Home » Metro Luwuk » 53 Hari Kerja Winstar, Ada Perubahan?
53 Hari Kerja Winstar, Ada Perubahan?
Gabungan Aktivis Mantailobo (GAM) terlihat membersihkan sampah di teluk Lalong saat air laut pasang, Sabtu sore (30/7). Tindakan organisasi lingkungan ini terkesan menimbulkan pertanyaan bahwa, di mana langkah pemerintah?.

53 Hari Kerja Winstar, Ada Perubahan?

SEJAK dilantik oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, pada 8 Juni 2016 lalu, bupati dan wakil bupati Banggai, Herwin Yatim dan Mustar Labolo (Winstar) terus bergerilya melakukan perubahan untuk daerah ini. Salah satunya, program kerja yang dikenal dengan nama 100 kerja Winstar. Dari sekian banyak program yang masuk dalam 100 hari kerja, yang paling menonjol adalah tentang disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN) dan kerbersihan.
Untuk disiplin ASN, memang sudah terjadi sedikit perubahan. Tapi itu hanya berlaku pada saat apel pagi dan sore saja. Atau saat apel pagi bersama di depan kantor bupati pada hari pertama masuk kerja (Senin). Masyarakat justru menilai disiplin pegawai sesudah apel pagi dan sebelum apel sore. Sebab, waktu seperti rentan dengan ASN yang bolos. Alasannya bermacam-macam, ada yang ijin makan siang dan salat Lohor. Anehnya, hingga jam istirahat usai, para ASN ini justru tidak kembali, nanti setelah memasuki waktu apel sore barulah mereka kembali.
Ironisnya lagi, kemalasan ASN akan terlihat ketika pimpinan instansi dimana mereka bertugas sementara melakukan perjalanan dinas ke luar daerah . inilah momen yang tepat bagi para ASN bermalas-malasan. Sementara itu, Satpol PP yang notabenennya merupakan penegak disiplin ASN justru terpaku dengan realita seperti ini. Padahal ada aturan baru yang digagas Winstar dalam meningkat disiplin ASN, salah satunya adalah, bagi ASN yang keluar pada waktu kerja harus mengantongi surat tugas. Nah, aturan ini yang belum ditegakan, sehingga ASN bebas mondar-mandir di keramaian kota.
Selain itu, program tentang  kebersihan. Winstar menganggas sebuah gerakan moral yang diberi nama Pinasa (Pia Na Sampah Ala) artinya, lihat sampah ambil. Program ini pada saat dilaunching pekan lalu, semangat menjaga kebersihan patut diacungi jempol. Salah satu objek untuk mensukseskan program Pinasa ini adalah teluk Lalong. Bahkan, bupati dengan tegas mengeluarkan kebijakan agar perairan teluk Lalong  harus steril dan sampah maupun perahu/kapal nelayan.
Namun kenyataannya, teluk Lalong tetap saja dijadikan sebagai tempat sampah. Ironisnya, tindakan tidak terpuji yang membuang sampah di teluk Lalong itu  justru dilakukan oleh instansi pemerintah. Padahal, merekalah yang seharusnya menjadi contoh untuk masyarakat.
Nah, dari 100 hari kerja, Winstar sudah menghabiskan 53 hari untuk mencapai janjinya kepada masyarakat. Hanya masyarakat yang bisa melihat dan merasakan wujud dari program andalan Winstar tersebut. Kalaupun belum ada perubahan, masih ada sisa waktu 47 hari lagi agar Winstar dapat merealisasikannnya.Semoga.(awi)

About uman