Home » Ekonomi » Berharap Peran Pemda di Tengah Anjloknya Permintaan
Berharap Peran Pemda di Tengah Anjloknya Permintaan
Rido, salah seorang pedagang dan pengrajin batu akik yang masih bertahan ditengah kondisi anjloknya permintaan konsumen, Jumat (22/1).

Berharap Peran Pemda di Tengah Anjloknya Permintaan

Permintaan konsumen terhadap batu akik memang menurun drastis. Meski begitu, pengrajin sekaligus pedagang batu akik yang satu ini setia menjajakan dagangannya demi setitik harapan.

Laporan : Andi Ardin A Ndiona, Luwuk Post
LETAKNYA berada di pusat kota Luwuk, Kabupaten Banggai. Dulunya lokasi itu ramai akan pengunjung. Namun, sejak beberapa bulan terakhir kondisi itupun berubah. Minimnya permintaan akibat sepihnya pembeli memaksa sejumlah pedagangnya gulung tikar.  Begitupula fenomena yang kini terlihat di pasar batu akik yang berada di jalan Urip Sumoharjo, Kelurahan Karaton.
Awalnya, pedagang di pasar tersebut berjumlah 40 orang hingga akhirnya menyisahkan 6 pedagang. Bahkan, jika dipandang sepintas seperti tak ada aktivitas di lokasi perdagangan tersebut.
”Mau bagaimana lagi seperti inilah kondisi kami. Kami hanya berharap agar pemerintah merealiisasikan keinginan kami supaya pameran batu akik rutin digelar sebagai sarana promosi untuk meningkatkan minat masyarakat,” ungkap Rido, salah seorang pedagang, Jumat (22/1).
Keyakinan pedagang batu akik yang tersisa, mulai meninggi ketika kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Banggai, Hasrin Karim, mengunjungi lapak mereka kemarin. Dengan keprihatinannya, Hasri, meminta kepada para pedegang yang tersisa untuk tetap bersabar. Sebab, dengan kondisi perpolitikan yang ada di Kabupaten Banggai saat ini, pelaksanaan kembali pameran batu akik, nampaknya akan sulit untuk dilakukan. Ditambah lagi, saat ini ketua perkumpulan pengrajin dan pedagang batu akik sudah tidak jelas.”Iya, tadi sekitar pukul 11 pak Hasrin Karim, mampir kesini. Katanya, sampai saat ini pemerintah tidak pernah melupakan kami,” pungkasnya.
Terlepas dari persoalan tersebut, kali ini, para pedagang yang tersisa dihadapkan dengan persoalan baru. Yakni, pemutusan arus listrik yang dilakukan oleh pihak PLN.”Nampaknya, untuk hari ini kami akan pulang cepat. Listrik kami tadi sudah diputuskan oleh PLN, padahal kami baru telat bayar satu hari,” jelasnya.
Menurut Rido, seharusnya pihak PLN memberi pedagang waktu selama 10 hari untuk melakukan pemutusan. Selain itu, dengan rasa kemanusiaan, pihak PLN dapat membri kesempatan kepada pedagang, melihat kondisi sepi pasar batu akik saat ini. Apa lagi, pembayaran listrik tersebut dilakukan pedagang setiap hari.”Setiap harinya kami membayar ke PLN sebesar Rp 170 ribu. Hanya saja, hari ini kami belum sempat membayar. Persoalannya, hari ini sangat sepi,” jelasnya. (*)

About uman