Home » Berita Utama » Tetap Menenun meski Perhatian Pemda Belum Maksimal
Tetap Menenun meski Perhatian Pemda Belum Maksimal
Pengrajin Tenun ikat Nambo Sariah Balahanti saat menenun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Foto kanan, Sariah saat memperlihatkan hasil kerajinan kain tenun Nambo, Minggu (7/8).

Tetap Menenun meski Perhatian Pemda Belum Maksimal

Masyarakat Kabupaten Banggai sangat mengenal industri kain tenun Nambo yang selama ini digeluti oleh warga Kecamatan Nambo, namun masyarakat daerah ini pun sangat jarang menikmati hasil kerajinan daerah yang pertama kalinya dikembangkan oleh Ketua Penggerak PPK Kabupaten Banggai saat daerah ini dipimpin Bupati Banggai M. Junus. Bagaimana nasib kerajinan daerah ini, berikut laporannya.

Budi Sahari/Luwuk Post

Kain Nambo biasa disebut oleh warga setempat merupakan hasil olahan dari tenunan yang dilakukan kaum perempuan di wilayah Nambo sejak puluhan tahun lalu melalui pendidikan praktis yang berlangsung secara turun-temurun dengan masa belajar bertahun-tahun.
“Sarung hasil tenunan yang kami buat ini berbeda dengan daerah lain termasuk yang dari Donggala (salah satu Kabupaten di Sulawesi Tengah,Red)” ungkap Sariah Balahanti, Minggu (7/8).
Sariah adalah salah satu dari 7 perempuan yang sampai saat ini masih tetap membuat kain tenun. Padahal, dalam berbagai kesempatan ia bersama rekan-rekannya kerap membuat pelatihan agar kerajinan tenun ikat yang bernaung dibawah wadah sentra industri tenun ikat Mutiara Luwuk ini tetap ada. “Kami sudah membuat pelatihan ada 25 orang pesertanya, tapi sekarang tinggal 7 orang itupun sudah masuk usia tua,” jelasnya.
Sentra industri kain tenun Nambo ini digeluti kaum perempuan Nambo secara individual dengan menggunakan Gedokan, sebutan alat tradisional yang digunakan untuk menenun kain, dengan  menggunakan teknik pembuatan ragam hias yang disebut teknik “ikat”, yaitu suatu teknik memberi warna pada benang-benang tenun dengan cara mengikatnya sebelum ditenun. Saat daerah ini dipimpin Bupati M Junus, pemerintah daerah mulai mengembangkan kerajinan kain tenun Nambo.
“Waktu itu tahun 1991, Ibu Bupatinya, istri Pak Junus bupati banggai,” jelas perempuan yang kini berusia 58 tahun.
Saat itu pula kain tenun Nambo mulai diperkenalkan di berbagai kesempatan termasuk merekrut kaum perempuan untuk menekuni kerajinan tangan tersebut. Bahkan, bahan baku kain dipesan dari sejumlah daerah di Indonesia. “Sampai tahun 2013 waktu itu Ketua PKKnya dijabat Ibu Nur (istri Bupati Banggai Sudarto,red) yang memperhatikan kami sampai pada pemilihan motif yang sampai saat ini menjadi ciri khas kain tenun Nambo,” jelasnya.
Dengan bermodalkan lima unit Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Sariah dan rekan rekannya terus menggeluti kerajinan tenunan Nambo. Meski perhatian pemerintah daerah terhadap  pengembangan kain tenun Nambo belum maksimal. Cara memasarkan hasil tenunan pun diinisiatif oleh Sariah dan rekannya.
Mulai dari mempromosikan kain tenun, ada juga yang langsug memesannya. “Setiap hasil kain tenun harganya bisa sampai Rp 500 ribu. Kain tenun kami tidak mengkilap tapi halus seperti yang disampaikan Ibu Nur. Hasilnya bagus meski dengan keterbatasan alat yang terbatas” jelasnya.
Keteguhan dan konsistensi Sariah dan rekan rekannya untuk terus menekuni kerajinan tenun ikat Nambo adalah bukti komitmen mereka untuk melestarikan kerajinan tenun Nambo yang sejak dulu dikenal masyarakat Kabupaten Banggai. Pemerintah daerah sejatinya mencontoh keteguhan kaum perempuan yang sudah tergolong tua itu dengan mendorong sentra industri tenun ikat Nambo menjadi ciri khas daerah ini. (*)

About uman