Home » Metro Luwuk » Naik Tidak Jadi Masalah, yang Penting Tertib
Naik Tidak Jadi Masalah, yang Penting Tertib
Dishubkominfo menggelar rapat pembahasan tarif transportasi pasca penurunan bahan bakar minyak (BBM), Selasa (12/4).

Naik Tidak Jadi Masalah, yang Penting Tertib

Tata kelola transportasi kian mendesak untuk dibenahi. Khususnya angkutan darat. Keluh kesah para sopir sudah lama digaungkan, tetapi tak pernah berbuntut penyelesaian yang tuntas.

Laporan ; Alisan, Luwuk Post

Kemarin (12/4), mobil angkutan kota berjejer di depan kantor Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Banggai. Para pemburuh penumpang itu, tiba-tiba berhenti beroperasi.
Ya, ternyata di sana ada pembahasan tentang tarif angkutan. Pembahasan yang menentukan apakah tangki bisa terisi, setoran bisa lancar, dan oli tetap bisa diganti rutin. Dan yang terpenting asap dapur tetap mengepul.
“Silahkan masuk, sudah mulai rapatnya dari tadi pukul 10.00 Wita,” ujar seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Dishubkominfo kepada Luwuk Post.
Pihak-pihak terkait terlihat mengahadiri rapat yang berlangsung alot itu. Mulai dari Dishubkominfo, Satlantas Polres Banggai, Bagian Hukum Setda Banggai, akademisi, Organisasi Angkutan Darat (Organda), dan Aspindo.
“Kalau naik tarif, tertibkan juga angkutan desa yang menerobos terminal,” ujar Bendahara Aspindo, Yopanande dengan suara lantang.
Penerobosan itu memang menjadi masalah masalah paling pelik di sektor transportasi darat di Kabupaten Banggai. Sebab, angkutan antarprovinsi enggan berhenti di terminal. Padahal, dari situ, angkutan kota bisa mendapatkan penumpang. “Kalau pun naik tidak jadi masalah, yang penting tertib,” tegas dia.
Selain itu, angkutan desa memang menurunkan penumpang di terminal. Hanya saja, setelah itu mencari penumpang di dalam Kota Luwuk. Akibatnya, rezeki yang seharusnya dikantongi angkutan kota ‘dipatok’ angkutan desa.
Untuk bisa beroperasi di dalam Kota Luwuk, alasan beragam dilontarkan kepada petugas Terminal. Misalnya, berbelanja ke pasar, menjemput istri, hingga mengisi bahan bakar di SPBU. “Angkutan kota sudah lebih banyak mengantar-jemput anak sekolah. Hanya itu yang bisa diharapkan,” jelasnya.
Belum lagi mobil angkutan desa yang menyembunyikan identitasnya sebagai transportasi umum dengan berpelat hitam. Itu dilakukan agar tidak dicegat ketika menerobos terminal.
Tak hanya berhenti sampai di situ saja penderitaan angkutan kota. Para pengusaha angkutan kota dalam provinsi (AKDP) pun kini langsung menjemput penumpang di kediaman masing-masing. Padahal, mekanismenya, angkutan kota yang mengangkut ke terminal. Kemudian AKDP menunggu di terminal. “Ini yang harus ditegaskan kepada para P.O,” ujar seorang sopir angkutan kota.
Keluhan itu langsung disambut positif akademisi Universitas Tompotika (Untika) Luwuk, Rusli. “Penertiban angkutan saya kira perlu. Itu agar penghasilan bisa terbagi antara angkutan desa, kota, dan AKDP,” tandas Rusli yang langsung disambut dengan riuh tepuk tangan dari para sopir angkutan di ruang rapat yang pengap itu.
Rusli lantas menyontohkan, di Kota Palu misalnya, angkutan kota menjemput penumpang di terminal. Sehingga fungsi terminal benar-benar terlihat. “Saya kira penerapan trayek langkah yang bagus kalau diterapkan,” kata pria berkacamata itu.
Beranikah Dishubkominfo ? “Itu kan nantinya para P.O (usaha mobil rental, Red) harus mangkal di terminal supaya penertiban ini bisa terwujud,” ujar Sekretaris Dishubkominfo, Natalia Patolemba.
Kemudian apa kesalahan angkutan kota ? Mereka ternyata disoroti soal keselamatan penumpang. Bagaimana tidak, ketika mengangkut pelajar, kendati masih terdapat kursi kosong, pelajar dibiarkan duduk di pintu mobil. Padahal, kondisi itu cukup berbahaya.
“Saya kira ini harus diperhatikan betul. Ini menyangkut keselamatan para anak-anak kita. Jangan sampai terjadi apa-apa terhadap mereka. Kenapa tidak diperintahkan duduk kalau masih ada kursi kosng ?” tandas Kepala Seksi Keselamatan Lalu Lintas Dishubkominfo, Utu Mangkona.
Semoga segala bentuk ketidakberesan tata kelola transportasi secepatnya dibenahi. Sebab, kemajuan kota tidak hanya dilihat berapa jumlah APBDnya, tetapi juga pelayanan publiknya. (*)

About uman