Home » Kampus » Kandidat Takut atau Malu-malu?
Kandidat Takut atau Malu-malu?
Suasana politik jelang pemilihan Rektor Universitas Tompotika (Untika) Luwuk, terlihat biasa-biasa saja. Belum nampak terlihat calon-calon kandidat yang ingin maju bertarung dalam bursa pemilihan, Jumat (25/3).

Kandidat Takut atau Malu-malu?

PEMILIHAN kembali orang nomor satu dalam universitas sama halnya dengan pemilihan kepala daerah. Pastinya, akan terlihat beberapa kandidat yang akan menunjukan taringnya untuk menarik perhatian. Namun, lain halnya dengan pemilihan kembali Rektor Untika kali ini,  belum ada  kandidat yang bernafsu  menduduki jabatan di kampus biru itu.

Laporan: Andi Ardin A.Ndiona/  Luwuk Post

SANGAT mengherankan  suasana  kampus Universitas Tompotika (Untika) Luwuk beberapa bulan terakhir. Sejak dibentuk Panitia Penjaringan dan Penyaringan Bakal Calon Rektor, hingga saat ini, dinamika  dalam proses pemilihan Rektor  terlihat biasa-biasa saja. Bahkan, waktu pemilihan yang tinggal menghitung, belum  terdengar kandidat bakal calon rektor yang digadang-gadang berpotensi untuk maju bertarung memerebutkan posisi terseksi di kampus biru itu.
Timbul pertanyaan dibenak mahasiswa dan masyarakat, apakan kandidat yang digadang-gadang berpotensi tersebut takut atau malu-malu? atau tidak
adakah lagi calon-calon pemimpin yang mempunyai keinginan besar untuk memperbaiki dan membangun kembali kejayaan Untika di masa depan?.
Tidak dapat dipungkiri, pamor Untika di mata masyarakat beberapa tahun terakhir memang telah menurun drastis. Melihat kondisi itu sudah seharusnya kaum muda yang memiliki integritas dan pemikiran maju, kembali memimpin dan memperbaiki Untika.
Memperbaiki dan menaikan kembali pamor Untika dimasa depan jelas bukanlah hal yang mudah. Melihat kondisi pembangunan serta persoalan-persoalan mahasiswa yang terdapat di salah satu kampus terbesar di Kabupaten Banggai itu.
Rektor terpilih kedepan harus ekstra kerja keras. Dapat dikatakan, ketakutan calon kandidat untuk tidak  maju bertarung dalam pemilihan adalah karena tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut,
sehingga memilih menutup diri dan mencari amannya saja.
Sangat disayangkan, untuk menyelesaikan persoalan yang ada, masyarakat dalam ruang lingkup kampus biru itu tidak mempunyai keberanian sedikitpun untuk menyatakan sikap ingin melakukan perbaikan.
“Persoalan seperti itulah yang menjadi ketakutan calon kandidat,” ungkap  salah satu mahasiswa Untika, Ikbal, Jumat (25/3).
Selain itu, sistem yang digunakan dalam pemilihan Rektor Untika dengan memberikan hak penuh kepada fakultas serta lembaga kemahasiswaan untuk merekomendasikan bakal calon, membuat calon kandidat yang digadang-gadang itu terkesan malu-malu untuk menyatakan sikap.
Bagaimana tidak, untuk mendapatkan rekomendasi dari fakultas serta lembaga kemahasiswaan, calon kandidat yang ingin maju   harus menarik simpati agar mendapatkan rekomendasi tersebut. Akan sangat memalukan jika calon kandiat yang telah menyatakan sikap ke publik akan maju bertarung, namun kedepanya tidak mendapatkan rekomendasi itu.
Kembali lagi, untuk memberbaiki Untika dimasa depan, calon pemimpin harus membuang jauh-jauh gengsi serta rasa malu jika nanti tidak mendapatkan rekomendasi. Sebab seorang calon pemimpin yang berkualitas akan dinilai dari sikap optimis terhadap keputusan yang telah diambilnya.  Jika tidak, calon-calon pemimpin tersebut hanya akan lebih memperparah kondisi kampus biru.
Dalam hal ini, melihat kondisi Untika yang setiap tahunnya makin terpuruk, melalui momen pemilihan rektor kembali seharusnya dapat dimanfaatkan oleh seluruh pihak terkait untuk menentukan dan memilih kandidat calon rektor yang tepat. Baik dari segi syarat normatif serta integritas yang tinggi untuk memperbaiki dan memajukan kembali Untika tanpa rasa takut dan pesimis terhadap keputusan yang telah diambil.  Sebab, sejatinya seorang pemimpin harus memiliki keberanian dan optimisme yang tinggi untuk
mencapai tujuan yang lebih baik. (*)

About uman