Home » Politik » Timses Jangan Intervensi Kebijakan Bupati
Timses Jangan Intervensi Kebijakan Bupati
Murad U Nasir

Timses Jangan Intervensi Kebijakan Bupati

LUWUK—Peran tim sukses (timses) jangan sampai mengintervensi kebijakan kepala daerah (kada). Demikian penegasan politisi senior partai Golkar, Murad U Nasir merespon sorotan akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk terhadap sejumlah timses Win Star yang dinilai “berlagak” bak protokoler bupati dan wakil bupati.
Terkait itu, Murad menyatakan, kerja-kerja timses sesungguhnya hanya mengantarkan calon bupati dan wakil bupati sampai pada dilantik sebagai kada definitif. Karena itu, adalah kadaluarsa jika kemudian masih terdapat timses yang membatasi pergerakan kada dalam mengemban tugas pemerintahan.
“Kalau benar masih ada pergerakan timses yang dimaksud akademisi, maka jelas itu adalah tindakan salah. Karena tidak ada satupun regulasi yang mengatur tentang peran timses dalam lingkup pemerintahan,” terang Murad, Selasa (2/8).
Memang, kata dia, bupati dan wakil bupati (wabup) tidak terlepas dari jabatan politik. Namun menurut dia, keliru jika implementasi persepsi itu dilakukan di ruang-ruang pemerintahan, seperti kantor bupati oleh timses.
Untuk menyikapi itu, mantan Ketua DPRD Sulteng dua periode menilai, bupati dan wakil bupati perlu mengeluarkan terobosan seperti, menghendaki adanya think tank politics (wadah pemikir politik,red) yang beranggotakan para timses potensial.
“Terobosan itu bisa diartikan sebagai dapur politik yang bertugas mempertimbangkan kebijakan publik pemerintah. Ingat, tugas mereka hanya memberikan pertimbangan, bukan mengintervensi apa yang menjadi wewenang kada. Dan mereka hanya organisasi struktural, tempatnyapun bukan berarti di kantor bupati,” saran mantan politisi Senayan ini.
Diketahui, kritikan tersebut bermula dari sharing antar akademisi ditambah rumor yang berkembang di tengah masyarakat. Bahkan, sejumlah kalangan intelektual kampus hijau mengaku pernah mengalami contoh kasus ketika menemui Bupati Herwin Yatim untuk meminta kesediaan melepas mahasiswa KKN tahun ini.
“Sedang asyik berbincang dengan  bupati tiba-tiba salah seorang timses langsung memotong dan mengarahkan kami untuk berurusan dengan kami. Padahal bupati welcome menerima kami. Kalau seperti ini caranya mau ketemu bupati harus melewati barisan timses,” aku Kisman Karinda, pengamat pemerintahan Unismuh Luwuk pekan lalu.
Pernyataan itupun membuat Ketua Timses Win Star, Fuad Muid tersinggung. Sehingganya Fuad mendesak akademisi untuk memperjelas siapa timses yang dimaksud.
Terkait itu, Murad menyarankan untuk mencari kebenaran tentang keberadaan timses yang dimaksud. Kalaupun benar, kembali ditegaskannya, bahwa sikap timses tersebut adalah keliru.
“Tidak bisa seperti itu. Kalau benar adanya ini bisa menjadi tanda-tanda kehancuran, timses harus tahu tupoksinya, ada ruang-ruang tertentu yang tidak bisa dimasuki dalam kapasitas itu. Peran timses hanya di Pilkada, setelah itu sifatnya kadaluarsa,” tegasnya.(tr-53)

About uman