Home » Berita Utama » Graha Dongkalan untuk Mengangkat Sejarah Luwuk
Graha Dongkalan untuk Mengangkat Sejarah Luwuk
Bupati Banggai M Sofhian Mile, menjelaskan alasan Gedung Dharma Wanita Luwuk menjadi Graha Dongkalan, pada peresmian Graha Dongkalan, Rabu (25/5). Turut hadir dalam peresmian Wakil Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar, Kajari Luwuk Simurung P Simaremare, Kapolres Banggai Jamaludin Farti, Kasdim 1308, Sekkab Banggai Sahrial Labelo, Pimpinan dan Anggota DPRD Banggai, sejumlah pimpinan bank, kepala SKPD dan anggota PKK.

Graha Dongkalan untuk Mengangkat Sejarah Luwuk

LUWUK-Bupati Banggai, Sofhian Mile, menegaskan, penamaan gedung Dharma Wanita Luwuk menjadi Graha Dongkalan untuk mengangkat kembali sejarah Luwuk. Pemberian nama Dongkalan pada gedung itu tidak didasarkan pada tendensi sektarian.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Bupati Banggai, Sofhian Mile, saat meresmikan gedung Graha Dongkalan, Rabu (25/5).  Penamaan Graha Dongkalan untuk gedung wanita yang baru dibangun kembali memang mengundang perdebatan. Pemberian nama Graha Dongkalan dianggap mengabaikan keberagaman masyarakat Kabupaten Banggai. Seakan merespons hal itu, Bupati Banggai, dalam sambutannya menjelaskan tentang pergantian nama gedung itu.
Dongkalan adalah sebutan untuk cikal bakal lahirnya Luwuk. Dongkalan adalah nama pohon yang tumbuh di tepi laut di sekitar teluk lalong, sebuah lokasi yang dihuni oleh beberapa warga luwuk di waktu silam. Satu pohon dongkalan itu menjadi tempat bagi para nelayan dari pulau Banggai untuk mengikat tali perahu yang dilabuhkan di sekitar teluk lalong.
Meski belum terpetakan melalui wilayah administrasi, namun wilayah dongkalan dikenal dari lokasi pelabuhan lama hingga tugu adipura.“Itulah batas wilayah dongkalan,” ujarnya. Beberapa warga bermukim di wilayah itu, terutama di lokasi sekitar Toko Maju saat ini. “Setelah tahun 1970-an barulah berkembang beberapa kelurahan, Soho, Jole dan lain lainnya,” tuturnya.
Bupati menegaskan, penamaan Graha Dongkalan bukan untuk membangkitkan sektariasme, atau mengkotak kotakkan masyarakat Luwuk ataupun tidak menerima kehadiran orang lain. “ Tidak demikian. Penamaan graha dongkalan semata mata untuk mengangkat kembali sejarah Luwuk.  Karena Luwuk itu adalah Dongkalan. Dongkalan itu adalah Luwuk,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bambang Eka Sutedi, menjelaskan perubahan nama gedung Dharma Wanita Luwuk menjadi Graha Dongkalan mengacu Surat Keputusan Bupati Banggai.
Ia menjelaskan, pembangunan kembali gedung itu karena gedung lama sudah sangat tidak layak. Sejak didesain oleh Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Banggai, pembangunan konstruksi gedung tahap pertama dimulai tahun 2014. Setahun kemudian, pembangunan konstruksi gedung tahap dua dilanjutkan Dinas Pekerjaan Umum menyusul adanya perubahan struktur organisasi di lingkungan Pemda Banggai. Ia mengatakan, untuk pekerjaan landscape tahun 2016 ini tetap menjadi kewenangan Dinas Perumahan Tata Kota dan Tata Ruang. “Semoga pembangunan gedung ini bisa selesai tepat waktu sehingga bisa segera digunakan oleh masyarakat Kabupaten Banggai,” tuturnya. (ris)

About uman