Home » Ekonomi » Disperindag Dinilai Gagal Kontrol Harga Gula
Disperindag Dinilai Gagal  Kontrol Harga Gula
Jurtan Latuba

Disperindag Dinilai Gagal Kontrol Harga Gula

LUWUK – Kinerja Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Banggai kembali disorot. Instansi itu dinilai gagal menjaga harga gula di pasaran menjelang Ramadan. Padahal, kondisi itu sudah terjadi sejak dua tahun terakhir ini.
Pada tahun 2015 misalnya, menjelang Ramadan harga gula dari Rp 595 ribu naik menjadi Rp 600 ribu, kemudian 18 April dari Rp 600 ribu menjadi Rp 613 ribu, dan melambung mencapai Rp 660 ribu. Untuk tahuun ini, hanya dalam jangka waktu sebulan, harga gula dari Rp 600 ribu per zak menembus Rp 800 ribu per zak.
“Atas penyampaian dari Bupati seharusnya ditindak lanjuti Dinas Perdagangan. Setiap hari-hari besar harga sembako juga ikut naik. Para meternya dari mana ?” ujar Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Dedi Kobaa, kemarin (23/5).
Menurut Dedi,  Dinas Perindustrian dan Perdagangan seharusnya melakukan pengawasan secara berkala jauh sebelum Ramadan tiba. Sehingga alasan kenaikan gula sudah terjadi dari produsen itu sangat tidak tepat. “Perdagangan itu harus benar-benar turun mengawasi,” katanya.
Hanya saja, melihat fakta kenaikan gula yang sudah terjadi beberapa tahun terkahir ini, Dedi tidak berspekulasi soal adanya pihak-pihak yang coba bermain dalam persoalan gula. Namun, Dedi mengingatkan, menaikan harga barang secara sepihak saja bisa dikenai hukuman pidana sebagai mana yang diatur dalam regulasi. “Ketika menaikan harga barang dengan alasan tidak jelas, hukumannya diatur dalam KUHP,” tandasnya.
Secara terpisah, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhamadiyah Luwuk (UML), Jurtan Latuba menilai, kenaikan harga gula sudah wajar. Sebab, masyarakat sangat membutuhkan bahan pokok tersebut dari awal Ramadan hingga lebaran. “Ketika permintaan meningkat otomatis harga akan naik,” katanya.
Namun, kata Jurtan, pemerintah sebagai pemegang kebijakan harus bisa mengontrol kenaikan harga gula agar tidak mencekik masyarakat. “Berkaitan dengan harga tidak lepas dari kontrol pemerintah. Dinas Perdagangan harus memantau keadaan pasar,” tegasnya.
Jurtan menyangsikan mengenai alasan Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang menyebut harga gula  dinaikan produsen bukan distributor. “Karena stok kurang, permintaan meningkat mereka (distributor) naikan harga. Bukan dari pabrik,” jelasnya.
Untuk operasi pasar, menurut Jurtan, tetap akan memengaruhi harga gula. Asalkan dilakukan secara intensif. “Pasti akan turun karena stok sudah banyak,” tuturnya. (ali)

About uman