Home » Berita Utama » Dalam Suasana Apapun, Luangkan Waktu untuk Menulis
Dalam Suasana Apapun, Luangkan Waktu untuk Menulis
Bupati Banggai Sofhian Mile saat menulis untuk rubrikasi Renungan Jumat di Luwuk Post, di salah satu restoran di Surabaya, Rabu (4/5).

Dalam Suasana Apapun, Luangkan Waktu untuk Menulis

Langit telah berubah saga, menandakan malam sudah hampir tiba menutup sore. Iring-iringan lima mobil mendadak berhenti di ruas jalan yang cukup ramai. Dari kaca jendela mobil di sisi kiri, saya melihat bangunan sekolah. Gapuranya sangat mencolok. Melengkung serupa bulan sabit.

Laporan : Haris Ladici, Luwuk Post

Dari tulisan di gapura, saya tahu ternyata bangunan itu adalah sekolah terkenal. Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Ketika kendaraan menepi, saya turut turun dan menengok ke halaman sekolah.  Ternyata rombongan Bupati Sofhian Mile, yang saya ikuti akan salat Magrib di masjid di dalam kompleks pondok pesantren itu.
Dari salah seorang stafnya, saya tahu sejak menuju Kota Kediri, Sofhian Mile sangat ingin mampir salat di masjid pondok pesantren dengan ribuan santri itu. Tapi, baru bisa dilaksanakan sepulangnya dari Kota Kediri.
Setelah selesai menunaikan salat Magrib, Sofhian Mile lalu berdialog dengan ta’mir masjid serta berziarah ke makam tokoh-tokoh nasional yang dimakamkan di Kompleks Pesantren Tebuireng.  Makam K.H. Hasyim Asy’ari serta makam presiden keempat RI, Alm. K.H. Abdurrahman Wahid.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Surabaya. Dari Jombang, butuh sekira 2,5 jam untuk sampai di ibukota Provinsi Jawa Timur itu. Saat hendak memasuki Kota Surabaya, kami mampir di sebuah restoran.  Namanya; Dapur Desa.  Restoran itu cukup dikenal sehingga banyak dikunjungi orang-orang ternama di Indonesia.
Sambil menunggu makanan dihidangkan, saya duduk menjauh. Untuk waktu sekira 30 menit, diskusi antara Sofhian Mile dan orang-orang yang mengelilinginya berkisar soal perbuatan riya dan narsisme. Tapi, tak berselang lama, staf bupati memberi tahu bahwa Sofhian Mile akan menulis untuk renungan Jumat yang hampir dua tahun terakhir selalu terbit pada hari Jumat. Menghiasi halaman depan Luwuk Post. “Sekarang? Astaga tidak menunggu sampai di hotel?” kata saya kepada salah seorang di antara rombongan. “Tidak, sekarang,” jawabnya.
Karena penasaran, saya pun bergegas mendekat, hingga antara saya dan Sofhian Mile hanya dipisahkan oleh staf Pemda yang mengetik tulisan yang hendak dibuat. “Pesan bijak,” kata Sofhian Mile, memberi tahu judul tulisannya. Saya membayangkan, isi tulisan tak akan jauh dari riya dan narsisme, topik yang saya dengar di diskusi itu.
Lalu, kata demi kata, kalimat demi kalimat pun mengalir dan disalin menjadi sebuah tubuh tulisan.  Meskipun baru saja menjalani perjalanan cukup jauh dan melelahkan, terjebak dalam kemacetan arus lalu lintas. Tapi, Sofhian Mile, mampu mendeskripsikan kembali suasana pondok Pesantran Tebuireng, yang menjadi objek tulisannya.
Bahkan, tulisannya, dimulai dari seorang ibu pemilik warung yang menyajikan kopi sebelum kami masuk pondok pesantren dan salat Magrib. Runut dan detail.  Nyaris tak ada satupun yang terlewatkan.
Objek yang terlihat sederhana dituliskannya menjadi pesan moral. Hal yang terlihat kecil dikabarkan agar yang besar tak dilupakan. Hal yang sepele, yang memang tak semua tertangkap mata rombongan yang menyertainya.
Tulisan itu kemudian berakhir pada kalimat yang dikutip dari Hadratus Syeikh, K.H.Hasyim Asy’ari, yang terpampang pada sudut salah satu bangunan makam di Kompleks Pesantren Tebuireng.
Salah seorang ajudan Sofhian Mile, mengakui mantan politisi di Parlemen Senayan itu memang meluangkan waktu satu dua jam membuat tulisan renungan Jumat. Kadang, tulisan selesai dibuat pada Rabu malam. Tapi, acapkali dua jam menjelang deadline halaman terakhir Luwuk Post pada setiap terbitan Jumat.
Tulisan untuk rubrikasi Renungan Jumat yang dikirimkan Sofhian Mile ditulis dari lokasi manapun.  Kadang dari desa, kadang dari kota. Kadang dari rumah jabatan, rumah pribadinya, kadang dari hotel tempat dia menginap jika di luar daerah.
Kadang, bahkan ditulis pada aplikasi notepad handphone ketika menjelang deadline dia masih dalam satu perjalanan. “Pernah tulisan yang bapak minta kirimkan ke redaksi itu diketik di handphone, dari dalam mobil, karena kami sementara dalam perjalanan,” kata Afrianto Pamolango, ajudannya. Mempunyai talenta menulis sejak umur 20 tahun, Sofhian Mile sepertinya, juga tahu, menulis adalah bekerja untuk keabadian.  (*)

About uman