Home » Berita Utama » Kontraktor Proyek Normalisasi Sungai Lobu Ditahan
Kontraktor Proyek Normalisasi Sungai Lobu Ditahan
HM, tersangka dalam kasus dugaan korupsi pelaksanaan proyek normalisasi sungai Lobu ketika digiring jaksa ke mobil tahanan untuk dititipkan ke Lapas kelas IIB Luwuk, Selasa (26/4) sekira pukul 13.47 Wita. Nampak HM saat diperiksa penyidik sebelum dilakukan penahanan.

Kontraktor Proyek Normalisasi Sungai Lobu Ditahan

LUWUK-Gara gara seringkali mengabaikan panggilan pemeriksaan sebagai saksi dalam penyelidikan kasus dugaan korupsi pekerjaan normalisasi sungai Lobu, HM kontraktor pelaksana proyek akhirnya ditahan.
Surat perintah penahanan dengan nomor PRINT-26/R2.11.9/Fd.1/04/2016 tersebut, dikeluarkan Kepala cabang kejaksaan negeri (Cabjari) Pagimana setelah melakukan pemeriksaan terhadap HM, Selasa (26/4).
Kacabjari Pagimana, Thoriq Mulahela SH, menyatakan, sikap tak kooperatif tersangka membuat penyidik mengambil langkah tegas dengan penahanan.
“Selama pemeriksaan sebagai saksi dalam tahap penyelidikan, HM tidak pernah menghadiri undangan. Setelah dipanggil dalam tahap penyidikan barulah Ia datang. Kita periksa. Kemudian disimpulkan bahwa beberapa alat bukti dan keterangan saksi sudah cukup bagi penyidik untuk menetapkan HM sebagai tersangka. Melihat tindakan HM yang kerap mangkir dari panggilan dan ditakutkan bisa mengacaukan penyidikan, kami mengambil langkah penahanan,” terang Thoriq, usai mengarahkan tersangka ke mobil tahanan kejaksaan negeri Luwuk menuju Lapas kelas II B Luwuk.
Kacabjari terbaik dalam penanangan kasus korupsi se Indonesia tahun 2015 itu menjelaskan dalam kasus dugaan korupsi normalisasi sungai Lobu pihaknya baru menetapkan satu tersangka, yakni HM. Pria tambun itu diketahui adalah pelaksana proyek bernilai Rp1,2 miliar untuk normalisasi sungai Lobu di desa Uha-uhangon, desa Kadodi, Niubulan, Lobu serta sungai Piondo di desa Balean dan desa Bahingin kecamatan Lobu tahun anggaran 2015. “Di tahap ini (penyidikan,red) baru satu tersangka. Sebetulnya belum bisa kita publis tapi karena sudah ketahuan dan HM juga orangnya tidak kooperatif tidak apalah,” paparnya.
Ia menjelaskan dalam penyidikan pihaknya telah meminta keterangan sekira 40 saksi. Beberapa diantaranya adalah perwakilan dari instansi yang berkaitan dengan proyek normalisasi sungai Lobu, dalam kurun waktu tiga tahun belakangan. Bahkan, usai penahanan HM, sejumlah saksi terlihat masih dimintai keterangan oleh penyidik. Setidaknya ada tiga pria berpakaian keki (PNS,red) yang duduk berhadapan dengan penyidik Cabjari Pagimana. “Pemeriksaan saksi masih terus berlangsung. Selama ini kita jalan, jadi kalau ada yang bilang mati suri, mungkin itu karena mereka jarang main ke kejaksaan. Iya kan. Coba lihat sendiri di dalam masih terus dilangsungkan pemeriksaan saksi,” tegasnya mematahkan tudingan miring atas proses hukum yang sempat dipertanyakan sejumlah pihak melalui salah satu media cetak lokal, belum lama ini.
Diketahui, kasus itu bermula dari laporan masyarakat. Sebab, proyek normalisasi sungai Lobu sudah dilaksanakan sejak tahun 2013, kemudian dilanjutkan lagi pada tahun 2014, dan pada tahun 2015 kembali dianggarkan. Namun, tiga tahun berturut-turut pengerjaan normalisasi berjalan, tidak terlihat adanya perubahan dari struktur sungai tersebut.
Berdasarkan laporan masyarakat itu, Kacabjari Pagimana kemudian mengeluarkan surat perintah dimulainya penyelidikan dengan nomor: Prinops-01/R.2.11.9/Dek.3/01/2016. Sesuai data awal penyidik, proyek tersebut dimenangkan oleh enam perusahaan, tapi kemudian hanya dikerjakan satu perusahaan. Nilai taksiran kerugian keuangan negara sekira Rp1,2 miliar hanya untuk pengerjaan tahun 2015, sementara itu penyidik masih mengembangkan informasi terkait jumlah anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk kegiatan yang sama di tempat yang sama pada tahun 2013 dan tahun 2014.(van)

About uman