Home » Berita Utama » Terpukau Cahaya Lampu di Macau, Nyaris Kehilangan Paspor di Hong Kong
Terpukau Cahaya Lampu di Macau, Nyaris Kehilangan Paspor di Hong Kong
Sensasi cahaya memukau kota Hong Kong dilihat dari The Peak, Senin (4/4).

Terpukau Cahaya Lampu di Macau, Nyaris Kehilangan Paspor di Hong Kong

HANYA sekedipan mata. Dan roda ban pesawat sudah menyentuh landasan di bandara Internasional Macau. Harapan melihat kota Macau dari jendela pesawat benar benar pupus. Meski musim dingin telah berakhir. Langit masih berselimut kabut.

Laporan: Haris Ladici, Luwuk Post

Minggu pagi. Akhir pekan lalu. Kali kedua saya menjejak kaki di sana. Tiga tahun lalu. Saya masuk lewat darat. Dari kota Zuhai. Tiongkok daratan. Lebih lama di pos imigrasi karena antrean mengular panjang.
Keluar dari bandara, setelah melewati pemeriksaan imigrasi, yang sepi, tempat pertama yang dikunjungi adalah venetian. Hotel, mal sekaligus casino terbesar di bekas koloni Portugis itu. Hari sudah menjelang siang. Tempat itu sudah penuh pengunjung, dari penjuru dunia. Mereka datang mengadu nasib, berbelanja maupun sekedar merasakan sensasi naik gondola, perahu dayung tradisional ala venesia Italia.
Venetian hanyalah salah satu dari itinerary yang dikunjungi. Karena itu, setelah menitip barang di hotel yang terletak di jantung kota, Kami mengunjungi Senado Square. Hari menjelang senja. Tempat itu pun sudah ramai pengunjung. Sangat ramai. Ribuan orang memadati lapangan terbuka serupa alun alun. Senado Square kelihatan sangat Eropa, gedung gedung peninggalan Portugis berdiri kokoh mengelilingi lokasi seluas RTH Teluk Lalong. Mungkin karena hari minggu. Hari libur. Tempat itu lebih ramai dari biasanya. Lebih ribut daripada seharusnya.
Mendekat malam, Kami beranjak ke Wynn Hotel. Hanya serokokan berjalan kaki dari Grand Lisboa. Gedung yang menjadi landmark Kota Macau. Wynn Hotel menampilkan dancing fountein. Setiap satu jam, banyak pengunjung berkumpul di sana. Melingkari kolam. Menyaksikan air mancur menari mengikuti alunan dan amplitude musik yang dimainkan. Warna warni. Seakan mengembalikan langit Macau menjadi senja.  Pilihan menginap semalam di kota Macau memang tak salah. Siang langit yang berselimut kabut memang terasa muram. Namun malamnya, langit benar benar berpendar cahaya lampu. Gedung dan hotel lengkap dengan casino menawarkan sensasi cahaya memukau di setiap sudut kota. Memancing hasrat, memaksa langkah berhenti, mengambil gambar dan foto.  Sungguh sayang jika tak selfie hahaha…
Kota seluas 29,7 km persegi itu terasa seperti etalase Eropa di Asia Timur. Gedung gedung peninggalan Portugis masih berdiri kokoh. Banyak yang bercat kusam, tapi tak sedikit yang terlihat cerah. Bahkan di pusat kotanya kini tengah dibangun menara. Serupa eiffel di Kota Paris.
Jalan utama dibangun lebar lebar. Jalan pemukiman cenderung sempit. Dipagari tembok gedung berpuluh puluh lantai. Namun lalu lintas tidak macet. Banyak transportasi publik. Banyak bus. Nyaris tak terlihat sepeda motor.
Banyak traffic light. Pengendara kendaraan tertib. Mematuhi rambu lalu lintas. Terutama lampu merah. Pejalan kaki menjadi raja di jalan. Selalu diprioritaskan. Tak perlu berlari untuk menyebrang. Semua kendaraan berhenti saat traffic light bagi pejalan kaki menyala.
