Home » Torang p Sekolah » Anak anak “Atap” Patukuki
Anak anak “Atap” Patukuki
Masih berpikir kalau sekolah itu tidak penting? Anak anak Tilani telah terbiasa bersekolah di sekolah yang hanya berlantaikan tanah dan beratap Rumbia.

Anak anak “Atap” Patukuki

DI sini semua anak, akan tidur lebih cepat. Mereka bukan asli Patukuki, orang tua mereka hanya pendatang dari daerah tetangga. Mereka bermukim jauh di atas desa karena orang tua mereka bermukim dan mencari nafkah dengan bertani di sana.

Laporan: Rizka Chaniago / Luwuk Post

Di Tilani daerah bagian atas Dusun III Patukuki Peling Tengah itu, ada 26 anak yang berstatus peserta didik. Empat siswa kelas 1 SD, dua siswa kelas 2 SD, enam siswa kelas 4 SD, empat siswa kelas 5 SD, dan sepuluh siswa kelas tujuh SMP. Mereka semua adalah pejalan kaki yang tangguh. Benar benar tangguh.
Rutinitas pagi mereka sederhana. Bangun pukul 5 pagi, sarapan lalu jalan kaki 500 meter ke bak penampungan air dibawah pemukiman mereka untuk mandi. Baru setelahnya bersiap siap pergi sekolah. Hanya dengan kaus oblong,celana pendek dan sendal jepit serta tas sekolah.
Perjalanan mereka dimulai saat matahari belum bersinar. Adakalanya mereka turun bergerombol, katanya agar cape tidak terlalu terasa. Tapi ,karena jam pulang sekolah yang berbeda beda, terkadang mereka pulang sendiri sendiri.
Kaki anak anak ini kecil,kuat dan padat. Kuat tak lemah, kulit mereka tidak putih walaupun tinggal di daerah pegunungan. Wajah mereka semua tegas, tidak kenal takut, tidak menggambarkan kelemahan.
Sampai dibawah, mereka akan mengambil sepatu dan seragam sekolah yang dititip ke warga Tilani yang telah tinggal dibawah. Di Dusun bersama masyarakat Patukuki lainya.
Amor anak kelas 5 SD. Badanya kecil, hobinya main bola. Walupun daerah permukimanya berada 2,5 km diatas Patukuki, dia tidak pernah sekalipun terlambat datang ke sekolah. Jangan pikir bagaimana caranya anak se kecil ini pulang ke rumah. Karena, Amor sering pulang jalan kaki sendiri.
Jangan pikir, sebelum dia naik ke atas, dia makan siang terlebih dahulu. Tidak, perutnya belum terisi tapi dia harus menempuh jalanan terjal berbatu untuk sampai dirumah. Uang jajan? ada kok Amor diberikan uang jajan sebagai bekal, lumayan Rp 3 ribu setiap hari. Baginya itu jumlah yang besar. Dan dia tidak mengeluh.
“ Supaya sepatu tidak cepat rusak, sepatu sa titip dibawah,” jelasnya malu malu.
Amor mungkin sudah sedikit lebih besar dari pada Pedro. Badan Pedro lebih kecil dari Amor, kakinya lebih kurus dari punya Amor. Kulitnya sedikit lebih hitam dari pada Amor. Saat pulang sekolah, seluruh badannya bersimbah keringat. Rambutnya basah seperti habis dikeramas. Nafasnya terengah engah. Tapi dia masih bisa tertawa saat diajak bercanda.
Pedro punya adik perempuan, Desi namanya, Desi juga bersekolah namun karena masih kelas satu jadinya  Desi masih bersekolah dikelas jauh yang berada di pemukiman mereka.
Pedro,Amor dan anak anak Tilani lainya punya cita cita yang sama, ingin melanjutkan sekolah hingga ke tahap yang lebih tinggi. “ Saya ingin melanjutkan sekolah kalau orang tua saya mampu,” Amor menimpali.
Orang tua mereka yang petani memilih tinggal di Tilani, katanya kebun mereka dekat, terjangkau. Tapi karena hal ekonomi anak anak Tilani terpaksa turun naik gunung hanya untuk bersekolah.
Dikampung mereka, tidak ada tiang listrik, tapi ada Panel Surya. Ada jaringan pula. Tetap saja masyarakat Tilani seperti jauh tertinggal.
Pemukiman mereka bukan Desa,bukan pula Dusun. Mereka hanya pemukiman warga bagian dari dusun III. Tapi anak anak desa Tilani punya semangat untuk bersekolah. Sekalipun dengan keadaan seperti itu. Turun ketika matahari masih malu malu menampakan wajahnya, naik ketika matahari bersiap siap untuk kembali ke peraduannya. Mereka terbiasa untuk tidak mengeluh. Untuk rajin bangun pagi demi menuntut ilmu yang tidak mungkin didapatkan di rumah.
Agak berbeda dengan anak anak yang sekolah di daerah perkotaan. Yang maish sering melakukan kenakalan khas remaja. Bolos sekolah. Megeluh karena uang jajan yang tidak cukup dan sejuta alasan yang jauh dari kata bersyukur. (*)

About uman