Home » Metro Luwuk » Mengais Rupiah dari Tumpukan Sampah
Mengais Rupiah dari Tumpukan Sampah
Amin Rais, 71, ketika membongkar tumpukan sampah di tepi Teluk Lalong, kelurahan Karaton, pekan lalu.

Mengais Rupiah dari Tumpukan Sampah

Semua orang menginginkan hidup yang layak, tak terkecuali Amin Rais. Pria kelahiran Ambon tahun 1945 silam. Tapi apalah daya, sebagai manusia kita boleh bermimpi, namun akhirnya Sang Khalik-lah yang menentukan. Sempat merantau ke Ibu Kota Negara Indonesia di Jakarta. Siapa sangka, pria yang dulu kekar itu harus menghabiskan masa tuanya sebagai pemulung di kota kecil nan indah, Luwuk – Banggai.

Laporan : Steven Pontoh, Luwuk Post

SELEMBAR baju sisa pesta demokrasi Pilkada 2015 melingkar di kepala. Hitam legam kulitnya karena terbakar panasnya alam. Terpaan terik mentari siang itu membuat tubuh keriput tanpa balutan baju mengkilap, tapi semangatnya tetap menggebu. Lalu lalang kendaraan di Jalan RE Martadinata, Kelurahan Karaton, tak dihiraukan. Pandangannya fokus ke depan. Selembar terpal biru dengan sebagian besar sobek ditariknya, hingga tumpukan sampah berhamburan. Satu persatu botol pelastik dan besi tua dipunggut, lalu dikarungkan.
Sesekali, Ia menghapus buliran peluh yang mengalir di wajah keriputnya. Tapi pandanganya tak berpaling dari limbah rumah tangga di tepi teluk yang menjadi pintu masuk kapal-kapal ke Pelabuhan Luwuk. Hari itu, Amin Rais sudah mengumpulkan setengah karung besar barang bekas. Botol pelastik, besi tua dan beberapa aluminium sisa perabot rumah tangga menumpuk di belakangnya. Ia telah memisahkan sampah-sampah yang dibuang warga. Dipilahnya mana yang bisa dijual kembali dan mana yang memang tidak lagi bernilai guna.
Tak berapa lama, seorang wanita berhijab menghampirinya. Memberikan minum, lalu mereka kembali bergelut dengan sampah-sampah di depan mata. Hampir sejam keduanya terfokus pada tumpukan barang bekas dengan aroma khas itu. Sampai karung putih berstrip biru penuh. Keduanya kembali berlindung di bawah pohon tepat di samping rumah warga setempat. “Saya dari Ambon, sudah 10 tahun saya menetap di Luwuk bersama istri dan tiga anak,” kata Amin Rais, mengawali perbincangan.
Terlahir di kota ‘manise’, Amin Rais sejatinya memiliki cita-cita yang tinggi. Ia sempat mengenyam dunia pendidikan di perguruan tinggi sampai semester 4 di Universitas Pattimura Ambon. Tapi asa untuk menyelesaikan studi pupus kala biaya pendidikannya tak mampu dipenuhi. Godaan salah satu pengusaha pakaian dari kota Padang untuk merantau ke tanah Jawa pun diterima. Waktu itu tahun 1961, Amin Rais memutuskan berangkat ke Ibu Kota. Disana, Ia bekerja sebagai penjual pakaian di salah satu stand pasar Senen, Kramat Bundar, Jakarta.
Empat tahun lamanya Ia bergelut dengan pekerjaannya, hingga kemudian tertarik untuk beralih profesi dan pindah kota lain. Surabaya, adalah tujuannya. Bekerja serabutan mengantarkannya ke Kota Gresik sekira tahun 1965. Di kota Santri, Amin Rais akhirnya menemukan pasangan dan memutuskan menikah. Tapi tidak memiliki anak, hingga terjadinya peristiwa G30S/PKI. Merasa tanah Jawa mulai rawan, karena terjadinya konflik, Amin Rais memilih pulang kampung tanpa memboyong istrinya.
