Home » Metro Luwuk » Bisnis Arang Tampurung jadi Lupa Miras
Bisnis Arang Tampurung jadi Lupa Miras
Sejumlah warga Desa Kamumu Kecamatan Luwuk Utara sedang duduk santai di rumah mereka.

Bisnis Arang Tampurung jadi Lupa Miras

WILLIAM Monggesang sempat dibuat galau. Maraknya penikmat minuman keras (miras) di Desa Kamumu yang dipimpinnya tak membuatnya mati akal. Ia punya strategi khusus menanganinya.

Oleh: SOFYAN LABOLO. Luwuk Post

DESA yang memiliki luas wilayah sekitar 62,8 kilometer persegi ini bersuhu dingin. Mungkin ini yang menjadi pemicu sehingga warga desa yang masuk wilayah administrasi Kecamatan Luwuk Utara ini doyan miras. Tak hanya pemuda. Kalangan orang tua pun hampir saban malam menikmati minuman beralkohol itu. Jangankan miras bermerk, buatan sendiri pun bisa diproduksi lantas dinikamati.
Maraknya penikmat miras tentu berdampak negatif. Salah satu yang paling menonjol yang terjadi pada desa yang memiliki 7 RT dan 3 dusun itu adalah kasus perkelahian. Aparat Desa Kamumu, termasuk William yang menjabat sebagai kepala desa (kades) sejak tahun 2012 lalu itu tak tinggal diam dengan fenomena tersebut.
“Memang benar desa Kamumu identik dengan Miras,” kata William yang ditemui Selasa (10/5) kemarin. William tak mau patah arang dengan kondisi itu. Ia bersama aparat desanya berinisiatif membentuk peraturan desa (Perdes) yang include didalamnya larangan terhadap miras.
Bagi William Perdes tanpa dibarengi dengan konsep pemberdayaan tidak akan efisien. Makanya lahir ide kreatifnya untuk membuka lahan pekerjaan. Setiap malam kata Kades Kamumu ke 11 ini, sejumlah pemuda disibukkan dengan membakar tempurung. Hasilnya kemudian dijual pada beberapa kota, diantaranya Palu dan Surabaya.
“Sebelum memulai bisnis arang tampurung ini, terlebih dahulu saya mengundang tenaga ahlinya. Sekarang ini mereka sudah mahir dengan menghasilkan arang tampurung yang berkualitas,” kata peraih Kades Teladan Bidang Wana Lestari di Jakarta tahun 2013 ini.
Selain bisnis arang tampurung, yang setiap dua pekan warga yang menggelutinya menuai keuntungan Rp600-800 ribu ini, bisnis meubel juga tengah digeliatkan di desa yang berjarak sekitar 23 kilometer dari arah utara Kota Luwuk Kabupaten Banggai itu.
Bahkan penyadapan getah pinus juga lagi ramai di Desa Kamumu. “Prospeknya cukup menjanjikan. Penyadapan getah vinus per dua minggu warga bisa meraup Rp900 ribu sampai Rp2,5 juta per orang. Makanya ada 70 kk yang aktif pada jenis usaha ini,” kata William.
Banyak output yang diperoleh dari kesibukkan para pemuda, utamanya yang doyan mabuk miras. Selain menghindari kebiasaan buruk yang sudah pasti berdampak terhadap stabilitas keamanan desa juga membentuk skil (keahlian) yang tentu saja memberi pengaruh secara ekonomi.
Program pemberdayaan yang telah diterapkan sejak beberapa bulan lalu tersebut, kata William kini desanya secara perlahan terminimalisir pecandu miras. Malah kalangan pemuda utamanya, saling berlomba-lomba mencari uang, dengan skil yang dimiliki masing-masing. Dengan demikian tercipta suasana kondusif bagi desa yang dihuni sebanyak 247 kepala keluarga (KK) itu. (*)

About uman