Home » Berita Utama » Munira: Terimakasih BPJS Kesehatan
Munira: Terimakasih BPJS Kesehatan
Munira Hi. Abdul Halim Yusuf (jilbab hitam), didampingi Staf Hukum Komunikasi Publik dan Kepatuhan, BPJS Kesehatan Cabang Luwuk, Burhanudin, bersama rekannya di tempat tinggalnya di kelurahan Kompo Jumat (3/6).

Munira: Terimakasih BPJS Kesehatan

LUWUK-Kehadiran Program Jaminan Kesehatan (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan, dirasakan sangat membantu.
Seperti yang dialami Munira Hi. Abdul Halim Yusuf, warga yang sekarang ini menetap di kota Luwuk menceritakan kisah saat itu tengah mengobati suaminya, (Alm) Slamet Riyadi- pemegang kartu Askes sebelum diintegrasi ke BPJS Kesehatan-yang menderita penyakit tumor ganas. “Sesuai hasil pemeriksaan letak tumor ganasnya di dalam perut tapi diluar usus,” ungkapnya mengenang kejadian di pertengahan tahun 2014 itu, Jumat (3/6).
Ingin penyakit suaminya segera sembuh, berdasarkan rujukan dari dokter yang merawat suaminya di Rumah Sakit Umum di Palu ke rumah sakit Wahidin Makassar. “Dokter di Rumah Sakit Wahidin Makassar berpesan agar kartu BPJS Kesehatannya dimanfaatkan sebaik mungkin, karena kalau tidak, akan menelan banyak biaya hingga bisa menjual rumah dengan harta yang lainnya,” terangnya.
Dari Rumah sakit Wahidin pasien dirujuk ke Rumah Sakit Sardjito di Jogjakarta. Selanjutnya, setelah antri seperti dirumah sakit pada umumnya, suaminya pun menjalani perawatan dengan menggunakan Askes. “Sesuai status kartu hak perawatan suami saya adalah kelas 1, namun saya minta agar suami saya bisa dirawat di ruang vip dan petugas rumah sakit bilang ada sedikit tambahan biaya apabila dirawat di ruangan VIP,” terangnya.
Perawatan pun terus berjalan hingga dilakukan operasi, berpikir biaya yang harus dikeluarkan tidaklah sedikit, Munira pun sudah menyiapkan uang ratusan juta untuk berjaga-jaga, namun betapa kagetnya ketika sudah sebulan lebih dirawat, biayanya hanya Rp 600 ribu. “Pertama saya kira 6 juta, saya pun beritahu sama anak saya di Palu, dia juga kaget karena biayanya jauh dari yang dibayangkan, padahal saya cek lagi cuma Rp 600 ribu untuk membayar selisih harga kamar di VIP disitu saya menangis terharu,” ungkapnya.
Wanita berjilbab ini mengaku, sebelumnya sempat berpikiran akan menjual tanah dan hartanya jika biaya berobat terlalu mahal, namun semuanya bisa teratasi dengan menggunakan BPJS Kesehatan. “Saya sangat berterima kasih kepada BPJS Kesehatan, saya akui tidak ada harta saya yang terjual selama suami saya berobat,” ungkapnya.
Setelah menjalani operasi dan akan kembali ke Palu, Munira pun diminta oleh dokter untuk terapi menggunakan obat. “Saya tanya ke dokter berapa lagi biaya obatnya, katanya sebulan saja sudah bisa menghabiskan 40 juta, sedangkan minimal dikonsumsi 2 bulan jadi total 80 juta, tapi berkat BPJS Kesehatan tidak bayar sama sekali,” akunya.
Olehnya saat pulang ke kediamannya di Palu, langkah pertama yang Ia lakukan ialah meminta kepada anak dan juga keluarganya untuk menggunakan jasa BPJS Kesehatan. “Karena kalau mau hitung dalam satu tahun biaya berobat suami saya itu sekira ratusan juta, teman saya yang kanker payudara juga saya bilang beobat saja pake BPJS Kesehatan, pertama dia tidak akui, tapi setelah pulang dari berobat teman saya menangis karena tidak ada biaya yang keluar,” ungkapnya.
Tak banyak kata yang bisa Ia ungkapkan selain mengucapkan terima kasih kepada BPJS Kesehatan dan juga masyarakat yang telah gotong royong menggunakan dan rutin membayar iuran BPJS Kesehatan disetiap bulannya. “Kalau tidak ada BPJS Kesehatan mungkin saya sekarang tidak punya rumah, sebelum meninggal suami saya saja mengungkapkan seandainya tidak ada BPJS Kesehatan mungkin tidak ada warisan yang ia tinggalkan,” pungkasnya. (Ajy)

About uman