Home » Kampus » Untuk Perubahan
Untuk Perubahan
Mahasiswa Universitas Tompotika (Untika) Luwuk, saat melakukan aksi di depan Kantor Rektorat meminta realisasi aspirasi mahasiswa untuk perubahan Untika ke depan, Rabu (6/4).

Untuk Perubahan

Keinginan melakukan perubahan adalah salah satu yang harus diperjuangkan oleh masyarakat. Pastinya, hal tersebut didasari dengan ketidakpuasan masyarakat terhadap kepemimpinan yang dinilai gagal membawa negara ataupun organisasi menjadi lebih baik.

Catatan : Andi Ardin A. Ndiona / Luwuk Post

Peristiwa Trisakti adalah salah satu contoh peristiwa yang mungkin tidak dapat dilupakan dalam sejarah demokrasi Indonesia. Demi perubahan, masyarakat Indonesia yang dipimpin oleh mahasiswa saat itu, melakukan perlawanan besar-besaran untuk menjatuhkan kepemimpinan orde baru yang dinilai sangat mencekik demokrasi. Tak tanggung-tanggung, demi melakukan perubahan di bumi pertiwi, masyarakat dan mahasiswa harus mengorbankan nyawa. Bisa jadi, peristiwa trisakti itulah yang saat ini dijadikan pegangan mahasiswa untuk membawa perubahan dalam tubuh Universitas Tompotika (Untika) Luwuk.
Dari awal berdirinya pada tahun 2000, dapat dikatakan Untika adalah salah satu kampus yang dibanggakan oleh masyarakat Kabupaten Banggai. Bukan hanya persoalan internal kampus, mahasiswa Untika pun selalu aktif mengawal berbagai macam kebijakan pemerintah dalam kapasitasnya sebagai penyambung lidah masyarakat. Ironis, mahasiswa yang dikenal sebagai pemuda Kampus Biru, saat ini tak nampak lagi di tengah-tengah masyarakat.
Bukan tanpa sebab, banyaknya persoalan yang terjadi dalam tubuh kampus biru adalah faktor utama yang memaksa mahasiswa harus fokus mengawal kebijakan kampus. Tentunya, ketidakpuasan mahasiswa terhadap kepemimpinan Untika saat ini menjadi landasan mahasiswa ingin melakukan perubahan.
Berbagai macam aksi dilakukan mahasiswa untuk melakukan perubahan di tubuh kampus biru itu. Puncaknya, melalui momen Pemilihan Rektor (Pilrek) periode 2016-2020, Jumat (8/4), mahasiswa terpaksa harus melakukan penyegelan terhadap kampus. Bahkan, akibat penyegelan tersebut, seluruh aktivitas masyarakat dalam ruang lingkup Untika lumpuh total. Dapat dibayangkan, seberapa besar keinginan mahasiswa untuk melakukan perubahan sampai harus melumpuhkan seluruh aktivitas Kampus Biru.
Beberapa bulan terakhir, momen pilrek Untika adalah salah satu wacana yang hangat diperbincangkan. Baik oleh mahasiswa, dosen, dan bahkan alumni. Terlepas dari berbagai macam problem dalam tahapannya, banyak pihak yang memprediksikan bahwa momen pilrek tersebut adalah kunci mahasiswa untuk melakukan perubahan.
Cukup rasional, melihat Untika dibawah kepemimpinan Marwan Mile sebagai Rektror Untika, tidak dapat dipungkiri kualitas Untika di mata masyarakat Kabupaten Banggai makin menurun. Tidak hanya mahasiswa, bahkan dosen pun mengakui hal itu.
Tuntutan mahasiswa mulai berdatangan melalui momen pilrek tersebut. Mulai dari tuntutan mahasiswa agar pilrek harus melalui Pemilu Raya (Pemira), penolakan terhadap calon yang aktif dalam partai politik, serta calon rektor yang harus berpredikat doktor (S3).
Cukup wajar. Tuntutan mahasiswa agar terlibat aktif dalam menentukan rektor yang baru adalah langkah awal demi perubahan Untika kedepan. Sebagai penopang utama keuangan Untika, mahasiswa juga harus mempunya andil dalam menentukan pimpinan Untika. Dalam hal ini, mahasiswa ingin mengulang kembali sejarah saat mahasiswa menjadi penentu lahirnya “tangan emas” Alm. Djafar Tongko, sebagai Rektor Untika beberapa tahun silam. Yang dinilai mampu membawa Kampus Biru ke level teratas sebagai universitas terbaik di Kabupaten Banggai.
Selain itu, penolakan mahasiswa terhadap calon rektor yang aktif dalam partai politik adalah hal yang harus mendapatkan perhatian dari beberapa pihak yang terkait. Dalam hal ini, untuk memajukan kampus biru tersebut dibutuhkan calon-calon yang mempunyai integritas terhadap kemajuan Untika tanpa keterlibatan unsur politik. Artinya, akademisi murni menurut mahasiswa adalah calon yang tepat untuk memimpin Untika.
Bukan karena kepentingan untuk memajukan salah satu calon. Tuntutan mahasiswa agar Rektor Untika kedepan harus berpredikat doktor (S3) akan memberikan dampak positif terhadap kemajuan kampus tersebut. Bagaimana tidak, jika hal itu terealisasi maka Untika adalah universitas pertama yang memiliki rektor yang berpredikat doktor di Kabupaten Banggai. Tentunya hal itu akan menunjang kebutuhan Untika jika nanti telah menjadi universitas negeri.
Seluruh tuntutan mahasiswa tentunya tidak dapat dipandang sebelah mata. Sebagai sasaran kebijakan yang dikeluarkan, tuntutan-tuntutan tersebut adalah harga mati. Bahkan, mahasiswa akan melakukan apa pun agar seluruh tuntutan tersebut dapat terealisasi. ”Kami ingin Untika kembali berjaya dan dipandang sebagai universitas terbaik di Kabupaten Banggai. Untuk itu kami mahasiswa akan melakukan apapun,” ungkap mahasiswa saat melakukan aksi di depan rektorat Untika beberapa waktu lalu. (*)

About uman