Home » Politik » Masa Depan Demokrat ‘Cerah’
Masa Depan Demokrat ‘Cerah’
Wildan Zaman

Masa Depan Demokrat ‘Cerah’

LUWUK—Masa depan cerah menghampiri DPC Partai Demokrat Banggai. Hal itu menyusul keberhasilan partai bintang mercy memenangkan salah satu kadernya, Mustar Labolo di Pilkada serentak tahun 2015 sebagai wakil bupati (Wabup) Banggai terpilih.
Akademisi Universitas Muhammadiyah Luwuk (UML), Wildan Zaman menyatakan, kondisi tersebut harus bisa dimanfaatkan Demokrat untuk menambah perolehan kursi di parlemen melalui Pileg 2019 mendatang. Menurutnya, kehadiran Mustar Labolo yang melekat jabatan pimpinan daerah jika dimenej dengan baik berpotensi menambah perolehan suara para caleg Demokrat.
“Tapi tidak bisa hanya mengharapkan itu saja, capaian kemenangan juga harus diimbangi dengan kondisi infrastruktur partai di seluruh tingkatan yang mumpuni,” jelas Wildan yang diaminkan sejumlah akademisi lainnya, Rabu (11/5).
Memang, kata Wildan, kompetisi Pileg (Pemilihan legislatif,red) dapat diartikan sebagai pertarungan partai. Berbeda dengan Pilkada, dimana yang mendominasi adalah figur yang diusung perahu parpol (partai politik). Sehingganya, Mustar Labolo yang melekat atribut partai secara otomatis mampu meningkatkan simpatik masyarakat terhadap jajaran caleg Demokrat nantinya.
“Itu berpotensi terjadi ketika Mustar Labolo terjun langsung berkampanye, konsolidasi atau semacamnya dalam mempromosikan caleg Demokrat,” kata dia.
Lanjut Wildan, peluang meningkatnya jumlah perolehan kursi Demokrat akan semakin terbuka apabila di masa pemerintahan Win Star (akronim Herwin Yatim-Mustar Labolo,red) mampu mempersembahkan program pro rakyat. Jika mayoritas program diminati rakyat secara otomatis peran Mustar Labolo akan sangat mempengaruhi kuota kursi Demokrat di dewan.
“Tapi semua itu dikembalikan lagi di internal partai. Apalagunanya kader dengan popularitas tinggi kalau tidak ada kesiapan partai. Indikator kesiapan dan keseriusan komitmen partai menguasai parlemen dapat diukur dari penguatan infrastruktur atau kepengurusan organisasi di seluruh level yang ada. Yang terpenting adalah perencanaan politik dalam mempersiapkan kader potensial berlaga di panggung demokrasi,” tuturnya.
Terkait itu, proses kaderisasi sangatlah menentukan masa depan partai. Sebab barometer keberhasilan suatu organisasi politik cenderung diukur dari jumlah kursi di dewan serta kemampuan para penggawannya.
“Jadi jangan ada kader instan. Persiapan caleg (calon legislatif,red) sebaiknya dilakukan dari jauh-jauh hari, jangan nanti satu tahun sebelum Pileg. Karena terburu biasanya parpol asal-asalan rekrut caleg, apalagi dari kalangan pensiunan ASN (Aparatur Sipil Negara) yang belum memahami jenjang kaderisasi,” tutur Wildan.
Diketahui, awal tampilnya Partai Demokrat di tanah Babasal sekitar tahun 2004 mampu mengoleksi 4 kursi di parlemen teluk Lalong. Sayang, bukannya bertambah kini partai besutan mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono itu hanya mampu mempertahankan 2 kursi.
Dalam situasi itu perlukah perombakan struktur kepengurusan untuk membangkitkan semangat perjuangan? Wildan menilai, persepsi itu bisa saja diterapkan. Namun yang terpenting adalah konsolidasi pengurus dalam membentuk, membenahi serta penguatan seluruh struktur organisasi.
“Kalau itu berjalan dengan baik, kedepan minimal Demokrat memiliki kader di dewan dari masing-masing Dapil (daerah pilih). Maksimalnya Demokrat berhasil meraih mayoritas kursi meski itu bukanlah perkara muda. Tapi dalam dunia politik apapun itu bukan hal mustahil,” pungkasnya.(man)

About uman