Home » Berita Utama » Mulai dari Program Pendidikan Moral hingga Mengurangi Kesenjangan Sosial
Mulai dari Program Pendidikan Moral hingga Mengurangi Kesenjangan Sosial
KM Saviour merupakan armada kapal kontener yang masuk di Kabupaten Banggai Laut untuk mengangkut barang dari Kota Surabaya dan sebaliknya.

Mulai dari Program Pendidikan Moral hingga Mengurangi Kesenjangan Sosial

Kepala daerah pertama di Kabupaten Banggai Laut Wenny Bukamo harus mengawali dari nol. Mulai dari infrastruktur hingga sumber daya manusia. Apa rencana mantan perwira TNI-AU itu? Wenny mengulas secara gamblang kepada koran ini.

Laporan : Alisan,Luwuk Post

“Apa cita-cita kamu nak ?” Pertanyaan itu dilontarkan kepada anak-anak sebelum Wenny memberikan “parsel” saat Lebaran Rabu (6/7) lalu. Setelah menjawab pertanyaan orang nomor satu, itu barulah parsel diberikan. “Saya ingin mengajarkan kepada mereka sejak dini, bahwa mendapatkan uang itu mesti bekerja terlebih dahulu, harus sekolah baik baik,” kata Wenny saat berbincang dengan Direktur Luwuk Post, Herdiyanto Jusuf serta para wartawan Luwuk Post di café coffee jie, Sabtu malam (16/7).
Tradisi itu memang jauh sebelum jadi Bupati, Wenny telah melakukannya setiap lebaran. Parsel itu diberikan kepada anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu. Meski ajarannya itu sederhana tapi setidaknya akan tertanam di benak para penerus masa depan bangsa.
Langkah itu hanya sebagian kecil tugas Wenny. Di balik itu sederet pekerjaan rumah menatinya. Kesehatan misalnya. Wenny mengaku, pelayanan di sektor itu masih kerap dikeluhkan. Meski ongkos yang dikeluarkan untuk kesehatan cukup besar. Salah satunya upah para dokter. “Gaji para dokter itu Rp 35 juta per bulan,” katanya.
Di sana terdapat enam dokter yang ditugasi di RSUD Banggai. Sehingga apa yang dibutuhkan masyarakat ketika sakit, bisa mendapat jaminan perawatan. “Ini kedepan yang mesti dibenahi. Masyarakat harus mendapatkan pelayanan publik yang baik,” terangnya.
Di sektor kesehatan memang Wenny dengan tangan dinginnya bisa dibilang berhasil. Pantauan koran ini, setiap pedesaaan di wilayah tersebut sudah memiliki tenaga perawat. Masyarakat tidak harus ke rumah sakit lagi untuk berobat. Apalagi pada setiap ibu kota kecamatan telah terdapat pusat kesehatan masyarakat. Diisi dengan perawat yang berpengalaman. Contohnya di Kecamatan Banggai Utara.
Bagaimana dengan sektor pendidikan ? Itu juga akan menjadi prioritasnya sebagaimana yang diamanatkan aturan di negara ini. “Dua itu (kesehatan dan pendidikan-red) yang prioritas. Dan akan selalu menjadi prioritas kepala daerah,” katanya.
Langkah yang sudah dilakukan Wenny untuk pendidikan salah satunya dengan berupaya mendatangkan Guru Garis Depan (GGD), yang sejatinya program pemerintah pusat. “Kita dapat 36 GGD dari Kementerian Pendidikan dari beberapa disiplin ilmu. Mereka kita tempatkan di Pulau Labobo dan Bokan Kepulauan,” jelasnya. GGD itu berasal dari luar Kabupaten Banggai Laut. Mereka telah mengikuti seleksi yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan.
Dua sektor itu oke. Untuk infrastruktur, kata Wenny, Kabupaten Banggai Laut akan mendapatkan alokasi dana dari pemerintah pusat senilai Rp 30 miliar lebih. Itu untuk pembangunan jalan di Pulau Labobo, Bokan Kepulauan, dan Bangkurung. “Tahun ini dikucurkan melalui APBN Perubahan,” tuturnya.
Ya, pembangunan jalan itu bukan hanya menambah infrastruktur saja. Tetapi juga sekaligus mengurangi kesenjangan sosial antarmasyarakat pulau Banggai sebagai ibu kota kabupaten dan pulau-pulau kecil lainnya. “Jangan ada lagi masyarakat golongan pertama atau kedua. Semuanya sama. Sama-sama harus mendapatkan perhatian,” tegasnya.
Untuk Pulau Banggai, Wenny mengaku, akan membangun jalan bulan sabit yang menghubungkan Kelurahan Dodung dan Desa Tinakin Laut. “Kami akan bangun tanggul di pesisir banggai, tanggul bulan sabit, ini sementara dalam perencanaan dan saya memastikan tiga tahun bisa dituntaskan,” katanya.
Ambisinya untuk membangun Banggai Laut belum berhenti di situ. Setelah jalan lingkar tuntas, jaringan listrik di tiga pulau itu akan dibangun. Sebagai kelanjutan dari program pengurangan kesenjangan tadi. “Setelah listrik, pelabuhan kapal ferry untuk menghubungkan tiga pulau itu dengan Pulau Banggai,” pungkas Bupati hasil pilkada 2015 itu.
Apa lagi ? Bandar udara dan dermaga. Ya, pemerintah Kabupaten Banggai Laut juga akan membangun dua infrastruktur itu. Untuk bandar udara anggarannya dari Kemeneterian Perhubungan, Lokasinya di Desa Kendek, Kecamatan Banggai Utara. Begitu juga perpanjangan dermaga di Kecamatan Banggai Utara.
Infromasi yang dihimpun koran ini, dermaga di Desa Lokotoy, Kecamatan Banggai Utara akan diperpanjang 100 meter ke laut. Dermaga tersebut akan disinggahi kapal dari Kabupaten Banggai, Provinsi Maluku Utara, dan Sulawesi Tenggara. Sedangkan pelabuhan utama di Kota Banggai nantinya hanya akan digunakan untuk kapal pengangkut kontener dari Surabaya dan armada milik PT Pelni. Sekedar diketahui, Desa Lokotoy berjarak sekira 18 kilometer dari Kota Banggai. Desa Kendek 7 kilometer dari ibu kota kabupaten.
Bicara pelabuhan kontener, Wenny juga berhasil mencatatkan namanya sebagai Bupati yang mengoperasikan pelabuhan itu sejak dibangun beberapa tahun silam. “Sebelumnya memang saya sudah komunikasikan dengan pihak perusahaan kontener untuk masuk di Banggai Laut,” tuturnya.
Menurut Wenny, dengan adanya kapal kontener tersebut, harga barang bisa ditekan. Sebab, lebih efisien. “Baru sekarang ini harga semen di Banggai Laut itu Rp 65 ribu per sak. Sebelumnya sampai Rp 70 ribu. Kalau musim proyek seperti sekarang ini dulu bisa tembus Rp 100 ribu,” jelasnya.
Tak hanya itu, dengan adanya kapal kontener, tenaga kerja bongkar muat barang yang dulunya hanya mengharapkan pendapatan dari kapal PT Pelni yang berlabuh seminggu sekali, kini punya job tambahan. Ujung-ujungnya, dapur mereka mengepul terus.
Semoga Wenny Bukamo bersama wakil bupati Tuty Hamid bisa menjawab dan merealisasikan program-programnya. Masyarakat menanti kebijakan yang pro rakyat. Selamat bekerja pemimpin pilihan rakyat ! (*)

About uman