Home » Politik » Alasan ‘Gantung Sabuk’ di Politik
Alasan ‘Gantung Sabuk’ di Politik
Nasrun Hipan

Alasan ‘Gantung Sabuk’ di Politik

LUWUK– Dikalangan pengacara dan akademisi, nama Nasrun Hipan tidak asing di telinga mereka. Ya, karena Nasrun kini berprofesi sebagai advokat dan dosen pada Universitas Tompotika (Untika) Luwuk.
Sebelum melakoni dua profesi itu, Nasrun adalah sosok politisi. Dia pernah menjadi wakil rakyat di parlemen lalong, yakni periode 1999-2004 dan periode 2004-2006. Lantas mengapa Nasrun memilih ‘gantung sabuk’ dari dunia milik para politikus itu?
Ditemui di ruang pengacara kantor Pengadilan Negeri (PN) Luwuk, Rabu (13/7) kemarin, Nasrun memberi penjelasan atas alasan pilihan hidupnya itu. Menurutnya, melakoni dunia pengacara dan dosen lebih membuat fresh otak. Bahkan baginya, dalam pengembangan idealisme lebih tepat dilakukan diluar dunia politik.
Politik saat ini nilai Nasrun, lebih cenderung pada kepentingan person dan kelompok tertentu, dibanding idealisme. Malah lebih ironisnya lagi, politik sekarang ini lebih kental pragmatisnya.
Anggota DPRD adalah wakil rakyat dan keliru jika harus dikonotasikan sebagai wakil dari partai. Memang kata Nasrun, partai politik menjadi kendaraan untuk duduk sebagai legislator. Tapi setelah menjadi aleg, sudah menjadi wakil rakyat. Aleg tambah Nasrun digaji lewat uang rakyat, karena bicaranya. Bagi aleg yang tidak bicara, bukan hanya layak untuk tidak digaji, tapi sudah barang tentu oknum tersebut tidak bisa membawa aspirasi rakyat yang diwakilnya. “Aleg yang hanya diam di DPRD, bagi saya tidak aspiratif,” nilai Nasrun.
Wacana pemekaran daerah pemilihan (dapil) juga mendapat tanggapan Nasrun. Dia lebih cenderung mendukung ketika dapil II dimekarkan menjadi dua dapil. Estimasi Nasrun, untuk Kecamatan Nambo, Kintom, Batui dan Batui Selatan dibentuk satu dapil. Sedang dapil lainnya yakni Moilong, Toili dan Toili Barat. Alasan Nasrun logis, agar lahir refresentase perwakilan setiap kecamatan di DPRD Banggai. (yan)

About uman