Home » Luwuk Utara-Timur » Datang Ke Luwuk untuk Mencari Hidup
Datang Ke Luwuk untuk Mencari Hidup
Seorang Gepeng Niar, saat diwawancara oleh Kabid Rehabilitasi Dinsos Banggai Nur Jalal belum lama ini. Niar adalah warga yang berasal dari Makassar.

Datang Ke Luwuk untuk Mencari Hidup

Telepon genggam milik saya tiba-tiba berbunyi, sebuah pesan dari Kabid Rehabilitasi Dinas Sosial (Dinsos) Nur Jalal memberitahukan kalau saat ini tengah menangani seorang Gelandangan Pengemis (Gepeng) yang berhasil diamankan oleh Satpol-PP Rabu (13/4).

Catatan ; Fajri Rahmadhani/Luwuk Post

Tak ada rasa keget ketika saya bertemu dengan wanita paroh baya yang tengah duduk terdiam sambil menunduk di salah satu ruangan kantor Dinsos, karena penangkapannya sudah yang kedua kalinya.
Entah karena tidak ada pilihan lain, wanita ini tetap memilih untuk mengemis sambil berkeliling di disekitar teluk Lalong demi memenuhi isi perutnya yang terbilang cukup besar itu.
Bedanya, hari itu barulah saya tahu kalau wanita yang juga kerap terlihat mandi di tugu Adipura tanpa celana hingga kemaluannya terlihat itu bernama Niar. “Nama saya cuma itu,” tuturnya saat saya berusaha berkomunikasi dengannya.
Namun tidak semua pertanyaan yang saya berikan dijawabnya, karena wanita ini mengidap penyakit autisme atau susah berkomunikasi. “Saya lahir di Makassar tanggal 20 Januari 1973,” itulah kalimat kedua yang dilontarkan kepada saya.
Setengah jam kemudian, datanglah dua petugas medis dari Puskesmas dan langsung melakukan wawancara dengan Niar yang dari tadi hanya duduk sambil menatap ruangan tempatnya ditahan yang berukuran kurang lebih 3×3 meter itu.
Sesuai dugaan, tidak jauh berbeda jawaban yang dilontarkan kepada petugas medis, karena dari 10 pertantaan mungkin hanya dua atau tiga saja yang dijawab. “Memang ia mengidap autisme,” terang petugas medis itu kepada Nur Jalal.
Namun petugas medis itu seakan tidak menyerah dan terus melontarkan sejumlah pertanyaan, salah satunya terkait dengan dugaan adanya oknum yang memanfaatkannya untuk mengemis, seperti yang terjadi di kota-kota besar.
Tetapi hal itu tidaklah dijawab oleh Niar, dan hanya memilih senyum-senyum sambil memegang rambutnya yang jarang tersentuh sampo itu.
Namun yang paling menyentuh saat ditanyakan dimana keluarganya baik suami atau anak saat ini, dengan raut wajah yang mulai meredup, Niar mengaku tidak mengetahui pasti, karena sudah lama ditinggal. “Saya kawin dengan laki-laki yang sudah ada anak tapi tidak tau berapa anaknya, kemudian hasil dari perkawinan dengannya saya juga sudah punya anak tapi sudah lupa berapa,” ungkapnya lagi.
Kini, Niar harus menanggung sendiri beban hidupnya di kota kecil tanpa adanya bantuan dari keluarga, tak ada rumah untuk berlindung dari terik matahari dan hujan, tidur hanya beralaskan tanah dan beratap langit, semoga kelak ia bisa bertemu kembali dengan keluarganya. (*)

About uman