Esoknya, setelah mengunjungi Ruins of St Paul’s dan Benteng Monte Fort, dengan puluhan meriam menghadap pantai, Kami bertolak menuju Hong Kong. Dengan turbojet. Kapal cepat dengan kabin yang nyaman.
** * Tiket sudah di tangan. Namun setibanya di pintu masuk, petugas langsung memasang papan pengumuman, penundaan. Langit memang mendadak mendung, terlihat gelap. Petir sewaktu waktu bisa menyambar. Hasrat untuk uji adrenalin naik cable car cristal berlantai kaca di Ngong Ping 360 pun tak kesampaian. Padahal, untuk sampai ke sana, dari hotel tempat menginap di Wan Chai, harus dua kali transfer MTR (mass transit railway).
Tidak ingin buang waktu, setelah mendapatkan pengembalian tiket, kami pun langsung balik ke Station Central, menuju The Peak.  Hari sudah menjelang malam. Saat hujan mengguyur deras. Kami naik bus bertingkat. Pada jalan yang basah, Bus sampai juga ke puncak. Meliwati jalan dengan jurang yang curam. Sangat curam.
Karena jalan dengan kelompok kecil, bukan rombongan besar seperti tiga tahun lalu, di puncak The Peak yang kesohor dengan patung lilin, Madame Tussauds itu, banyak tempat bisa didatangi. Terutama kalau hendak mendapatkan foto dengan view kota Hong Kong.
Seperti Macau. Hong Kong adalah bekas koloni dari negara benua biru, Inggris, di Asia Timur. Kota ini juga sering berselimut kabut, namun menjadi sangat terang di malam hari. Lampu gedung sorot menyorot, berwarna warni, menjadi daya tarik tersendiri bagi kota dengan gedung tinggi terbanyak di dunia itu.
Karena tujuan ke sana untuk menemani krucil. Dan ibunya. Juga tantenya.  Esoknya, dan esoknya lagi, tempat yang dikunjungi masih lokasi wisata. Dengan berbagai wahana tempat bermain. Hong Kong Disneyland di Pulau Lantau. Bisa didatangi dengan kereta MTR. Dan Ocean Park, yang berada di pulau Hong Kong. Dari daerah Wan Chai, hotel tempat menginap, bisa dengan naik bus, meliwati terowongan yang cukup panjang. Ocean Park terbagi dua zona besar. Zona bawah, dan zona di atas bukit. Untuk ke zona atas kami menggunakan cable car. Tak berlantai kaca memang. Namun tetap saja bikin lutut totopore hahaha.
Setelah puas melihat beberapa aquarium, ubur ubur, lumba lumba hingga anjing laut, dan menjajal hampir semua roller coaster.  Dan wahana seru lainnya. Kami pulang.
Hari sudah menjelang sore. Hari ketiga di Hong Kong itu.Tinggal beberapa jam lagi sudah harus stand by di bandara Hong Kong, menunggu boarding.
Namun setibanya di zona bawah, masih saja tergoda dengan dua wahana lainnya. The Grand Aquarium dan Panda Village.
Hingga akhirnya. Setelah bergegas di trotoar yang padat lalu lalang orang. Berlarian saat transfer kereta. Pada waktu yang sangat mepet itu. Setibanya di stasion MRT Central.  Jantung serasa copot. Tas berisi paspor, dan juga ATM, tertinggal di tempat penukaran uang, sesaat sebelum cek in. Duh!
*** Bersyukur. Sebelum loket cek in ditutup, tas ditemukan. Dengan pasport dan ATM yang masih utuh. Tak hilang, apalagi dicuri.  Lebih bersyukur lagi. Detik detik menegangkan itu, terselamatkan, tak tertinggal pesawat berkat transportasi public yang sangat terjadwal. Dan juga terintegrasi.(*)

About uman