Home » Berita Utama » Blokade Jalan Jangan Jadi Budaya
Blokade Jalan Jangan Jadi Budaya
Sejumlah kendaraan tertahan saat melintas di jalan utama kelurahan Tanjung Tuwis Kamis (19/5), karena terhalang sebuah pos jaga yang dipasang sejumlah sopir. Aksi ini sebagai bentuk kekesalan karena warga Nambo dan Kintom yang menghampat aktifitas para sopir. Nampak juga aksi bakar ban di salah satu jalan Kecamatan Nambo.

Blokade Jalan Jangan Jadi Budaya

LUWUK-Setelah lumpuh total seharian, arus lalu lintas Luwuk menuju Batui, Kamis (19/5) kembali normal. Aksi blokade jalan yang dilakukan warga kecamatan Kintom dan Kecamatan Nambo akhirnya dibuka. Mereka bersepakat untuk menahan diri menunggu penyelesaian masalah yang tengah ditangani polisi.
Dandim 1308/LB, Letkol Inf Sapto Irianto S.Ip mengungkapkan blokade jalan sudah ditertibkan. Sesuai kesepakatan bersama dalam pertemuan yang dihadiri sejumlah pihak termasuk Dandim dan Kapolres Banggai AKBP Jamaluddin Farti, warga sepakat tidak lagi melakukan blokade jalan. Mereka menunggu proses hukum atas penganiayaan kades Lumbe, kecamatan Nambo, yang kini ditangani polisi. “Sudah aman terkendali. Semua sepakat menahan diri dan percayakan kepada aparat untuk proses hukum pelaku. Tidak ada lagi penutupan jalan,” pungkasnya, usai pertemuan.
Ia juga mengimbau agar masyarakat tidak menjadikan blokade jalan sebagai budaya. Sebab, blokade jalan merugikan warga lainnya. Selain itu, bisa memancing reaksi yang sama dari masyarakat yang dirugikan. “Kemarin pagi (Rabu, 18/5) saya masih di Jakarta sudah banyak yang telepon. Mereka komplain atas penutupan jalan itu. Saya datang, malamnya langsung ke lokasi dan melakukan mediasi dengan warga,” kata Sapto.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Koyoan, Roi Iskandar mengatakan, blokade terpaksa dilakukan warga kecamatan Nambo. Sebab, warga kesal atas aksi warga Kecamatan Kintom yang juga melakukan blokade, hingga menghalangi niat sejumlah warga Nambo untuk bekerja. “Mereka (warga Kintom) menahan dan memeriksa KTP warga yang lewat, kalau diketahui beralamat di kecamatan Nambo mereka suruh pulang,” tuturnya.
Tak hanya itu, ada beberapa warga Nambo juga yang mendapat perlakuan kasar, hingga membuat warga Nambo lainnya kesal dan ikut melakukan pemalangan (blokade,red) jalan. “Mungkin ini (yang dilakukan warga Kintom) rentetan dari pemukulan Kades Lumbe kemarin,” tambahnya.
Untung saja aksi tersebut tidak berlangsung lama, setelah Kapolres Banggai Jamaludin Farti bersama Dandim 1308 LB Sapto Irianto mengerahkan personilnya untuk membubarkan dan membersihkan plang yang digunakan untuk menutup jalan. “Saya mengharapkan, setiap permasalahan yang dihadapi difikirkan dengan bijak. Jangan hanya karena ada masalah kelompok ataupun masalah pribadi lantas mengganggu warga lainnya,” tutur Sapto dalam pertemuan.
Ia pun meminta kedepan tidak ada lagi aksi pemalangan seperti ini, serta berharap apapun permasalahan, untuk bisa berfikir bijak, tidak sepihak dan mempercayakan kepada aparat maupun pemerintah. “Tolong percaya kepada kami. Tata caranya seperti apa, jangan semua di selesaikan rame-rame. Kalau bisa carilah waktu dan undang camat kades, tokoh pemuda dan tokoh agama untuk menyelesaikan,” harapnya.
Kapolres Jamaludin Farti juga meminta warga agar tidak berfikir sektoral atau sempit, tetapi sebaiknya bersama-sama berkumpul dan membuat kesepakatan. “Kalau ada persoalan pribadi bawa ke ranah hukum, tapi jangan bawa yang lain-lain, hanya karena oknum satu dua, akhirnya terbawa yang lain, nanti semua ikut-ikutan,” terangnya.
Karena aksi blokade jalan di kecamatan Kintom dan Nambo, sopir Angdes yang kerap mangkal di terminal Kilometer 8 dari kecamatan Batui dan Toili kesal. Tak bisa pulang karena terhalang, mereka pun ikut melakukan pemalangan jalan di depan terminal. “Pemalangan itu murni dari sopir, tidak ada satu pun dari warga kelurahan Tanjung Tuwis,” terang Lurah Tanjung Tuwis Baharuddin. (ajy)

About uman