Home » Metro Luwuk » Terpidana Narkoba Mengamuk
Terpidana Narkoba Mengamuk
Ningsih alias Noni, 52 tahun, ngamuk di Pengadilan Negeri Luwuk pasca divonis hakim 5 tahun 6 bulan. Nampak, sejumlah Jaksa menenangkan Noni saat ngamuk, Kamis (4/8) sekira pukul 11.30 wita.

Terpidana Narkoba Mengamuk

LUWUK– Teriak histeris sambil nangis, dengan posisi tubuh tengkurap di lantai, memukul meja dan menendang  pintu kaca ruang persidangan. Itulah ekspresi yang dikeluarkan Ningsih alias Noni, 52 tahun, terpidana kasus narkoba, sesaat setelah hakim Pengadilan Negeri Luwuk mengetuk palu yang menyatakan Noni bersalah, dengan hukuman penjara 5 tahun 6 bulan dan denda sebesar Rp1 miliar dipotong masa subsider, Kamis (4/8) sekira pukul 11.30 wita.
Meskipun sudah diamankan sejumlah Jaksa dan pegawai pengadilan ke dalam sel tahanan, Noni masih saja ngamuk. Ia bersikokoh, jika dirinya tidak bersalah. “Saya kenal jebakan. Di polisi juga saya dijebak, disuruh ngaku, kalau mengaku saya dikeluarin. Tapi saya disuruh bayar sepuluh juta, saya tidak punya duit. Kalau saya kasi saya dibebasin, ternyata saya dijebak. Sudah dua kali saya dijebak,” inilah ungkapan Noni ketika ditanya wartawan, kenapa tidak menerima vonis hakim tersebut.
Noni merasa dijebak karena baru tiba di Luwuk dan langsung ditangkap. “Saya baru 8 hari kasian. Mau nengokin saudara kasian mau berobat. Saya tidak terima dengan vonisnya, karena saya dijebak,” kata Noni dengan nada gemetar dan terus berteriak histeris.
Penasehat Hukum Noni, Endy Sugianto, SH saat diwawancarai wartawan menyatakan, dalam fakta persidangan tidak pernah membuktikan kliennya terlibat dalam kasus ini. Tapi keputusan itu adalah hak dan wewenang dari hakim. “Jadi kita akan lakukan upaya hukum,” katanya.
Disamping itu, pihaknya akan membuat laporan polisi atas dugaan kesaksian palsu yang disampaikan oleh Chen. Nanti kita akan hadirkan di pengadilan bahwa, Noni ini dari Jakarta, dan baru 8 hari di Kelurahan Mendono, Kecamatan Kintom. Sementara pengakuan Chen, membeli barang haram tersebut sudah tiga pekan lamanya dari Noni. “Kami akan hadirkan saksi-saksi yang ada di Mendono,” tandas Sugianto.
Selain itu, lanjutnya, ada ketimpangan lain yang menurut dia tidak rasional. Seperti, pengakuan penyidik, barang itu ada di bawah kolom lemari kios, tapi saat itu, Noni ada jauh dari tempat tersebut. Kemudian juga dikatakan penyidik, ada transaksi melalui HP baik sms maupun telepon. Tapi file data record itu tidak pernah dibuka. “Waktu itu, kami sempat buka HP blackberry yang dijadikan barang bukti, tapi tidak ada satupun sms atau nomor telepon dari orang lain. Intinya, kami akan melakukan banding,” bebernya.
Terpisah, Ketua Pengadilan Negeri Luwuk, Nanan Zulkarnaen, menyatakan, hakim menyatakan terdakwa bersalah berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di dalam persidangan. Jadi, bila ada upaya banding, silahkan kumpulkan bukti-bukti. “Kalau banding nanti ya di Pangdilan Tinggu Palu,” singkatnya saat ditemui wartawan di ruang kerjanya.
Sekedar diketahui, Noni saat itu ditangkap pihak kepolisian pada bulan Oktober 2015 lalu, di Kelurahan Mendono, Kecamatan Kintom. (awi)

About uman