Home » Banggai Laut » Haji Jakaya Topang Ekonomi Warga Kendek
Haji Jakaya Topang Ekonomi Warga Kendek
Menerapkan prinsip saling bantu, H. A. Jakaya diakui warga telah memberi kontribusi yang cukup berarti terhadap perkembangan desa Kendek hingga saat ini.

Haji Jakaya Topang Ekonomi Warga Kendek

BANGGAI – Desa Kendek termasuk dalam wilayah administratif kecamatan Banggai Utara. Dengan penduduk sekira1.600 KK, Kendek terbilang desa maju dan kerap jadi acuan desa-desa disekitarnya. Maklum di sini banyak berkumpul orang-orang hebat dan kaum terpelajar. Di antara sekian pesohor, nama Haji A. Jakaya termasuk yang diperhitungkan. Pada Jum’at (1/4) di rumahnya yang asri, pedagang sukses yang jadi penampung utama Kopra dan hasil bumi lain di desa Kendek itu berkenan menceritakan kisah hidupnya.
Haji A. Jakaya mulai merintis usahanya di tahun 1976. Dengan modal awal Rp. 50.000 dia membuka kios kecil. Mula-mula dagangannya terbatas pada tembakau dan sabun serta beberapa produk permen. Dalam menjalankan bisnisnya H. Jakaya menerapkan manajemen yang ketat, bahkan untuk dirinya sendiri.
“Saya waktu itu masih merokok. Kalau tak punya uang saya ambil dulu di kios tapi dicatat, begitu juga keperluan lainnya. Gajian bulan depan baru saya bayar,” ucapnya.
Menerapkan sistem ini harus disiplin, kata dia. Sebab tanpa perhitungan kita sering keasyikan sehingga terjadi besar pasak daripada tiang. Pepatah yang berarti lebih banyak pengeluaran ketimbang pemasukan ini lanjutnya, sering dialami pedagang yang punya penghasilan lain disamping usaha dagangnya.
Sejak awal, Haji Jakaya sudah mewaspadai hal ini. Sebagai seorang guru, dia punya gaji bulanan. Meski tidak sebesar guru-guru sekarang namun penghasilan bulanan tersebut mampu diaturnya sedemikian rupa sehingga tidak menggerogoti pendapatan kiosnya.
“Akhir tahun pertama saya tutup buku. Hasilnya, modal Rp. 50.000 itu sudah jadi Rp. 300.000,” kisahnya bangga.
Lahir tahun 1947, Haji Jakaya termasuk kelompok siswa angkatan pertama sekolah dasar Kendek. Waktu itu tahun 1955, masih berstatus sekolah rakyat. “Lulusan pertama tahun 1960, hanya 6 orang. Tiga laki-laki termasuk saya. Maklum waktu itu yang namanya sekolah masih asing bagi anak-anak. Kita dikejar-kejar Kapita (sebutan untuk kepala desa). Lantaran ketakutan biasa torang sembunyi,” kenangnya.
Hari ini baru disadarinya, pengalaman masa lalu itu ternyata sangat berguna dan menjadi dasar pembentuk wawasan dan sikap hidup yang sekarang membawanya pada kesuksesan.
“Sejak saya buka usaha jual beli hasil bumi, saya memegang prinsip jika ada warga yang meminjam uang untuk kebutuhan sekolah anaknya atau karena hendak berobat, saya harus berikan meskipun hasil kebunnya tidak sesuai dengan pinjaman,”  paparnya.
Tentang perjalanan usahanya, Haji Jakaya mengaku banyak mengalami pasang-surut. Sebagai bisnismen desa, dia harus menjalin hubungan dengan pedagang besar di Banggai. Mayoritasnya adalah pengusaha asal Tionghoa yang telah lama menetap di daerah ini. Salah satu yang paling berpengaruh menopang usahanya adalah UD. Victoria, milik pengusaha Frans Bukamo. Sayang pebisnis yang akrab disapa ko Nyong itu telah meninggal beberapa tahun lalu.
“Sudah banyak juragan yang saya ikut, tapi kemajuan usaha saya lebih terasa sejak saya bergabung dengan ko Nyong,” tuturnya.
Sampai sekarang dia masih terus menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan itu yang pengelolaannya telah dijalankan oleh keluarga besar Frans Bukamo. Sejumlah warga yang dikonfirmasi mengakui bahwa keberadaan usaha Haji Jakaya merupakan salah satu unsur penting yang turut menopang gerak perekonomian di desa Kendek. (Sbt/adv)

About uman