Home » Berita Utama » Penyidik Tetapkan Tersangka Baru
Penyidik Tetapkan Tersangka Baru
Thoriq Mulahela

Penyidik Tetapkan Tersangka Baru

“Udah itu saja dulu ya. Kalau bocoran dikit, dari beberapa tersangka ini ada yang berasal dari instansi yang mengelola proyek itu,” (Thoriq Mulahela)

LUWUK– Klaim Kepala Cabang Kejaksaan Negeri (Cabjari) Luwuk di Pagimana, Thoriq Mulahela SH bahwa tersangka dugaan korupsi normalisasi Sungai Lobu lebih dari satu bukan isapan jempol belaka. Setelah melakukan rapat tertutup dengan sejumlah penyidiknya, Rabu, (11/5), Thoriq kembali mengumumkan adanya sejumlah tersangka baru, menyusul Hein Mopantaw alias Ko Hein yang telah dititipkan di Lapas Kelas IIB Luwuk. “Setelah memertimbangkan hasil pemeriksaan dalam penyidikan, kami menyimpulkan sejumlah orang ini terlibat dan sudah kita tetapkan sebagai tersangka,” kata Thoriq dihadapan awak media.
Penetapan tersangka kali ini berbeda dengan penetapan tersangka pada Ko Hein, dimana pelaksana proyek itu langsung ditahan dan dititipkan ke Lapas Kelas IIB Luwuk. Namun, untuk tersangka baru, Thoriq hanya menjelaskan bahwa telah ditetapkan tersangka tambahan tanpa menyebut nama dan inisial, bahkan jumlahnya pun masih dirahasiakan. “Namanya nanti saja, yang pasti hari ini kita sudah tetapkan beberapa tersangka tambahan menyusul Ko Hein,” ungkap mantan Kasi Intel Sinjai itu.
Dikejar soal nama dari para tersangka, Thoriq tetap enggan membeberkannya. Ia hanya mengatakan pemeriksaan tersangka akan kembali dilakukan dua hari berturut-turut yakni Senin dan Selasa pekan depan. “Gak usah nama dulu, nanti juga kalian bisa lihat. Karena mereka sudah kita panggil untuk pemeriksaan sebagai tersangka hari Senin dan Selasa depan,” kata Alumni Universitas Gajah Mada Yogyakarta tahun 2004 ini.
Kacabjari yang mendapatkan penghargaan terbaik se Indonesia dalam penanganan korupsi ini hanya menegaskan bahwa dari sejumlah tersangka itu, ada yang berasal dari kalangan instansi teknis. “Udah itu saja dulu ya. Kalau bocoran dikit, dari beberapa tersangka ini ada yang berasal dari instansi yang mengelola proyek itu,” pungkasnya.
Diketahui, kasus itu bermula dari laporan masyarakat yang diterima Cabjari Pagimana. Sebab, proyek normalisasi sungai Lobu sudah dilaksanakan sejak tahun 2013, kemudian dilanjutkan lagi pada tahun 2014, dan pada tahun 2015 kembali dianggarkan senilai Rp1,2 miliar dalam enam paket Rp200 juta. Namun, tiga tahun berturut-turut pengerjaan normalisasi berjalan, tidak terlihat adanya perubahan dari struktur sungai tersebut. (van)

About uman