Home » Luwuk Utara-Timur » Sempat Pamitan Sebelum Dipanggil Tuhan
Sempat Pamitan Sebelum  Dipanggil Tuhan
Fahmi Lestari, memperlihatkan foto anaknya Rudianto, saat masih hidup, saat ditemui koran ini Kamis (31/3). Rudianto meninggal karena terserang penyakit DBD, nampak juga kondisi rumah Rudi.

Sempat Pamitan Sebelum Dipanggil Tuhan

Mendengar penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), semua warga pasti khawatir karena akan berujung pada kematian. Seperti yang dialami Rudianto, bocah 5 tahun Kelurahan Hanga-Hanga, Kecamatan Luwuk Selatan.

Catatan, Fajri Rahmadhani/Luwuk Post

Dua buah terpal berwarna coklat dan biru masih terpasang diatas tiang depan gubuk kecil di Jalan Flamboyan Kelurahan Hanga-Hanga, Kamis (31/3).
Sejumlah kursi plastik tersusun rapi dibawah terpal yang beralaskan tanah yang masih basah, akibat sisa hujan yang menyelimuti kota Luwuk beberapa hari terakhir.
Dari kejauhan, seorang perempuan dengan mengguanakan pakaian daster berwarna biru, bermotif cokelat dan rambut terurai. Terlihat duduk manis sambil merenung didalam ruangan yang ukurannya sekira 3×3 meter itu, perempuan ditemani dua rekannya.
Melihat matanya yang sedikit membengkak dan masih berkaca-kaca itu, tidak bisa dibohongi kalau perempuan itu masih menyimpan duka mendalam, yang sulit dilupakan.
Ia adalah Fahmi Lestari, ibu yang baru beberapa hari kehilangan anaknya yang baru berumur 5 tahun, Rudianto namanya. Bocah malang meninggal karena terserang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Tidak terbesit dipikiran Fahmi, jika akan ditinggalkan oleh anak satu-satunya dari suami keduanya, Udarianto itu. “Saya pikir hanya panas biasa saja, karena setelah saya bawa berobat, panas Rudi langsung turun, bahkan dia sudah bisa tertawa,” tutur perempuan keturunan Jawa itu, sembari mengenang kejadian, Minggu, (21/3) lalu itu.
Namun, dua hari kemudian, panas Rudi tiba-tiba naik lagi, hingga ia berinisiatif langsung membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Luwuk, kekhawatirannya akan DBD sejenak hilang karena saat diperiksa. Rudi hanya dinyatakan inspeksi paru-paru, serta kondisi darahnya normal. “Saya membenarkan kalau dikatakan infeksi paru-paru karena pernah melihat Rudi kerap menarik nafas dalam-dalam, namun ia tidak bilang kalau sakit,” terangnya.
Hari demi hari, Rudi terus dirawat di rumah sakit, namun pada hari ke 5, bocah yang bersekolah di TK Cokro itu gelisah seakan tidak tenang, disitulah ia tahu kalau Rudi bukan hanya terkena infeksi paru-paru, tetapi juga DBD. “Sempat tenang tapi kemudian gelisah lagi sampai 3 kali, namun yang membuat saya tegar saat orang-orang disekitar ruang anak itu bilang Rudi ini kuat,” kenangnya lagi.
Namun reaksi akan penyakit DBD tersebut terus saja membuat Rudi semakin tidak nyaman, ditambah raut wajahnya serta hawa kakinya yang sudah dingin, seperti memberitahukan kalau ia tidak kuat lagi menahan, hingga membuat Fahmi seakan sudah pasrah akan umur Rudi. “Kalau saya sedang menangis, Rudi langsung bilang mama jangan menangis, kalau menangis katanya sembunyi,” aku Fahmi seraya mengelap air matanya yang sudah membasahi mata.
Dan yang paling memilukan, 20 menit sebelum menghembuskan nafas terakhir, anak yang dikenal cerdas di sekolah dan akrab dengan semua temannya itu berpamitan kepadanya dan juga orang sekitar. “Dia bilang ibu minta maaf, sesh juga dia minta maaf, katanya dia so tidak mampu,” kenangnya lagi.
Fahmi mengaku, jika tidak berpulang kerahmatullah, sebenarnya Minggu (27/3) Rudi akan merayakan ulang tahunnya yang ke 5, meski tanggal lahirnya 14 Maret. “Gurunya sangat senang dengan kepribadian Rudi yang begitu pendiam, katanya dari pada mengurus 40 siswa, lebih baik mengurus Rudi,” ungkapnya.
Tidak hanya disekolah, warga disekitar juga sangat senang dengan Rudi, itu terlihat saat dinyatakan meninggal, banyak warga berkumpul dan memadati rumahnya. “Rudi juga hobi menyanyi dan banyak lagu yang dia hafal, sampai lagunya Meriambelina, biasanya kalau tidak ada yang dia bikin sering karaoke di dalam rumah,” akunya.
Fahmi juga mengenang beberapa bulan sebelum kepergian Rudi, dimana saat itu ia di Bali, sempat berpesan kepadanya ingin dibelikan mainan mobil dan pesawat berwarna putih, namun tidak sampai berpikiran kalau itu permintaan terakhirnya. “Saya bilang yang warna lain saja, tetapi Rudi maunya tetap yang warna putih,” kenangnya lagi.
Kini Rudi tinggalah kenangan, Fahmi hanya bisa berharap anak yang pendiam tapi menyenangkan itu bisa tenang di alam barzah sana. (*)

About uman