Home » Politik » Termurah se-Sulteng
Termurah se-Sulteng
Komisi 3 DPRD Banggai saat membahas tarif air bersih PDAM Luwuk bersama Badan Pengawas PDAM, Asisten 2 Setda Banggai, Bagian Ekonomi dan Bagian Hukum Setda Banggai, Kamis (16/6).

Termurah se-Sulteng

LUWUK-Tarif air bersih yang dijual Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Luwuk ternyata adalah tarif termurah se Sulawesi Tengah. Itu diungkapkan Direktur PDAM, Surianto Salote dalam rapat pembahasan kenaikan tarif air bersih bersama Komisi 3 DPRD Banggai, Kamis (16/6). Rapat yang turut dihadiri Badan Pengawas PDAM, Asisten 2 dan Bagian Hukum Setda Banggai serta Bagian Ekonomi Setda Banggai yang dipimpin langsung Ketua Komisi 3, Saripudin Tjatjo itu dimulai dengan pemaparan rencana kenaikan struktur tarif baru air bersih.
Dalam pemaparannya, Surianto Salote menjelaskan bahwa sejak tahun 2007 silam, PDAM Luwuk masih menggunakan harga Rp900; per kubik air bersih ke pelanggan. Padahal, beberapa daerah seperti Banggai Kepulauan, Banggai Laut dan Tojo Una-una sudah memberlakukan tarif Rp2000; per kubiknya. Demikian pula dengan kabupaten Donggala dengan harga Rp2500; kemudian kabupaten Poso dengan harga Rp3000; perkubik. “Jadi harga air bersih kita (kabupaten Banggai,red) adalah harga termurah se Sulawesi Tengah. Kabupaten Banggai Kepulauan dan Banggai Laut yang merupakan pecahan dari kabupaten Banggai saja sudah dua ribu rupiah, kita masih tetap sembilan ratus rupiah. Saya kira ini sudah harus dipertimbangkan,” kata Surianto, dihadapan sejumlah anggota Komisi 3 dan perwakilan Pemda Banggai.
Ia juga menjelaskan dengan rencana struktur tarif air bersih yang baru, keuntungan PDAM bisa diperoleh meskipun kenaikannya hanya Rp800; meskipun begitu, struktur yang diajukan menurutnya belum final. Karena usulan itu masih akan dipelajari Komisi 3 DPRD Banggai, hingga kemudian disetujui untuk menaikkan tarif. “Sementara usulan kita dari Rp900 naik menjadi Rp1.800, tapi itu baru rencana yang diajukan. Nanti bisa saja berubah sesuai kesepakatan pemerintah daerah dan DPRD berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tentunya,” terang Surianto lagi.
Surianto sangat optimistis jika perubahan tarif diberlakukan maka pihaknya bisa berbenah dan meningkatkan pelayanan. Sebab, kondisi PDAM saat ini menurutnya sangat membutuhkan suntikan dana segar. Karena kerusakan jaringan air bersih sudah sangat parah. Sehingga, suplai air yang sejatinya bisa menjangkau daerah terjauh, tidak terjadi. Karena banyaknya kebocoran pipa, sehingga air yang mengalir sudah banyak terbuang percuma. Oleh karena itu, perbaikan perlu dilakukan tapi melihat kondisi PDAM saat ini sangat sulit terlaksana tanpa adanya tambahan modal. Dengan kenaikan tarif, dimungkinkan menambah pendapatan PDAM, sambil menunggu suntikan dana dari pemerintah daerah. “Dengan naiknya tarif maka bisa meningkatkan pendapatan. Dengan meningkatnya pendapatan maka casplow kita bisa mendanai perbaikan kebocoran pipa dan penggantian water meter yang rusak. Kalau itu teratasi maka wilayah pelayanan bisa lebih baik,” pungkasnya.
Saripudin Tjatjo, ketua Komisi 3 yang memimpin rapat saat itu sudah menyepakati untuk membahas kenaikan tarif itu. Sebelumnya, rapat diagendakan untuk membahas tarif air bersih, namun secara parsial saja. Fokusnya, tarif yang akan dibahas hanya dari golongan industri. Namun, setelah mendapatkan masukan dari Sekretaris Badan Pengawas PDAM Luwuk, Sutanto Hambali, bahwa dalam mekanisme yang ada tidak boleh dilakukan perubahan secara parsial maka hal itu kemudian berubah. Pembahasan tarif akan dilakukan secara menyeluruh, namun komisi 3 masih akan mempelajari draf rencana kenaikan tarif yang dipaparkan direktur PDAM. Selain tarif, ada dua agenda lain yang juga akan dibahas, yakni pembenahan organisasi dan penyertaan modal sebagai dukungan untuk menghindarkan perusahaan pelat merah itu dari kebangkrutan. Pasalnya, dari beberapa audit menyatakan PDAM sudah diambang kolaps. Itu dikuatkan lagi dengan hasil penelitian Badan Pengawas dimana devisit modal PDAM terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika terus dibiarkan, maka perusahaan ini bisa bangkrut dan tutup.
Kepala Bagian Hukum Setda Banggai, Mujiono mengungkapkan dalam persoalan itu yang pertama harus dilakukan adalah dari sisi kelembagaannya. Karena peraturan daerah yang digunakan sebagai dasar tarif air bersih sudah sangat tertinggal. “Berkaitan dengan kenaikan tarif maka harus memperhatikan soal pelayanan. Sehingga kenaikan tarif berbanding lurus dengan pelayanan, jadi sebaiknya perbaiki pelayanan dulu. Baru kemudian perbaiki tarif,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Badan Pengawas PDAM, Herdiyanto Yusuf, mengungkapkan sebelum menghadiri undangan Komsi 3 DPRD Banggai, pihaknya sudah membahas soal tarif air bersih bersama direktur PDAM. Ia mengakui saat ini bargaining position PDAM sangat lemah di masyarakat. Oleh karena itu perbaikan pelayanan perlu dilakukan. Namun, mengingat kondisi PDAM kini yang terus mengalami devisit, sangat tidak mungkin PDAM memberikan pelayanan baik. Apalagi pelayanan prima. Ia mengungkapkan untuk  jangka panjang PDAM tetap butuh suntikan modal, sebab diketahui bersama jaringan saat ini banyak yang bocor. “Sehingga yang seharusnya jadi duit terbuang. Kalau sekarang dibahas penyesuaian tarif kita sangat bersyukur. Sebagai perusahaan tentunya kita mengharapkan kenaikan tarif yang baik. Semakin besar semakin bagus, tapi tentunya ada pertimbangan-pertimbangan lain atas kondisi masyarakat,” tuturnya.(van)

About uman