Home » Politik » Kritisi DPRD, Minta Aleg Introspeksi Kinerja
Kritisi DPRD, Minta Aleg  Introspeksi Kinerja
Idhin Masa

Kritisi DPRD, Minta Aleg Introspeksi Kinerja

LUWUK—Pimpinan Gabungan Aktivis Manthailobo (GAM), Idhin Masa menyatakan dukungan kepada salah seorang aktivis lingkungan, Adhielo. Menurut dia, warning Adhielo kepada Anggota DPRD Kabupaten Banggai yang duduk di Komisi III terkait  tudingan indikasi dugaan oknum papa minta air adalah bentuk spirit atas kinerja lembaga terhormat tersebut.
“Memang mencemari nama baik, tapi kalau memang tidak benar tidak perlu direaksi. Sebenarnya ini menjadi motivasi seluruh anggota Parlemen dalam menyelesaikan segala persoalan yang mereka tangani,” jelas Idhin, Kamis (17/3).
Idhin menganggap, tindakan Adhielo adalah tamparan positif agar DPRD tidak bermain-main dalam menuntaskan problematika yang dilaporkan. Buktinya, beberapa waktu terakhir tidak sedikit masalah yang ditangani DPRD yang tak membuahkan hasil seperti, hearing PT Mario Teknikatama, soal manggrove, sertifikat tanah, ketenaga kerjaan, galian C dan lain sebagainya. Idhin menduga, ketidakjelasan penuntasan masalah akibat adanya indikasi dugaan transaksional yang dilakukan sejumlah anggota pemegang kebijakan dengan pihak perusahaan.
“Sepertinya terjadi permainan setengah kamar yang sesungguhnya tidak prosedural. Mengapa persepsi itu muncul, sebab selama ini memang tak jelas ujung dari apa yang dihearing DPRD,” katanya.
Kini, persoalan hangat yang ditangani DPRD dalam hal ini Komisi III adalah masalah krisis air bersih. Sesama aktivis pecinta alam, GAM bersepakat dengan Adhielo agar persoalan tersebut juga melihat dari sisi kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Idhin mengaku tak heran atas sikap Adhielo. Sebab, bisa jadi itu adalah bentuk pesimistis dan kekhawatiran Adhielo terhadap DPRD ketidakjelasan penanganan akan kembali terjadi menimpah kasus PDAM dan Awesome.
“Kalau nantinya terjadi demikian jangan heran kemudin timbul kecurigaan yang lebih parah dari papa minta air. Saya curiga sejumlah perusahaan yang tak jelas penyelesaiannya telah dijadikam ‘papa-papa’ lain sebagai tempat meminta air, saham atau kepentingan lain,” ungkap Idhin menduga.
Meski demikian, Idhin menyadari di DPRD masih terdapat sejumlah aleg yang bersungguh-sungguh ingin menuntaskan permasalahan yang menjadi keluhan masyarakat. Namun, apaladaya jika oknum yang terindikasi melakukan deal-deal politik adalah anggota penentu kebijakan yang notabene adalah kalangan pemimpin di Parlemen Teluk Lalong.
“Jadinya hanya penindasan keadilan yang ada. Kalau seperti begini terus sistem penyelesaian masalah di DPRD bisa-bisa kepercayaan publik memudar dengan sendirinya. Kalau memang serius ingin membela kepentingan rakyat buktikan dengan kerja dan hasil nyata, bukan saling menuding atau lempar tanggung jawab serta anti kritik,” cetusnya.
Sebagai pihak  yang kerap mengadvokasi serta menggiring masalah ke DPRD, Idhin mengaku kecewa atas sejumlah kerja-kerja legislatif. Alasannya, tidak sedikit masalah yang tak jelas ujungnya dan menghilang begitu saja.
“Jadi DPRD jangan terlalu alergi dengan berbagai tudingan. Kalau tidak mau disorot lakukan kerja nyata secara objektif dan prosedural dengan menghindari deal-deal transaksional. Segera cari solusi dan perlihatkan wujud dari apa yang ditangani, dan jangan hanya selalu berdalil bukan eksekutor,” pungkasnya.(man)

About uman