Home » Berita Utama » Kalapas Pecat Petugas Depot
Kalapas Pecat Petugas Depot
J.F.K Johannes

Kalapas Pecat Petugas Depot

LUWUK-Lapas Kelas IIB Luwuk bertindak cepat menyikapi penangkapan 34.000 butir THD dan Dextro yang ditransaksi melalui jendela Lapas. Terbukti, seorang petugas penjaga depot air minum diberhentikan, karena lalai dalam  menjalankan tugas.
“Saya sudah berhentikan penjaga depot itu, karena ruangan itu diduga sering digunakan sebagai tempat transaksi narkoba. Dan sekarang sudah diganti dengan yang baru,” kata Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIB Luwuk, J.F.K Johannes, Rabu (10/8) di ruangannya.
Ia menyatakan, meskipun banyak kasus narkoba yang diketahui dikendalikan dari dalam Lapas Kelas IIB Luwuk, tapi tidak membuat semangat petugas keamanan kendor. Pihaknya selalu mendukung upaya Satuan Narkoba Polres Banggai dalam memberantas narkoba di daerah ini. Segala upaya terus dilakukan. Mulai dari penggeledahan blok yang dihuni para napi, hingga memperketat pengawasan di pintu masuk Lapas. Meskipun, diakuinya, petugas keamanan tidak sebanding dengan jumlah napi yang sudah mencapai ratusan orang.
Johannes mengakui, tingkat pengamanan di Lapas memang masih sangat lemah. Hal itu terbukti dengan adanya beberapa kejadian penangkapan narkoba yang diketahui berada di dalam Lapas. Bahkan, para napi bisa mengendalikan distribusi narkoba dari luar daerah di balik jeruji besi. Namun, kata dia, pihaknya selalu bekerja sama dengan Satuan Narkoba Polres Banggai untuk membasmi narkoba di dalam Lapas.
Ia menegaskan, jika kepolisian mencurigai ada indikasi petugas Lapas yang terlibat dalam peredaran narkoba di dalam Lapas, silahkan ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. “Saya sudah sampaikan ke pak Chandra, ada petugas yang sengaja main-main dengan narkoba silahkan ditangkap. Saya anti dengan narkoba, tapi apa daya saya seorang diri,” tegas Johannes, Rabu (10/8) di ruang kerjanya.
Selain itu, kata dia, pihaknya sudah menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan Satuan Narkoba Polres Banggai. Ada beberapa warga binaan yang terlibat dengan peredaran narkoba, langsung diproses ke polisi untuk pengembangan penyelidikan. Karena penegakan hukum adalah tanggung jawab kepolisian. “Kami hanya mengamankan Lapas,” tandasnya.
Johannes mengungkapkan, petugas keamanan sangat kurang. Dari 335 napi, hanya 12 petugas yang mengamankan Lapas setiap hari. Dalam 1×24 jam, dibagi menjadi 3 shift. Sehingga 1 shift, hanya diamankan oleh 4 petugas. “Seharusnya, kami membutuhkan 17 petugas untuk mengamankan Lapas dalam setiap shift. Kalau itu tercapai, maka seluruh blok napi, pos penjagaan di menara hingga pintu masuk akan terisi,” paparnya.
Kata dia, Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, tengah berusaha menambah petugas Lapas di seluruh Indonesia. Tapi, jika tahun 2017 mendatang, Lapas Kelas IIB Luwuk tidak ketambahan personil, maka dipastikan petugas keamanan akan  berkurang. Tak hanya itu, pihaknya juga kekurangan anggaran, dan tidak memiliki fasilitas pengamanan seperti CCTV dan Light Detector. “Bukan hanya di Lapas Luwuk, kekurangan petugas dialami di seluruh Lapas yang ada di Indonesia,” terangnya.
Johanes bercerita, hampir setiap hari ada kejadian di dalam Lapas. Padahal hanya masalah sepele. Seperti gara-gara sendal, baju, main bola kaki, main bola voli. Masalah-masalah ini akan dibawa ke dalam hingga terjadi perkelahian napi antar blok. Belum lagi ketika napi mendengar isu bahwa istri mereka sudah selingkuh di luar sana. Tapi semua itu bisa diselesaikan dengan baik, meskipun kekurangan petugas. “Kami selesaikan masalah itu dengan hati dan perasaan, bukan dengan fisik. Orang-orang yang mengkritik kami, tapi mereka tidak tahu kondisi yang sebenarnya,” katanya seraya menambahkan petugas Lapas tidak pernah berlebaran dengan keluarga. Setiap hari harus mengurusi napi dengan berbagai macam sifat dan perilakunya.(awi)

About uman