Home » Berita Utama » Dua Aleg Somasi Adhielo
Dua Aleg  Somasi Adhielo
Muh Djufri Diko

Dua Aleg Somasi Adhielo

LUWUK—Tudingan Ketua Forum Kota Air Luwuk (Fokal), Adhielo terkait oknum ‘papa minta air’ kepada Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Banggai, Saripudin Tjatjo alias Om Arif dan anggotanya Muh Djufri R Diko diragukan kebenarannya. Pasalnya, hingga saat ini Adhielo dianggap tak dapat menunjukan bukti dan fakta atas tudingan yang merusak citra ke dua wakil rakyat tersebut.
Sebagai bentuk keberatan, Om Arif dan Djufri Diko terpaksa mengambil sikap tegas dengan mengeluarkan somasi melalui pengacara Andi Munafri. Djufri menegaskan dia dan Om Arif tak pernah melakukan perbuatan keji itu. Kendati begitu, tudingan Adhielo dinilai terlanjur mencemari nama baik mereka.
“Kalau memang Adhielo memiliki bukti atau fakta atas tudingannya silahkan dilaporkan ke pihak yang berwajib. Kami bahkan sangat siap jika persoalan ini di tindaklanjuti melalui jalur hukum,” tegas Djufri, Rabu (16/3).
Awalnya Om Arif dan Djufri berencana melayangkan laporan polisi atas perkara pencemaran nama baik. Namun, mengingat selama ini Adhielo terus mengadvokasi berbagai pihak untuk mengatasi krisis air bersih mereka kemudian berinisiatif untuk sekedar mengeluarkan somasi.
“Kami bisa menggiring persoalan ini ke ranah hukum, ini sungguh merusak nama baik. Tapi bagaimanapun kami mengenali Adhielo, kami juga berpikir apa yang dinyatakannya di media pengaruh sentimental seorang pemuda yang belum stabil melihat kondisi saat ini, dia perlu dibina,” katanya.
Somasi, lanjut dia, ditujukan atas pribadi Adhielo dengan tidak melibatkan organisasi KPA (Komunitas Pencinta Alam). Begitu halnya Om Arif dan Djufri, dalam melayangkan somasi mereka tidak melibatkan lembaga DPRD melainkan secara person.
“Jadi kami meminta kesadaran Adhielo untuk meminta maaf dan mengklarifikasi ke media atas tudingan tak berdasar itu,” pintah Djufri.
Dalam pernyataannya, Adhielo mempersoal sikap Djufri yang menganggap persoalan CV Berkat Cinta Abadi (BCA) hanyalah miss komunikasi ditengah berlangsungnya hearing bersama pihak perusahaan dan SKPD terkait serta PDAM. Terkait itu, Djufri menjelaskan, dalam menyelesaikan persoalan dirinya melihat secara komprehensif, bukan hanya mendengar keterangan salah satu pihak.
“Saat hearing saya juga mengatakan faktor lain dibalik persoalan ini akibat kelemahan regulasi. Misskomunikasi mana yang sebenarnya dimaksud?” tanya politikus asal Fraksi-PAN ini.
Tak hanya itu, Adhielo juga mempersoal keterbatasan hak berpendapat yang diberikan Komisi III saat hearing kepada para pegiat KPA. Menjawab itu, ditekannya kembali, kehadiran Adhielo Cs di ruang rapat DPRD Banggai saat hearing terkait tindaklanjut penanganan Awesome bukan dalam kapasitas sebagai undangan. Komisi III, lanjut dia, selalu membuka diri untuk itu, hanya saja hingga menjelang hearing KPA tak pernah melakukan koordinasi.
“Seandainya sebelum hearing dikoordinasikan kami pasti ikut melibatkan mereka secara resmi dengan melayangkan undangan. Meski demikian, toh kenyataannya Komisi III memberikan kesempatan berpendapat kepada dua perwakilan KPA. Bahkan, karena masih ada yang ingin menyampaikan aspirasinya,  Komisi III kembali memberikan kesempatan untuk dua orang lagi, apakah itu bukan ruang berpendapat,” cetusnya.
Lagipula, sambung Djufri, sejak awal kunjungan Komisi III ke Awesome hingga terkuaknya sejumlah ijin yang bermasalah Adhielo Cs tak pernah memberikan laporan resmi tertulis yang dapat ditindaklajuti.
“Apa yang dilakukan Komisi III selama ini terkait penanganan Awesome atas dasar inisiatif saya, kami belum pernah menerima laporan resmi dari Adhielo atau anggota KPA lainnya. Hanya saja ditengah penanganan Awesome Pimpinan Komisi III pergi menunaikan ibadah umroh selama 2 minggu sehingga rumor tak sedap yang dialamatkan kepada kami mulai dihembuskan. Toh nyatanya setiba pimpinan di Luwuk penanganan langsung dilanjutkan,” ungkapnya.
Tudingan miring Adhielo ternyata juga dirasakan oleh sejumlah pegiat KPA. Rabu (16/3) kemarin, Direktur KPA Iguana, Rahmat Palopi mendatangi DPRD Banggai untuk bertemu Djufri R Diko dan Om Arif. Di ruang Komisi III, Rahmat menyampaikan kepada Djufri bahwa apa yang disampaikan Adhielo adalah atas inisiatif pribadinya, bukan mengatasnamakan LSM Iguana. Rahmat mengaku terkejut mendengar kabar tersebut, sebab menurutnya, di internal KPA Iguana tidak pernah terbesit tudingan oknum papa minta air kepada Djufri dan Om Arif.
“Oknum papa minta air memang ada, tapi bukan berarti pak Djufri dan Om Arif. Kejelasannya masih tanda tanya, selama ini kamipun belum mengetahui siapa oknum yang dimaksud. Mungkin saja keberadaannya di PDAM, Awesome, lembaga DPRD atau SKPD terkait pengurusan izin. Tapi terkait siapa nama pelakunya kami tidak tahu,” terangnya yang didampingi pegiat KPA lainnya diantaranya, Sutrisno Durant.
Harusnya, kata dia, sebelum menuding Adhielo membicarakan ini di internal KPA. Sebab diakui Rahmat sebelumnya Adhielo tak pernah menyentil akan membuang statement tudingan itu ke media.

