Home » Metro Luwuk » Pemda Harus Ganti Kebiasaan Lama Nelayan
Pemda Harus Ganti Kebiasaan Lama Nelayan
Masyarakat menanti ketegasan polisi untuk membasmi pelaku bom ikan. Karena tindakan tersebut sangat merugikan para nelayan. Nampak, hasil tangkapan menggunakan bom di pelabuhan Pagimana. Gambar ini diambil pada Desember 2015 lalu.

Pemda Harus Ganti Kebiasaan Lama Nelayan

Aktifitas pemboman ikan oleh oknum tertentu di perairan kabupaten Banggai hingga kini masih terus berlangsung. Itu sudah terjadi sejak sekian tahun. Beberapa kali penindakan tak sampai memberi efek jera para pelaku.

Laporan: Asnawi Zikri, Luwuk Post

Terumbu karang yang indah, pulau kecil dengan pasir putih dan ikan berwarna warni terancam hilang dari perairan kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah kedepan.
Hal itu dikarenakan aktifitas pengeboman ikan yang dilakukan beberapa kelompok nelayan belum juga bisa dihentikan. Masyarakat pesisir pantai yang sudah sekian tahun hidup dengan cara mengebom ikan ternyata belum bisa move on dari aktifitasnya. Mencari hasil laut dengan cara yang mudah. Bom ikan masih menjadi tumpuan hidup.
Cara-cara tradisional mulai ditinggalkan, karena memancing membutuhkan waktu yang cukup lama. Nelayan harus membeli perlengkapan dan menunggu. Tetapi dengan bom, mereka merasa lebih cepat. Tinggal rakit dan lemparkan, maka ikan-ikan akan bertebaran. Pekerjaan yang sedikit memakan waktu mungkin hanya mengumpulkan ikan yang terapung, mati.
Sementara itu, beberapa nelayan yang masih menggunakan cara tradisional merasa mulai terkena dampaknya. Ikan yang biasanya banyak, saat ini mulai terasa hilang. Mereka harus menunggu lama untuk mendapatkan beberapa ekor ikan. Itupun hasilnya tak seberapa.
Para nelayan tradisional meyakini, semua itu diakibatkan aktivitas penangkapan menggunakan bom. Seperti yang terjadi di wilayah Pagimana dan sekitarnya. “Di wilayah kami (Pagimana_red) sering ada bom ikan. Memang sudah ada tindakan dari kepolisian. Tapi, masih saja terjadi,” kata seorang nelayan yang namanya enggan dikorankan, Jumat (17/6).
Ia menyatakan, warga sekitar juga sudah merasa resah dengan aktivitas tersebut. Sehingganya, butuh tindakan tegas kepolisian. “Kalau pelakunya ditangkap, harus ditindak sesuai hukum yang berlaku. supaya ada efek jera,” tegasnya.
Terlepas dari aturan yang telah ditetapkan terkait larangan terhadap nelayan yang menangkap ikan menggunakan bom, hal itu tidak dihiraukan sama sekali oleh beberapa nelayan. “Sebenarnya kami takut juga menangkap ikan menggunakan bom. Namun, hal ini sudah menjadi pilihan kami. Sekarang, coba lihat ekonomi nelayan yang sampai saat ini masih menggunakan jala, pendapatan mereka boleh dikatakan sedikit. Belum lagi modal yang dikeluarkan mereka untuk membeli jala atau memperbaiki jala yang  rusak, jelas modalnya tidak sedikit. Dengan menggunakan bom, kami tidak harus mengeluarkan modal yang terlalu banyak. Cukup  modal 20 ribu untuk membuat bom, hasilnya bisa mencapai 40 sampai 50 kilo ikan karang sekali melaut,” kata salah satu nelayan pelaku bom ikan yang sempat diwawancarai Luwuk Post, akhir tahun 2015 lalu.
Selain itu, jenis ikan yang ditangkap menggunakan bom berbeda dengan jenis ikan dengan menggunakan jala. Ikan yang ditangkap menggunakan bom rata-rata adalah ikan karang dan boleh dikatakan ikan-ikan tersebut adalah ikan kelas.
“Kalau jenis ikan yang ditangkap menggunakan jala, kebanyakan hanya ikan-ikan malalugis dan deho saja. jadi, kalau harga ikan jala dan ikan bom disandingkan, jelas masyarakat akan lebih memilih ikan bom,” jelasnya.
Sementara itu, beberapa waktu yang lalu, Akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk, Tasrudin, menyatakan, masih sering terjadinya pemboman ikan, bukan hanya kesalahan kepolisian dalam hal penegakan hukum. Melainkan, kelemahan Pemda. Sebab, menurutnya, Pemda tidak menyediakan substitusi perikanan yang bisa mendorong masyarakat pesisir untuk mengalihkan profesi.
“Kalau Pemda berniat membasmi pemboman ikan, maka harus ada bantuan untuk menggantikan profesi yang dilarang tersebut. Kalau tidak, tindakan itu terus dilakukan,” ujarnya.
Selain itu, kurangnya sosialisasi serta pembinaan kepada kelompok nelayan juga menjadi salah satu faktor para pelaku pengebom ikan tetap merasa nyaman dengan aktifitasnya. Alhasil, nelayan justru ‘potong kompas’ untuk menghasilkan ikan. “Saya sering mengamati wilayah Batui hingga Toili. Nelayan disana terkesan dimarjinalkan. Maka, wajar saja, jika nelayan menangkap ikan dengan cara instan seperti bom,” tuturnya.
Tasrudin menyatakan, bom ikan sangat berdampak buruk pada lingkungan perairan laut dan individu. Olehnya itu, penegakan aturan harus konsisten dan komitmen. “Pemda dan aparat penegak hukum harus memberikan efek jera kepada pelaku. Caranya harus konsisten dan komitmen dalam menegakan aturan,” tegasnya.
Memang tidak mudah meyakinkan para nelayan bahwa cara yang digunakan sangat merugikan. Karena selain merusak terumbu karang, biota laut dan bibit ikan, penangkapan dengan bom juga membahayakan mereka. Tidak sedikit nelayan yang tewas karena terkena ledakan bom yang dilemparnya. Tapi, ternyata itu belum memberi pelajaran bagi para pelakunya. Semoga kedepan ada upaya dari pemerintah daerah bekerjasama dengan aparat kepolisian untuk menuntaskan persoalan ini.(*)

About uman