Di Ambon, Ia menikah lagi dan dikaruniai seorang putra. Berbagai pekerjaan dilakoninya ketika itu. Bahkan pada tahun 1970 Ia dan rekan-rekannya sempat terombang-ambing hampir sebulan di lautan, hanya karena ingin menjual kopra dari Ambon ke Gresik, Jawa Timur bermodalkan perahu layar. Pekerjaannya yang tak menetap membuat pria berdarah Buton Tomia ini pamit untuk merantau. Tapi kali ini tujuannya bukan tanah Jawa, melainkan Sulawesi. Kota pertama yang dicapainya adalah kabupaten Banggai Laut (waktu itu masih wilayah kabupaten Banggai). Lama bekerja dan menetap di sana, Amin Rais kepincut lagi pada seorang wanita asal desa Mansamat, kabupaten Banggai Kepulauan. Bersama istri ketiganya ini, Amin Rais tidak dikaruniai anak dan akhirnya pisah. Ia kembali menyeberang ke pulau Bangkurung. Disana, Ia menikah lagi. “Istri keempat ini saya dapat tujuh anak, sudah menikah semua. Sampai akhirnya istri saya meninggal dan saya memilih ke Luwuk,” terangnya lirih sambil mengusap wajah dengan pakaian bercorak merah putih sisa pesta demokrasi, akhir Desember 2015.
Ia kembali bergelut dengan dunia pakaian. Jual beli pakaian dari desa ke desa dilakoni Amin Rais, hingga ke wilayah kepala burung di kecamatan Lamala, tepatnya di desa Bombanon. Lama berkeliling, Ia akhirnya dipertemukan dengan seorang janda muda di pasar Balantak. Ketertarikan keduanya membuat mereka menyatukan kasih dengan ikatan suami-istri. Tetap berjualan, tapi akhirnya usahanya kolap. Karena penjual keliling semakin banyak dan barang-barang yang didagangkannya juga kalah baik dengan yang lain. Di usia senja, kakek 71 tahun ini akhirnya memilih pekerjaan yang tidak begitu menguras tenaga. Berjalan dari tong satu ke tong sampah lainnya dilakoni. Pakaian bekas, botol pelastik, botol bir dan sejenisnya, hingga aluminuim dan besi bekas dikumpulkan. Ia akhirnya memantapkan diri menjadi seorang pemulung. Melihat hasil yang lumayan bagus dari penjualan botol dan pelastik, Amin Rais sempat merekrut beberapa orang sebagai tenaga pencari barang bekas. “Tahun 2000-an waktu itu botol bir masih Rp1000, tapi sekarang tinggal Rp600. Teman-teman akhirnya berhenti. Jadi sekarang tinggal saya dan istri saja,” kisahnya.
Barang bekas yang terkumpul disatukan di sudut Teluk Lalong, tak jauh dari gudang Perum Bulog. Setelah dipastikan sudah banyak, Ia akan memanggil kendaraan pembeli barang bekas dari kompleks Kelapa Dua, kelurahan Simpong. “Saya kumpul biasa satu sampai dua bulan dapat satu truk, kalau terjual saya bisa dapat Rp1,5 juta. Uang itu sebagian untuk biaya hidup sebagian lagi untuk biaya sekolah anak saya yang masih SD,” imbuhnya sambil menyulut pabrik asap gudang garam merah.
Setelah meneguk air dari bekas botol mineral, Amin Rais kembali melanjutkan ceritanya. Ia mengaku memulung sudah menjadi rutinitasnya selama bertahun-tahun di kota ‘Berair’ Luwuk. Kadang hasilnya lebih, kadang juga habis untuk biaya hidup. Untuk kebutuhan sehari-hari, Ia dibantu sang istri. Wanita 25 tahun itu kerap turun memulung ke sejumlah tong sampah dari BTN Kilo Lima, hingga ke dalam kota. Hasil dari punggutan sang istri itulah yang langsung dijual untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara, Amin Rais fokus mencari untuk kebutuhan hidup dan uang sekolah si buah hati. “Biasa sampe tiga empat karung, sekarang harga pelastik itu Rp1000 per kilogram dan besi hanya Rp1.500 per kilogramnya. Kalau dapat aluminium itu yang bagus, karena harganya Rp10-11 ribu,” kata Risna, Istri Amin Rais.
Ia mengaku selama belasan tahun menetap di Kota Luwuk, belum sekalipun mendapatkan bantuan dari pemerintah. Tapi hal itu bukanlah masalah baginya. Sebab, Ia merasa hidupnya adalah perjuangannya. Sehingga apapun kebutuhan hidup akan diupayakan diperoleh dari keringatnya sendiri. Perjuangannya untuk menghidupi keluarga adalah gambaran hidup sesungguhnya. Di usia yang tak muda lagi, semangat masih menggebu. Meski tak sekuat dulu lagi, tapi Amin Rais yakin Ia masih mampu menghidupi keluarganya. Harapannya hanya satu, kelak anaknya bisa berprestasi dan mendapatkan beasiswa untuk meringankan biaya hidup yang semakin tinggi di daerah berkembang Luwuk –Banggai.(*)

About uman