Home » Berita Utama » Perjuangan Sultim Butuh Kebersamaan
Perjuangan Sultim Butuh Kebersamaan
Djufri R Diko

Perjuangan Sultim Butuh Kebersamaan

LUWUK—Desakan dan tekanan penting untuk mendorong terbentuknya Daerah Otonomi Baru Provinsi Sulawesi Timur (DOB Sultim). Karenanya dibutuhkan kebersamaan perjuangan dari seluruh daerah yang masuk dalam wilayah cakupan Sultim. “Secara normatif perjuangan Sultim memang harus melibatkan seluruh elemen masyarakat serta pemerintah yang masuk di wilayah cakupannya,” ungkap politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Banggai, Muh Djufri R Diko, Selasa (1/3).
Namun kata Djufri, terdapat hal yang perlu dipahami dan kiranya menjadi salah satu faktor sehingga tidak semua pihak terlibat langsung dalam perjuangan tersebut.
“Kita kan tahu sendiri bahwa sumber dana perjuangan selama ini induknya dari Hasrin Rahim (Ketua Forum Perjuangan-red). Memang semua daerah memiliki niat yang sama dengan pejuang asal Banggai tapi kita juga harus realistis melihat kondisi tersebut,” jelasnya.
Dikatakan anggota Komisi III DPRD Banggai ini, dalam kondisi seperti itu diperlukan koordinasi antara pejuang dengan pemerintah daerah (pemda) legislatif yang berada dalam wilayah cakupan Sultim. Seandainya anggaran perjuangan di tanggung daerah maka kebersamaan harus diciptakan agar tidak menimbulkan kesan pejuang Banggai ingin berperan sendiri.
Sementara itu, mengenai peluang keberhasilan terbentuknya Sultim, Djufri mengaku sepakat dengan pendapat perwakilan tim pengkaji sumberdaya alam nasional merah putih, Muhammad Muliyadi. Mengutip pernyataan Muliyadi Djufri menjelaskan, terdapat dua faktor yang dapat mempercepat terbentuknya Sultim ketika ketahanan keamanan dan kondisi ekonomis daerah bersyarat. Terkait perekonomian, sumberdaya alam Sultim diyakini mampu membiayai daerah untuk hidup berotonomi. Sedangkan persoalan keamanan, mengingat kondisi geografis Sultim dibutuhkan pangkalan militer atau pasukan yang memadai. “Tapi ketika Sultim terbentuk dengan sendirinya itu akan berdiri. Jika dua item tersebut dapat dipenuhi saya rasa ini akan jadi pertimbangan pemerintah pusat sehingga untuk mewujudkan perjuangan ini rekomendasi DPRD Sulteng yang selama ini jadi hambatan bisa dikondisikan,” pungkasnya.
Sementara itu, akademisi Unismuh Luwuk, Sahraen Sibay melontarkan kritik pedas terkait dengan keberadaan Hasrin Rahim dalam memerjuangkan pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah. Dengan “gayanya”, Ia khawatir Hasrin Rahim akan jalan sendiri. “Saya sepakat dengan harapannya agar jangan lagi membentuk organisasi lain dalam mewujudkan pembentukan Sultim. Tapi merealisasikan Sultim butuh dukungan semua pihak,” ujarnya.
Menurut Sahraen, pernyataan Hasrin yang cenderung keras dan berlebihan terhadap Ketua DPRD Sulteng, Prof Aminuddin Ponulele semestinya tidak perlu. Dia mengingatkan, mantan Gubernur Sulteng masih memiliki pengaruh yang besar terhadap kabupaten di wilayah Sulawesi Timur. Utamanya, dalam kapasitasnya sebagai Ketua DPD I Golkar.“Kalau Pak Prof (Aminuddin Ponulele) sampai meminta orang-orang Golkar tidak mendukung Sultim, bagaimana jadinya, posisinya saat ini masih ketua DPD I Golkar. Upaya “menyakiti” Pak Prof akan sangat berpengaruh besar. Kalau setiap saat menyalahkan ini itu, pasti blunder akhirnya. Meskipun saat ini, Hasrin berjuang dengan menggunakan dana pribadi,” tandasnya. (man/ris)

About uman