Home » Berita Utama » Diresmikan Bersamaan, Digarap Ketua Pembangunan yang Sama
Diresmikan Bersamaan, Digarap Ketua Pembangunan yang Sama
Masjid An-nur (dari kiri) dan Muttahidah diresmikan oleh mantan Presiden Abdurahman Wahid secara simbolis di Kota Palu. Pembangunan kedua Masjid itu dipimpin Baharuddin Tjahjo (dari kanan).

Diresmikan Bersamaan, Digarap Ketua Pembangunan yang Sama

MASJID An-nur dan Muttahidah menjadi kebanggan umat islam di Kabupaten Banggai. Proses pembangunan rumah ibadah itu cukup panjang dan melelahkan. Aral yang melintang mewarnai pengorbanan mereka demi perubahan.

Laporan, Alisan/Luwuk Post

BRUKK….satu unit truk menumpahkan bebatuan di rawa-rawa itu. Dibuang begitu saja. Tak ada perencanaan apapun. Bebatuan itu diambil dari proyek pengembangan kantor daerah yang digarap salah satu kontraktor kondang di zaman itu.
Tiba-tiba datang seorang pria paro baya menghadap Bupati. Siang itu mereka duduk melantai. Menanyakan penimbunan. Pertemuannya cukup singkat. Pasca pertemuan, tiba-tiba lahan dengan luas sekira dua hektare itu dipagar keliling. Betapa terkejutnya masyarakat saat itu.
Tak lama berselang, lahan kembali ditimbun. Bahkan ada pejabat daerah yang meledek. “Din mau bangun kolam ikan di situ ya ?” tutur Baharuddin Tjahjo menirukan bahasa pejabat tersebut sambil mengingat memori pembangunan Masjid An-nur pada tahun 1980-an silam, Selasa (28/6).
Ya, Om Din-sapaan Baharuddin Tjahjo-salah satu penggerak sehingga Masjid An-nur berdiri kokoh hingga sekarang ini. Usianya genap 70 tahun. Di ruangan yang sederhana itu, Baharuddin bercerita panjang lebar. Dari awal Masjid An-nur digarap. Ingatannya begitu kuat meski telah berusia senja. “Pada waktu itu Bupati H.M Junus. Saya menghadap langsung setelah beliau dilantik,” sambung Om Din.
Om Din menayatakan kepada mantan Bupati Junus agar memperbaiki Masjid terlebih dahulu di awal pengabdiannya. Sang kepala daerah ke delapan di Kabupaten Banggai itu pun mengikuti saran tersebut. “Saya bilang Masjid kita dari Soho, Masjid Mutahiddah dan di Simpong sangat memprihatinkan,” katanya.
Akhirnya, mantan Bupati Junus menyetujui dengan memberikan tanah negara di Kawasan Teluk Lalong yang sudah ditimbun terlebih dahulu oleh kontraktor. “Setelah dipagar, ditimbun lagi, saya yang bayar semuanya,” tuturnya.
Setelah merogok koceknya, ternyata baru diketahui terdapat dana bantuan sosial dari pemerintah pusat senilai Rp 35 juta. Anggaran itu dikucurkan sebelum mantan Bupati Junus menjabat. “Uang itu ada di kas daerah,” jelas Bos PT Antariksa Karya Utama itu.
Dana sudah siap. Giliran membentuk panitia pembangunan. Om Din langsung dimandatkan memimpin proses pembangunan. Dia bergerak cepat memerintahkan salah seorang yang ahli menggambar bangunan untuk menghitung kebutuhan besi. “Kebutuhan besinya kurang lebih 40 ton. Harganya waktu itu belum Rp 1.000 per kilogram. Saya langsung pesan karena saya tahu ada uang di kas daerah,” paparnya.
Waktu itu, yang masuk dalam kepanitiaan, mantan Ketua DPRD Banggai, Basri Sono, Djar’un Sibay, almarhum Djafar Tongko, kemudian mantan Bupati Junus. “Rapat pertama, tagihan uang di kas daerah itu, ternyata tidak ada,” katanya.
Masjid belum beres, penegak hukum sudah mencium ke mana dana itu diselewengkan. Alhasil, mantan Bupati Malaga harus dikerangkeng di jeruji besi. “Inspektorat yang periksa waktu itu,” kenangnya.
Lahan, besi sudah siap. Tetapi terkendala anggaran. Om Din beserta anggotanya langsung memutar otak untuk mencari pembiayaan. Solusinya, mencetak kalender kemudian dijual kembali. Dengan perhitungan, total ongkos cetak Rp 10 juta. “Keuntungannya dihitung-hitung juga Rp 10 juta,” urai Om Din.
Hanya saja, ketika kalender tuntas, bukan untung malah buntung. Biaya distribusi dan ongkos para tenaga yang diutus untuk mencetak, menggerus keuntungan dan modal. “Padahal, itu yang kami harapkan,” tuturnya.
Meski begitu, Masjid An-nur terus dikerjakan. Mau tidak mau Om Din harus merogok koceknya kembali untuk membayar tukang pembangunan. “Akhirnya kita lelang, saya jadi juru lelang. Jadi, ada tiga pengusaha besar yang menyumbang,” terangnya.
Dalam proses lelang itu, masyarakat juga ikut menyumbang dengan mengambil jatah pondasi dari 1 hingga 5 meter. “Ini sifatnya suka rela. Saya juga tidak tunggu hasil lelang, setiap minggu bayar tukang,” katanya. Di tengah proses pengerjaan, dana dari donatur juga terus mengalir.
Tahun per tahun, progres pembangunan sudah sampai pada pengecoran lantai dua. Tetapi, tiba-tiba Om Din mundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Pembangunan Masjid An-nur. “Saya waktu itu dipanggil Bapak saya, dia menanyakan kapan pembangunannya selesai,” ungkap Om Din.
Dari perbincangan itulah, awal dari Om Din mengundurkan diri. Meski begitu, bukan berarti dia diam saja. Ternyata, Om Din ditugasi lagi memperbaiki Masjid Muttahidah sekaligus menjabat Ketua Pembanguan. “Bapak saya bilang Masjid itu atapnya sudah bocor-bocor,” ujarnya.
Kemudian, Om Din memilih mengecek langsung kondisi Masjid Muttahidah. Dan pada akhirnya membangun baru menjadi pilihan. Dimulailah pengerjaan hingga tuntas. Bahkan, penginapan pun ikut dibenahi. Sekolah juga dibangun.
Akhirnya, berkat kerja keras Om Din dan kawan-kawan, Masjid An-nur dan Muttahidah secara bersamaan diresmikan oleh mantan Presiden Abdurahman Wahid. “Diresmikan pada MTQ di Kota Palu, secara simbolis. Saya sudah tidak ingat lagi kapan waktu persisnya,” tutur pria yang kini masih terus aktif memimpin perusahaannya. (*)

About uman