Home » Berita Utama » Nelayan Sesalkan Kebijakan Bupati
Nelayan Sesalkan Kebijakan Bupati
Perahu nelayan yang dilabuhkan di perairan teluk Lalong ditertibkan. Sejumlah pegawai DKP dibantu warga menaikan perahu di mobil pick up milik DKP Banggai, Jumat (29/7).

Nelayan Sesalkan Kebijakan Bupati

LUWUK-Pemerintah Kabupaten Banggai tidak main-main mensukseskan gerakan moral Pinasa (Pia Na Sampah Ala). Belum sepekan Bupati Banggai, Herwin Yatim, mengeluarkan instruksi agar perairan teluk Lalong dibersihkan dari sampah maupun perahu/kapal, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Banggai langsung bertindak dengan menempelkan surat pemberitahuan penertiban di perahu/kapal.
Namun upaya Herwin Yatim dan Mustar Labolo untuk membawa Luwuk menuju kota Adipura  disesalkan oleh para nelayan.
Mereka mengaku belum diberitahu soal rencana penertiban tersebut. Mereka baru mengetahui ada pemberitahuan yang ditempel di perahu mereka setelah ada penertiban.
“Kami kaget, kenapa perahu kami sudah diangkat. Tidak ada pemberitahuan sama sekali,” ujar seorang nelayan, Jumat (29/7).
Menurut dia, penertiban dilakukan dengan mendadak sehingga terkesan tak beretika dan mengabaikan nilai kemanusiaan. “Coba dibayangkan surat pemberitahuan kemarin (Kamis_red), hari ini (kemarin) sudah ditertibkan. Kami heran dengan cara seperti ini. Mungkin mereka (bupati dan wakil bupati_red) anggap kami orang kecil, jadi tidak perlu diberitahukan langsung kepada kami,” keluh pria berambut ikal ini.
Sementara itu, Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Luwuk Banggai, Abd Rahmad, menilai tindakan pemerintah mengecewakan hati nelayan karena dilakukan dengan pendekatan tidak tepat. Menurut dia, akan lebih beretika jika pemerintah memberikan waktu lebih kepada nelayan agar perahu mereka dipindahkan. “Jangan hari ini ditempeli surat pemberitauan, besok ditertibkan. Kalau nelayan tahu, tapi kalau tidak bagaimana, kasihan nelayan,” katanya.
Selama pemerintah mensosialisasikan kebijakannya, nelayan di teluk lalong tidak akan mungkin melawan, apalagi mereka hanyalah segelintir dari warga kota Luwuk.“Tidak mungkin nelayan melawan. Mereka itu wong cilik. Saya pikir bupati paham tentang konsep wong cilik. Jangan lukai hati mereka,” tegas mahasiswa semester IV ini. (awi)

About uman