Home » Metro Luwuk » TPI Luwuk Semrawut dan Jorok
TPI Luwuk Semrawut dan Jorok
Tempat pelelangan ikan Luwuk makin semrawut dan jorok. Kondisi pelelangan ikan dari kejauhan.

TPI Luwuk Semrawut dan Jorok

LUWUK-Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang terdapat di Tanjung, Kelurahan Karaton, semakin smerawut. Pasalnya, selain bau busuk bangkai ikan, lokasi tersebut juga tak terawat.
Amatan Luwuk Post, Selasa (19/4) saluran drainase tidak berfungsi. Belum lagi, warna kehitaman di bawah meja pedagang yang menjajakan ikannya. Air dari cucian ikan hanya dibiarkan tergenang begitu saja. Jalan aspal berlubang. Lantai tehel yang awalnya putih berubah warna merah. Sebab, darah ikan hanya dibiarkan begitu saja.
“Jangan heran kalau di pelelalangan bau busuk. Kami hanya buang kotoran ikan di laut. Masalahnya tidak ada lokasi yang disediakan untuk menampung kotoran ikan,” ujar seorang pedagang setempat yang namanya tak mau dikorankan, Rabu (20/4).
Kata dia, setiap hari, para pedagang diminta Rp 10 ribu per meja, dengan alasan uang kebersihan. Meskipun lanjut dia, kebersihan harus dijaga bersama, namun retribusi yang setiap hari dibayar terkesan mubazir. “Dimana ini petugas yang bersihkan pelelangan ikan. Kami kan sudah bayar Rp 10 ribu setiap hari. Tapi tetap begini saja,” ungkapnya.
Selain itu, setiap mobil yang bongkar muat ikan di TPI harus membayar retribusi Rp 30 ribu per mobil. Belum lagi kapal ikan.
“Kalau kapal ikan Rp 50 ribu per kapal. Dalam satu hari, ada sekitar 5 mobil. Kapal sekitar 3 sampai 4 dan meja pedagang ada 20. Jadi, setiap hari pendapatan daerah di TPI sekitar Rp 500 ribu.  Nah, tinggal dihitung saja uang yang masuk ke daerah setiap bulan. Ada Rp 100 juta,” beber pria berbadan tegap itu.
Dari penghasilan tersebut, pedagang sangat menyayangkan perhatian Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Banggai. Harusnya, ratusan juta setiap bulan, bisa merawat, memperbaiki serta membuat TPI lebih higienis.
Tanggapan pedis dilontarkan pengunjung TPI. Seorang warga Kelurahan Karaton, Syarifudin, sangat jijik mendatangi TPI. Lokasinya yang jorok, semrawut serta bau busuk menyengat membuat pengunjung tidak nyaman. Ia menegaskan, TPI merupakan ikon kebupaten banggai untuk memperkenalkan hasil alam.
“Coba bayangkan, kalau pengunjung dari luar daerah maupun mancanegara yang  ingin mencari segara. Pasti akan ke TPI dengan jorok dan bau itu. Tentu kita sangat malu,” tandasnya.
Sementara itu, pihak UPT Dinas Keluatan dan Perikanan ketika ditemui koran ini tidak berada ditempat. “Tidak tahu Pak Anton kemana. Nanti saya sampaikan,” ucap seseorang yang tidak diketahui identitasnya. (awi)

About uman