Home » Metro Luwuk » Badut, Sapi Manja Berbadan Subur Asal Kecamatan Moilong
Badut, Sapi Manja Berbadan Subur Asal Kecamatan Moilong
Badut saat naik ke mesin timbangan di kontes ternak se-Sulteng di lapangan Bumi Mutiara Luwuk, Senin (29/8).

Badut, Sapi Manja Berbadan Subur Asal Kecamatan Moilong

Jepretan kamera langsung mengarah ke tubuhnya. Naik ketimbangan dengan jalan lenggak-lenggok membuat Badut jadi sorotan pengunjung. Yah, namanya Badut, sapi jenis PO asal kecamatan Moilong, kabupaten Banggai. Hampir dipastikan dialah sapi terberat di kontes ternak tingkat provinsi Sulteng yang tengah diselenggarakan di kota Luwuk.

Laporan: Ld Iman Firmansyah Haffilu, Luwuk Post

BOBOT Badut mencapai 719,5 kilogram. Itupun hewan dengan panjang hampir dua meter ini belum makan semalam sejak berada di lokasi kontes di lapangan Bumi Mutiara Luwuk, Minggu (28/8) hingga Senin awal pekan ini. Memang sih, panitia belum secara resmi mengumumkan sapi terberat sekaligus pemenang kontes. Tapi kalau dicermati dari peserta lainnya, Badut adalah sapi berbadan paling subur.
Lawan tanding Badut tidak sedikit, terdapat berbagai jenis sapi perwakilan hampir seluruh kecamatan se-kabupaten Banggai. Adapula yang berasal dari luar kabupaten seperti Parigi, kota Palu dan lain-lain (khusus wilayah Sulteng,Red).
Tapi ngomong-ngomong mengapa diberi nama Badut? Ponimin, sang pemilik ternaklah yang pertama menamakannya. Kisahnya, ketika baru berumur bulanan Badut disenangi oleh tetangga sekitar rumahnya. Sebab, sapi berusia hampir 4 tahun itu sungguh menggemaskan ditambah lagi kulitnya yang bersih nyaris tanpa lecet bekas luka.
Badut sungguhan pada umumnya digemari orang banyak karena lucu dan menghibur. Merasa kriteria itu ada pada diri sang sapi, Ponimin akhirnya berinisiatif memberi nama Badut. “Badut lucu, terus manja suka ngikutin (kejar,Red) orang, apalagi saya,” terang Ponimin.
Lantas apa rahasia dibalik suburnya dan kebersihan tubuh Badut? Ponimin mengaku tak pernah memberi perawatan atau asupan makanan khusus. Sama seperti sapi pada umumnya, rumput liar adalah makanan yang kerap dikonsumsi. “Tapi kalau di Toili kami selalu memberi makan ternak dengan tumbuhan rumput gajah, itu saja,” kata ayah lima orang anak ini.
Ponimin membeberkan, rahasia yang sesungguhnya adalah tentang bagaimana perlakukan majikan kepada hewan ternak. Bagi Ponimin, sapi adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki naluri ingin diperlakukan dengan kasih sayang serta menuntut perhatian. Kepada Badut dan Ribut (adik Badut,Red) serta sang induk, Ponimin mengutamakan kenyamanan kandang.
“Kandang untuk ke tiga hewan ternak saya berukuran 6×6 meter yang berlantaikan semen. Kandang harus dijaga kebersihan dan yang terpenting harus selalu kering dari kencing,” katanya.
Yang tak kalah pentingnya adalah membiasakan memandikan sapi minimal 2 atau 3 kali sepekan. Menurut Ponimin, cara itu membuat senang hati dan perasaan sapi sehingga tidak berkurang nafsu makannya serta kebal akan penyakit, terutama ancaman stres.
“Kalau makan, mandi dan kebersihan kandangnya tidak diperhatikan biasanya Badut dan adiknya ngambek. Segala macam dilakukan, kadang kakinya disentakan kuat ke lantai atau kepalanya mangguk-mangguk. Kalau sudah seperti itu berarti mereka lagi menuntut diperhatikan,” kisahnya.
Sebaliknya, jika beberapa faktor itu telah terpenuhi, Badut dan saudaranya bahkan enggan meninggalkan kandang. Untuk mengajak badut jalan-jalan, Ponimin terpaksa harus memaksanya. Terkadang, Ponimin merasa heran dengan kebiasaan ternaknya yang terkesan alergi dengan alam lepas ketika kandang yang menjadi tempat peristirahatannya bersih dari berbagai kotoran.
“Padahal sapi pada umumnya justru senang kalau dilepas bebas, tapi Badut malah memilih jadi hewan rumahan, haha…,” rumor pria kelahiran tahun 1954 ini.
Atas dasar itu, Ponimin mengaku tak rela menjual Badut. Kecuali tuntutan ekonomi sangat-sangat mendesak dan tak ada solusi selain menjual ternaknya. Padahal, untuk pasaran sekarang, harga normatif sapi jenis PO sekelas Badut dibanderol mencapai Rp 50 juta.
Kendati demikian, hubungan yang telah terjalin bak anak dan orang tua membuat Ponimin harus berpikir mati-matian untuk merelakan Badut terjual. Mengingat sapi tersebut merupakan bantuan dari pemerintah daerah (pemda) beberapa tahun silam, Ia berharap kedepan bantuan jenis sapi serupa tetap diadakan.
“Karena keuntungannya banyak, sapi jenis PO badannya mayoritas besar, rawatnya tidak susah terus  harga daging perkilonya relatif murah ditambah lagi rasanya tak kalah nikmat,” pungkasnya.(*)

About uman