Home » Berita Utama » Memilih Menjadi Bagian Sunyi dari Puisi
Memilih Menjadi Bagian Sunyi dari Puisi
Ama Achmad, Penyair Perempuan Banggai dan beberapa buah karyanya yang telah dibukukan.

Memilih Menjadi Bagian Sunyi dari Puisi

Catatan : Reski Sululing, Luwuk Post

Musim ini seperti perempuan yang tak lagi berhias, Duduk diam merayakan kesedihan. Musim ini seperti penyair yang tak menemu apa-apa, Selain abjad-abjad kosong yang tak berucap sesuatu.

KUTIPAN di atas merupakan potongan puisi berjudul Kemarau yang masuk ke dalam antologi 100 Penyair Perempuan Indonesia. Matahari mulai menjemput saga, ketika saya akhirnya bertemu dengan penulis puisi di atas. Sebenarnya, ini bukan pertemuan pertama saya dengannya, tapi, kali ini lebih terasa spesial, sebab di pertemuan ini, saya memutuskan untuk bertanya-tanya seputar pencapaiannya di dalam dunia literasi.
Perempuan bertubuh mungil itu tiba duluan beberapa menit, sebelum saya akhirnya mengempaskan badan dan duduk berhadap-hadapan dengannya. Ama Achmad, adalah nama yang dipilihnya untuk dijadikan nama pena dan digunakan di dunia literasi tempatnya berkiprah. Ama, begitu sapaan akrabnya, memulai bercerita sambil menyeruput segelas es kopi yang telah kami pesan.
“Saya menyukai puisi. Ketika ditanya alasan kenapa, saya hanya bisa bilang, saya cinta. Cinta tak melulu butuh alasan, kan?,” ucapnya sambil tertawa, tapi, bola matanya yang bulat penuh, menyiratkan keyakinan yang betul-betul.
Saya ikut tersenyum. Sambil membalik-balik halaman beberapa bukunya yang sudah naik cetak dan dijual di toko buku besar Indonesia, bahkan sampai di luar negeri. Nama Ama Achmad memang tidak dapat dipandang sebelah mata di dunia literasi, sebagai pembuktian, ia pernah terpilih sebagai satu dari 6 penulis tamu Indonesia Timur di acara Makassar International Writer Festival (MIWF) tahun 2014 yang lalu.
Bukan main-main, sebab, ajang MIWF yang bertaraf internasional ini, benar-benar memilih tamu penulis dengan kualitas yang tidak perlu diragukan lagi di dunia literasi. Saya pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, saat terlibat menjadi salah satu panitia yang ikut aktif di kegiatan tersebut. MIWF menjadi ajang literasi amat bergengsi yang diimpikan setiap penulis, baik yang berasal dari Indonesia, maupun dari luar negeri.
“Saya tidak menyangka bisa terpilih menjadi penulis tamu di MIWF, dan dipercayakan untuk berbicara di beberapa rangkaian acara. Waktu itu, di poetry workshop for women, voices from eastern Indonesia, kemudian di book launching Isis, dan terakhir di Indonesian literary communities. Itu sungguh menjadi hadiah luar biasa dalam hidup saya,” ibu tiga anak ini mengurai kenangan di kepalanya dengan bangga, lagi-lagi sambil tersenyum.
Melanjutkan pembicaraan, saya memutuskan untuk bertanya mengenai karya-karyanya yang bisa dibilang, sangat mengagumkan. Selain pernah masuk ke dalam antologi 100 Penyair Perempuan Indonesia, beberapa puisinya juga dibukukan ke dalam kumpulan berjudul Isis dan Musim-Musim yang difasilitasi oleh Olin Monteiro. Di samping itu, beberapa potongan puisinya juga pernah dialihbahasakan ke Bahasa Inggris oleh founder Lontara Foundation, John H. McGlynn, penerjemah berkebangsaan Amerika.
Tidak berhenti sampai di situ, Ama terus melebarkan sayapnya di dunia literasi, khususnya menulis puisi. Hasilnya tidak sia-sia, kembali beberapa puisinya dialihbahasakan ke Bahasa Inggris oleh Beat Presser, yang kemudian dibukukan ke dalam Surabaya Beat; A Fairy Tale of Ships, Trade and Travels in Indonesia, dan dipasarkan di negara Swiss. Di tahun 2014, kembali ia menoreh prestasi dengan dibukukannya beberapa puisi miliknya ke dalam buku berjudul Senorita 3 yang diterbitkan oleh penerbit dari negara Malaysia.
“Saya selalu bersyukur dan bahagia, ketika karya-karya saya diapresiasi dan dibukukan. Rasanya seperti usai melahirkan seorang anak yang suci, bedanya, “anak-anak” saya ini lahir dari rahim pena yang saya goreskan,” tutur perempuan asal Banggai ini.
Menoleh ke belakang, setelah saya guyuri dengan rupa-rupa pertanyaan, ia memang tidak bisa lepas dari dunia literasi. Kesenangannya membaca sejak kanak-kanak menjadi awal dari semuanya. Setelah itu, ia mencoba untuk menulis, terus menulis. Mencoba menulis cerpen, opini, novel, tapi pada akhirnya, ia selalu kembali pada jalan cinta pertamanya, puisi.
Ketika disinggung soal di mana dia memeroleh inspirasi untuk menulis puisi, ia dengan semangat menunjukkan kepada saya beberapa gambar lukisan dan foto-foto abstrak dari gawai pintarnya. “Saya menemukan inspirasi dan kemudian menulis puisi setelah memperhatikan gambar-gambar ini,” ujar penggemar tulisan-tulisan Goenawan Mohamad ini.
Saya terpaku. Setelah berbincang banyak dan membaca beberapa potong puisi miliknya, saya benar-benar yakin, Ama Achmad akan menjadi penulis puisi yang cemerlang di masa depan dan membawa warna cerah di dunia literasi Indonesia.
“Saya akan terus dan terus menulis puisi. Ketika saya mencoba berhenti dan menulis hal-hal lain, saya menjadi takut. Saya takut ditinggalkan oleh puisi itu sendiri. Bagi saya, puisi ini semacam jalan paling sunyi di antara semua karya sastra. Menjadi bagian dari puisi, berarti menjadi bagian dari kesunyian itu sendiri. Saya selalu merasa bahagia ketika mendapati diri saya menjadi bagian di dalamnya,” ia menutup perbincangan sambil menyesap es kopi miliknya hingga tuntas. (*)

About uman