Adhielo: Itu Hanya Indikasi
Terpisah, Adhielo menegaskan, dirinya tak berniat menuding Muh Djufri Diko dan Saripudin Tjatjo sebagai oknum papa minta air.
“Saya hanya mengindikasikan dugaan oknum papa minta air itu kepada pak Djufri dan Om Arif, bukan berarti menuding langsung. Ini hanya sebagai motivasi saya kepada Komisi III supaya segara mengatasi krisis air bersih yang selama ini dikeluhkan masyarakat,” tegasnya, Rabu malam (16/3).
Adhielo sendiri mengaku tak tahu menahu siapa sebenarnya oknum papa minta air tersebut. Bisa jadi, duga dia, keberadaan oknum itu di SKPD, PDAM, DPRD atau Awesome.
“Yang jelas saya akan fight ingin mengungkap siapa oknum itu. Kalau disuruh memilih, saya akan rela mengorbankan oknum pejabat dibalik papa minta air ketimbang harus mengorbankan rakyat. Bila perlu persoalan ini diselesaikan dengan melibatkan adat,” pungkasnya.
Ia berharap dalam pengembangan hearing DPRD bisa memperjelas persoalan itu ke pihak PDAM, sehingga akan terkuak siapa sebenarnya oknum yang dimaksudkan sebagai ‘papa minta air’.  Sebab, berbagai persoalan mengenai air minum sejatinya jawabannya ada di perusahaan daerah itu sendiri.(man)

About uman