Home » Berita Utama » Edarkan Narkoba, Napi Diduga Join Oknum Sipir
Edarkan Narkoba, Napi  Diduga Join Oknum Sipir
Handoko Magaline (memunggungi kamera), terpidana kasus narkoba yang kembali ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang sama saat menjalani pemeriksaan di ruang Satuan Narkoba Polres Banggai, Rabu (14/9) lalu.

Edarkan Narkoba, Napi Diduga Join Oknum Sipir

LUWUK-Praktek peredaran narkoba yang dikendalikan dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) oleh alm. Freddy Budiman, terpidana narkoba yang telah dieksekusi mati diduga juga terjadi di dalam Lapas Kelas IIB Luwuk. Indikasi itu menguat setelah adanya penangkapan terpidana narkoba yang sebelumnya disebut sebagai bandar besar, Handoko Magaline.  Dalam kasus itu, Handoko kembali ditetapkan sebagai tersangka meski kini Ia tetap memilih bungkam.
Penangkapan Handoko bermula dari gerak-gerik mencurigakan seorang napi yang membawa bungkusan ke pintu keluar. Saat digeledah, ternyata bungkusan itu berisi 4 sachet sabu-sabu. Setelah diinterogasi, napi bernama Mispaudi alias Frengki mengaku barang haram itu milik Handoko. Ia hanya diperintahkan mengantar ke pintu gerbang, karena sudah ada yang menunggu di depan pintu. Sayang, si penunggu tak diketahui petugas. Melihat fakta peredaran narkoba dari balik jeruji besi Lapas, Handoko diduga kuat tak bermain sendiri. Banyak pihak mencurigai adanya kerjasama antara napi dan oknum sipir.
“Pemerintah lagi gencar-gencarnya memberantas narkoba, tapi kok lapas bisa “kecolongan” ya. Ini kan jadi aneh,” kata Ketua Komisi 1 DPRD Banggai, Winancy Ndobe, Jumat (16/9).
Winancy khawatir kasus gembong narkoba Freddy Budiman di Lapas Cipinang terjadi di kabupaten Banggai. Sebab, dari sistem pengamanan Lapas yang bisa dibilang ketat dan hanya melalui satu pintu sangat mustahil peredaran narkoba  dikendalikan dari dalam Lapas. Ia juga mengatakan tidak tegasnya pihak Lapas dalam menertibkan telepon genggam dari sejumlah napi juga membuat para bandar lebih leluasa.  “Indikasi kasus Freddy Budiman jilid 2 di sini (Lapas,red)  terjadi di sini bisa saja. Karena ini seperti lingkaran setan, apalagi kalau pengawasan lemah,” kata Winancy lagi.
Sementara itu, Kalapas JFK Johanes saat didatangi di kantornya tidak berada di tempat. Meski begitu saat dikonfirmasi via telepon, Ia membantah jika ada keterlibatan oknum sipir dalam peredaran narkoba dari dalam lapas. Ia bahkan mengatakan komitmen petugas sejak awal belum berubah. “Sikap kami seperti itu, terus dan terus melawan narkoba tanpa kompromi,” tandasnya.
Hanya saja ketika ditanya upaya penelusuran dugaan adanya keterlibatan oknum sipir dengan tes urine. Johanes enggan berkomentar. “Nanti saja datang ke kantor, ketemu langsung lebih enak,” tulisnya melalui pesan singkat.
Terpisah, Samuda, salah satu kepala seksi di Lapas Kelas IIB yang sempat ditemui di Lapas mengatakan dugaan adanya keterlibatan oknum sipir bisa saja. Hanya sejauh ini Ia memastikan belum ada.  Tapi jika belakangan nantinya terungkap adanya kerja sama napi dengan sipir dalam pengedaran narkoba maka menurutnya itu harus ditindak tegas. “Yang pasti narkoba itu ada yang bawa tapi kita tidak tahu. Karena tidak mungkin turun dari langit itu barang (narkoba,red). Pasti ada yang bawa. Bisa pengunjung atau bisa juga petugas lapas. Tapi kan kita gak tahu pastinya. Hanya saja, kalau memang ada petugas seperti itu sikat saja. Karena itu merusak sistem. Penghianat negara,” tandasnya.
Mengenai penggunaan handphone di dalam Lapas, menurut Samuda, pihaknya telah berulang kali melakukan razia dan jarang ditemukan. Ia juga mengakui bahwa dalam aturan, jelas napi dilarang memiliki telepon genggam dalam lapas. Tetapi, tidak menutup kemungkinan ada yang sembunyi-sembunyi menyimpan benda elektronik itu. “Kalau HP itu aturannya jelas. Kalau ada napi yang beralasan mau menghubungi keluarga maka Lapas telah menyediakan alat komunikasi yang bisa digunakan. Itu disediakan dan ada waktu yang diberikan untuk menghubungi keluarga,” kata Samuda.(van)

About uman