Home » Berita Utama » Berantas Makelar Skripsi di Unismuh
Berantas Makelar Skripsi di Unismuh
Tasrudidin

Berantas Makelar Skripsi di Unismuh

LUWUK-Berbagai macam bentuk praktek penjualan skripsi di tingkat perguruan tinggi oleh dosen kepada mahasiswa semester akhir adalah persoalan yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Selain merupakan pembodohan, makelar skripsi pada perguruan tinggi dapat merusak nama baik perguruan tinggi itu sendiri.  Hal inilah yang membuat beberapa dosen Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk, tetap konsisten melakukan pemberantasan makelar skripsi khususnya di Unismuh. Salah satu dosen yang tetap konsisten memberantas makelar skripsi di ruang lingkup Kampus Hijau itu adalah Tasruddin.
Dosen yang juga Dekan Fakultas Perikanan ini mengungkapkan, pelaku makelar skripsi di Unismuh menurutnya cukup mendominasi. Dari sekian banyaknya dosen yang ada, dosen yang peduli untuk memberantas praktek jual beli skripsi ini dapat dikatakan sangat sedikit. Hal ini menurut dia, disebabkan oleh regulasi yang kurang diwacanakan di tingkat pimpinan. “Dari puluhan dosen,  hanya enam dosen saja yang prihatin terhadap persoalan ini. Untuk menekan itu, pimpinan harus membuat regulasi agar persoalan ini tidak terus berlanjut,” jelasnya, Selasa (26/4).
Menurutnya, saat ini masih sangat kurang dosen yang mempunyai komitmen untuk menata sistem akademik yang bermartabat dan akuntabel, dengan mengutamakan kredibilitas demi menjaga harga diri universitas. “Sebagai akademisi, integritas adalah yang harus diperjuangkan. Sebab, hal itu merupakan karakter yang menyangkut harga diri universitas,” pungkasnya.
Dalam undang-undang tentang guru dan dosen, tambah dia, sudah sangat jelas dikatakan bahwa, plagiat  dilarang dilakukan di perguruan tinggi manapun. Jika kedapatan, sanksi yang akan diberikan kepada pelaku plagiat itu bisa berupa kurungan penjara selama dua tahun, dan denda minimal Rp 500 juta. “Jual beli skripsi oleh dosen kepada mahasiswa itu dapat dikatakan plagiat. Dan sanksi yang akan diberikan pun sudah sangat jelas. Di Unismuh, juga harus ada regulasi yang dapat menjadi warning kepada pelaku,” tandasnya.
Sebagai salah satu dosen penguji skripsi mahasiswa, untuk menghindarkan mahasiswa dari praktek jual beli skripsi tersebut, Tasrudin selalu melakukan pembinaan serius terhadap mahasiswanya.  Bahkan, mahasiswa yang melakukan pengujian skripsi kepadanya terlebih dahulu disumpahi, apakah benar dalam pembuatan skripsi mahasiswa tidak ada campur tangan dosen dalam hal pembuatan skripsi secara utuh. “Itu adalah hal yang terlebih dahulu saya lakukan. Tujuannya, agar dapat mengetahuai bahwa mahasiswa benar-benar membuat skripsinya sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu dosen Fakultas Ekonomi, Haruni, mengungkapkan persoalan dosen yang dengan sengaja melakukan jual beli skripsi kepada mahasiswa sudah cukup lama terjadi di Unismuh. Bahkan, mahasiswa mengungkapkan secara detail dosen yang dengan sengaja melakukan hal tersebut. Namun, untuk memberikan penekanan terhadap pelaku, baik unsur pimpinan sampai saat ini tidak menetapkan regulasi yang jelas. “Saya pikir persoalan itu terus berlanjut karena ada yang melindungi dari unsur petinggi. Padahal, untuk memberantas persoalan itu tidak membutuhkan waktu yang lama,” pungkasnya.
Dosen Fakultas Pertanian, Bahidin, juga mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, tahun 2012 silam persoalan dosen yang menjadi makelar skripsi di Unismuh sudah sempat dipersoalkan. Namun, tindaklanjut terkait persoalan itu sama sekali tidak ada. “Rentan kurun waktu empat tahun itu, sebenarnya sudah cukup untuk memberantas persoalan jual beri skripsi ini. Namun, alasan dari beberapa petinggi bahwa, persoalan tersebut harus diatasi sedikit demi sedikit. Padahal untuk itu tidak membutuhkan waktu lama,” jelasnya. (tr-35)

About uman