Home » Metro Luwuk » Kegiatan Disparekraf Tak Jelas
Kegiatan  Disparekraf  Tak Jelas
Rapat koordinasi persiapan GMT dengan seluruh SKPD, Polres, TNI, BMKG serta perwakilan PLN Luwuk di ruang rapat Kantor Bupati Banggai, Jumat (4/3).

Kegiatan Disparekraf Tak Jelas

LUWUK-Kegiatan yang digagas Dinas Parawisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Banggai dalam rangka menyemarakkan Gerhana Matahari Total (GMT) pada 9 Maret mendatang tidak jelas.
Dalam kegiatan tersebut, Disparekraf akan membuat kegiatan festival seni budaya Kabupaten Banggai di wisata Pulau Dua, Desa Kampangar, Kecamatan Balantak Utara pada tanggal 7 hingga 9 mendatang. Kegiatan ini dilakukan untuk mempromosikan budaya, makanan khas serta kesenian daerah kepada wisatawan asing yang datang di lokasi wisata kebanggaan masyakat Babasal.
Ironisnya, H-3 sebelum kegiatan, tidak ada persiapan yang berarti dari dinas yang nahkodai Isnaeni Larekeng tersebut. Terbukti, banyak masyarakat yang tidak tahu keberadaan kegiatan festival itu, justru yang paling menonjol hanyalah kegiatan yang digagas anggota DPRD Banggai di teluk Lalong Luwuk.
Ketidaksiapan Disparekraf terkuat ketika rapat koordinasi bersama instansi terkait di ruang rapat khusus Kantor Bupati Banggai, Jumat (4/3).
Pasalnya, Polres Banggai memaparkan kondisi Pulau Dua saat melakukan observasi pengamanan puncak peringatan GMT di Desa Kampangar pada 3 Maret 2016 lalu.
Dalam rapat yang dipimpin Asisten II Pemda Banggai Sutanto Hambali tersebut, Kabag Ops Polres Banggai, AKP Andi Saiful Arif, mengungkapkan kondisi Pulau Dua yang tidak terawat. Seperti pelabuhan penyebrangan yang sudah roboh, tempat menginap (resort) yang tidak memiliki aliran listrik dan air, atap yang sudah bocor serta transportasi yang seadanya. Ironisnya lagi, banyak sampah yang membanjiri wisata Pulau Dua.
“Di sana ada speed boat dan perahu nalayan yang akan menyebrangi wisata asing maupun lokal di Pulau Dua. Tapi, lokasinya kotor dan tidak ada listrik dan air bersih,” beber Andy.
Selain itu, kata dia, hanya ada 6 wisatawan asing yang diketahui akan mengunjungi Pulau Dua. Padahal, beberapa pekan yang lalu, Pulau Dua dikabarkan akan dibanjiri ratusan bahkan ribuan wisatawan asing maupun lokal. Namun, pihaknya tetap memberikan pengamanan secara ketat di lokasi tersebut dengan menurunkan 145 anggota polisi dari darat maupun laut. “Kalau yang sudah diketahui hanya 6 turis saja, padahal dikabarkan ribuan,” tuturnya sambil senyum.
Berbeda dengan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) yang memaparkan kesiapan transportasi. Sekretaris Dishubkominfo Nataniel Patolemba menyatakan, sejak setahun lalu, pihaknya sudah dihubungi oleh tim Adventure Indonesia untuk berkoordinasi dalam menyiapkan sarana transportasi darat. Dalam tim tersebut, terdapat 12 wisatawan asing asal Jepang yang akan berkunjung ke Luwuk dengan tujuan melihat langsung GMT. “Waktu kami cek di pangkalan Mandiri Pratama dan Tiga Berlian sudah penuh, karena dibooking oleh rombongan DSLNG. Untung ada pangkalan kendaraan lain di luar Honda Jaya, alasannya karena tidak AC. Intinya untuk transportasi 12 turis Jepang sudah aman,” paparnya.
Namun, kata dia, 12 turis Jepang tersebut tidak memiliki schedulle  untuk tujuan wisata. Sebab, tidak ada brosur atau pamflet yang dibagikan kepada para wisatawan. “Sebenarnya, kalau ada brosur, langsung dibagikan ke wisatawan yang datang di Bandara Bubung. Agar wisatawan terarah tujuan wisatanya,” tutur Patolemba.
Sementara Dinas Koperasi dan UKM hanya akan mempertunjukan hasil kerajinan serta makanan khas Kabupaten Banggai. Sebab, tidak ada pemberitahuan dari awal, agar instansi terkait bisa menyiapkan diri secara maksimal.“Kami tetap akan terlibat didalamnya,” pungkas wanita berjilbab itu.
Sementara itu, perwakilan anggota DPRD Banggai yang hadir dalam rapat tersebut juga mengungkapkan kesiapan kegiatan di teluk Lalong. Justru, banyak iven yang akan diselenggarakan. Mulai dari festival akustik, musik religi, lomba menggambar, fotografer maupun aneka makanan khas Kabupaten Banggai. Anehnya, DPRD lebih fokus menyiapkan kegiatan di teluk Lalong, dibanding festival seni budaya di Pulau Dua yang digagas Disparekraf. “Untuk kegiatan di teluk Lalong, setiap anggota DPRD diwajibkan menyumbang Rp500 ribu demi mensukseskan kegiatan. Kami juga akan mempromosikan seni dan budaya Kabupaten Banggai dalam punvak GMT nantinya,” terangnya. (awi)

About uman