Home » Berita Utama » Kediri Membangun RT, Banggai Membangun Desa
Kediri Membangun RT, Banggai Membangun Desa
Program Pemberdayaan Masyarakat yang menunjang pembangunan infrastruktur turut berkonstribusi menjadikan kota Kediri sebagai kota yang bersih.

Kediri Membangun RT, Banggai Membangun Desa

LUAS Kota Kediri kurang dari satu persen total luas wilayah Kabupaten Banggai. Tapi, kedua daerah memprioritaskan daerah pinggiran. Kediri membangun RT, Banggai membangun Desa.

Laporan : Haris Ladici, Luwuk Post

Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar, menyatakan, pihaknya memiliki program unggulan yang akan terus ditingkatkan kedepan.  Antaranya, adalah Prodamas (Program Pemberdayaan Masyarakat). Sebelum Presiden Joko Widodo mengusung Nawacita yang menitik beratkan pembangunan daerah pinggiran,  pihaknya telah menaruh perhatian terhadap daerah pinggiran, dengan mengalokasikan anggaran 50 juta per RT (Rukun Tetangga).
Program yang diluncurkan tahun 2015 itu tidak dikelola oleh masyarakat. Tapi, tetap dikelola oleh pemerintah.  Meskipun tak dikelola langsung oleh masyarakat, namun masyarakat turut serta dalam perencanaan program yang dibiayai anggaran Prodamas.
Untuk melaksanakan program tersebut, warga dan pengurus RT bermusyawarah untuk menentukan apa saja kebutuhan masyarakat setempat, untuk kemudian diwujudkan dengan dana Prodamas tahun berikutnya. Usulan perencanaan kemudian diajukan kepada pemerintah kota untuk kemudian diterbitkan DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran). DPA harus dipublikasikan kepada warga. Anggaran Prodamas lalu disalurkan kepada kelurahan, untuk kemudian kelurahan, pendamping dan pihak yang terlibat merealisasikan DPA.  Kegiatan yang termonitoring baik itu cukup berhasil.
Selama tahun 2015 sebanyak 1436 RT yang tersebar di 46 kelurahan menjadi sasaran program pemberdayaan masyarakat.
Wali Kota Kediri, memaparkan, Prodamas diarahkan untuk membangun infrastruktur serta bidang sosial dan ekonomi. “60 persen anggarannya untuk infrastruktur, sisanya 40 persen untuk bidang sosial dan ekonomi,” katanya ketika memberikan pemaparan kepada Bupati Banggai, Sofhian Mile dan Kepala BPMPD Yusuf Bidin serta beberapa kepala SKPD terkait lainnya, di Kantor Wali Kota Kediri, (4/5).
Dengan anggaran sekira Rp 50 juta per RT, pemerintah dan masyarakat melahirkan 2339 produk infrastruktur selama tahun 2015.  Antaranya, 833 Saluran Air, 522 Paving Jalan,251 Poskamling, 142 Resapan Air, 136 Rabat jalan dan program infrastruktur RT lainnya, seperti gapura, tempat ibadah, balai RT-RW, MCK, taman, gudang, dan penerangan jalan.
Untuk bidang ekonomi anggaran Prodamas diarahkan untuk pelatihan berbagai jenis keterampilan dalam usaha skala kecil, antaranya pelatihan tata boga, pelatihan tata busana dan produksi batako. Wali Kota mengakui, dengan program tersebut, pihaknya berhasil menyulap gang gang kumuh dan sempit menjadi semakin nyaman. “Kebanyakan masyarakat membangun sanitasi dan perbaikan tempat ibadah.   Bahkan dengan program ini tidak ada ada lagi gang gang kecil dan kumuh,” tuturnya.
Membangun daerah pinggiran serupa yang dilakukan Sofhian Mile selama lima tahun terakhir. Kabupaten Banggai yang memiliki 291 desa dan 46 kelurahan pada 21 kecamatan menggelontorkan anggaran sekira Rp 272 miliar untuk alokasi dana desa, tahun ini. Dengan anggaran sebesar itu desa mendapatkan alokasi anggaran sekira Rp 954 juta (paling minimal) hingga Rp 2,1 miliar.
Lalu bagaimana dengan kelurahan? Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Banggai, Yusuf Bidin, mengakui belum ada anggaran pemberdayaan masyarakat kelurahan sebagaimana diterapkan di Kota Kediri. Namun, direncanakan pihaknya akan mengalokasikan anggaran pemberdayaan yang langsung melekat pada pemerintah kelurahan, sebagaimana anggaran pemberdayaan yang melekat pada belanja langsung pemerintah kelurahan di Kota Kediri.
Sejauh ini, program tersebut belum dilaksanakan karena pihaknya belum menemukan payung hukumnya. Dengan prediksi setiap kelurahan mendapatkan alokasi anggaran sekira Rp 400 juta, BPMPD Kabupaten Banggai, masih akan memerhitungkan biaya yang dikeluarkan untuk pendampingan program. Di Kediri, para pendamping Prodamas, diseleksi dengan terbuka dan ketat dari berbagai perguruan tinggi dan diumumkan kepada publik sebagai bagian dari transparansi. Para pendamping yang direkrut sebanyak 95 orang itu dibiayai sesuai dengan banyaknya RT yang mereka dampingi. Untuk pendamping yang melakukan penampingan pada 10 RT mendapatkan honor sekira Rp 1,750 juta, untuk pendamping 11-14 RT sekira Rp 2,250 dan untuk pendamping 15 RT mendapatkan honor sekira Rp 2,5 juta. (*)

About uman