yang maju melalui jalur non parpol membuat Delmard yakin telah mengantongi dukungan ril belasan ribu masyarakat. “Itu menjadi modal awal. Tinggal kita berusaha lagi mencari tambahan agar memenangkan pilkada. Jadi bukan kuda hitam,” pungkasnya.(man)

About uman