Home » Berita Utama » Duduk Tegang Melihat Tulisan Diedit di Koran
Duduk Tegang Melihat Tulisan Diedit di Koran
Mantan CEO Jawa Pos, Dahlan Iskan, tak pernah bosan mentransfer ilmu jurnalistik, dimanapun dan kapanpun. Nampak saat Dahlan Iskan mengoreksi tulisan wartawan koran ini di Rumah Makan Sunu, Rabu malam.

Duduk Tegang Melihat Tulisan Diedit di Koran

BULIR keringat terasa mengalir di sela sela rambut. Angin laut yang berhembus di etalase rumah makan Sunu, Kilometer Lima, mendadak seperti berhenti, sesaat setelah Dahlan Iskan bertanya tentang catatan perjalanan saya ke Sorowako.  

Laporan: Haris Ladici, Luwuk Post

“Anda yang menulis ini? Bagus. Cukup bagus. Punya gaya sendiri. Saya tak keberatan. Jangan semua seperti (gaya menulis-red) Saya,” tuturnya memuji paragraf kedua dari laporan perjalanan edisi kedua yang dimuat Luwuk Post, Rabu (30/1) itu.
Lantas beberapa kritikan tajam pun mulai terlontar dari sang maha Guru di Jawa Pos Group itu.  Kalimat per kalimat, kata per kata, titik dan koma. Dihapus dan diedit. Disesuaikan dan dirasionalkan. Sampai benar benar pas dan enak dibaca. Saya yang mendengar dan melihat tangannya mengedit langsung pada koran Luwuk Post duduk dengan tegang. Gugup. Tapi juga sangat gembira. Bersyukur karena tulisan itu dibaca dan diedit langsung oleh Dahlan Iskan, mantan wartawan Tempo, mantan wartawan Kompas sekaligus mantan CEO Jawa Pos.
Dahlan Iskan memang masih seperti tujuh tahun lalu, saat mengunjungi kantor redaksi Luwuk Post, tahun 2009 silam. Darah seorang wartawan tak pernah luntur. Dahlan Iskan selalu mengingatkan soal kualitas redaksi, kualitas dan kualitas berita.“Koran harus tetap dikangenin pembaca, hanya tulisan dan berita yang berkualitas lah yang membuat pembaca mencintai koran,” tegasnya Rabu malam (30/1).
Ia bahkan terus mendorong wartawan untuk “memanaskan” isi kepala dengan banyak membaca. “Buku (novel) apa saja yang sudah dibaca,” tanya Pak Dahlan. Saya bergegas menyebut beberapa nama penulis yang buku dan novelnya Saya baca dua bulan terakhir.
***
Selepas makan malam, Dahlan Iskan lantas mengunjungi kantor redaksi Luwuk Post. Menyalami satu persatu wartawan dan karyawan yang menunggunya. Ruangan demi ruangan kantor ditengoknya.“Alhamdulillah cukup bersih, toiletnya apalagi. Saya senang,” katanya. Ia pun tak pelit memberi saran ini itu saat melihat ada yang kurang pas. “Tapi terserah,” ujarnya lagi, lantas tertawa.
Kepada para wartawan yang langsung mengerubuninya seusai melihat lihat kantor redaksi, Dahlan Iskan mengapresiasi kantor Luwuk Post, desainnya, dan kebersihannya.”Tinggal percetakan ya, tinggal sekali sentuh lagi percetakan,” sarannya.
Jangan sampai kata dia, antara percetakan dan kantor redaksi terlalu jomplang. Jangan sampai terlihat seperti beauty and the beast.
Ia juga meminta taman yang menghadap jalan dibenahi. “Diurus ya. Harus menjadi contoh bagi masyarakat,” tambahnya.
Dahlan Iskan mengaku, meskipun “bukan apa-apa lagi, namun Ia selalu senang mengunjungi anak-anak perusahaan Jawa Pos. “Ternyata lebih bagus dari yang saya bayangkan. Terimakasih. Saya senang,” tuturnya.
Dahlan Iskan tidak merasa sumpek setibanya di kota ini, setelah tiga hari terakhir menjejak kaki di sembilan kota. “Untung pesawat Lion dari Surabaya tidak delay sehingga penerbangan ke Luwuk bisa konek,” katanya.
Ia senang karena bisa mencocokkan jadwal pada waktu yang sangat mepet, bergegas dalam kereta api, memburu jam pemberangkatan, tepat waktu, tidak delay dan lantas dijamu di rumah makan dengan makanan yang menurutnya enak.”Saya merasa itu makanan paling enak dalam sebulan terakhir,” katanya sembari tertawa.
Setibanya di bandara SAA Amir Rabu sore (31/3), Dahlan Iskan yang hanya sekira 12 jam di Kota Luwuk, masih sempat melihat lihat kota, termasuk kawasan halimun. Seperti yang didengarnya, Dahlan Iskan pun mengakui tak ada kemajuan berarti dalam pengembangan kota ke arah kawasan tersebut.
****
Bersama para wartawan dan karyawannya, yang duduk mengelilinginya, dari depan, samping kiri dan kanan di teras samping kantor Luwuk Post, Dahlan Iskan mengingatkan soal kerja kerja kerja. Ia juga mengingatkan tiga hal yang membuat orang berprestasi terjungkal dan “masuk parit”. Antaranya tidak menjaga kesehatan. “Orang muda muda itu godaannya banyak. Ketika prestasi dan hasil kerja telah teruji, untuk terus berkarier tergantung tiga hal. Pertama, kesehatan. Sudah banyak contoh orang berprestasi berhenti karena jatuh sakit,” katanya.
Dahlan mengakui orang orang muda memiliki kecenderungan bekerja tanpa determinasi dan mengabaikan kesehatan. “Jangan nanti seperti itu, jangan banyak makan mie instan, minuman berenergi. Boleh. Sesekali saja. Jangan jadi kebiasaan,” ujarnya langsung disambut tawa wartawan dan karyawan Luwuk Post. Maklum saja, mie instan dan coffee menjadi santapan dan minuman setiap malam, satu dua porsi, satu, dua gelas, bahkan sampai tiga gelas dalam semalam.  “Kalau tertarik dengan olahraga, saya justru sangat mendorong itu,” tambahnya.
Yang kedua adalah tidak tahan godaan uang. Ia percaya dengan sistem kontrol yang baik, peluang seperti itu tertutup di Jawa Pos Group. “Sealim-alimnya orang kalau tidak ada yang mengontrol ada saja godaannya. Dan sanksinya berat karena hal ini sudah terkait dengan integritas,” tuturnya. (*)

About uman