Home » Metro Luwuk » Tinggalkan Makassar dan Putuskan Untuk Tinggal di Luwuk
Tinggalkan Makassar dan Putuskan Untuk Tinggal di Luwuk
Heru (21) bersama teman-temanya saat membersihkan sampah di wilayah Teluk Lalong Luwuk, belum lama ini.

Tinggalkan Makassar dan Putuskan Untuk Tinggal di Luwuk

Apapun pekerjaanya asalkan halal, saya tetap lakoni. Semua itu demi membahagiakan orangtua dan seorang adik yang ku sayangi. Dia adalah Heru (21), pria asal Makassar, Sulawesi Selatan yang mengais rezeki di kota Luwuk, Kabupaten Banggai sebagai kondektur mobil sampah.

LAPORAN, Asnawi/Luwuk Post
Sore menjelang pukul 18.00 Wita, terdengar suara adzan seantero kota Luwuk, seorang pria duduk sendiri sambil menikmati secangkir kopi sambil meluruskan kakinya di atas meja.
Ternyata dia adalah, Heru (21) pria asal Makassar, Sulawesi Selatan yang setiap harinya menjalani aktifitas sebagai kondektur mobil sampah di Dinas Perumahan, Tata Kota dan Ruang (Dispetarung) Kabupaten Banggai. Heru tinggal bersama keluarga kecilnya yakni, Ibu dan seorang adik lak-laki yang masih berumur 12 tahun.
Pekerjaan ini dilakoninya sejak 2015 lalu, saat ia harus meninggalkan kampung halamannya. Karena ia merasa di Makassar pekerjaannya sebagai tukang ayam potong tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Akhirya, ia memilih untuk merantau.
Heru memilih kota Luwuk, atas informasi yang disampaikan temannya bahwa, Luwuk sangat baik untuk mencari nafkah. Sehingga, ia memutuskan untuk datang ke Luwuk.
“Saya datang ke Luwuk karena dikasi tahu sama temanku. Dengan modal pas-pasan, saya langsung kesini (Luwuk,red) naik bus 2 hari 2 malam. Waktu tiba di Luwuk, saya langsung dijemput temanku yang sudah lama disini. Dan langsung sewa kos,” tutur Heru,Rabu (20/1).
Tidak menunggu lama, saat ia mendengar informasi ada penerimaan petugas kebersihan di Dispetarung, ia langsung bergegas mendaftarkan diri. Akhirnya, ia pun diterima dan besoknya langsung menjalani aktiftas sebagai kondektur mobil sampah.
Setiap pagi sekira pukul 05.00 Wita, ia mulai menyiapkan keperluan pekerjaannya seperti, kaos tangan, sepatu jenggel, topi serta seragam petugas kebersihan sambil menunggu jemputan mobil sampah.
Lokasi yang ia harus bersihkan, mulai dari pertokoan, SMP N 1 Luwuk, wilayah Nyiur, MTs N Luwuk. Cokro Aminoto, Datu Adam serta Jalan Tembus. Biasanya, mobil berkeliling di gang-gang warga sambil para kondektur mengambil sampah yang menumpuk dan diangkut ke mobil. Aktifitas ini dilakukan hingga pukul 10.00 Wita, dan pada sore hari sekira pukul 15.00 Wita, sampah yang ditampung di mobil tersebut langsung dibuang di tempat pembuangan akhir (TPA) Mololuntun, Desa Buon Mandiri, Kecamatan Luwuk Utara yang jaraknya puluhan kilometer.
Heru dan teman-temannya hanya dibayar Rp 1 juta dari Dispetarung. Sehingga, ia harus putar otak mencari tambahan lain. Akhirnya, sambil menagangkut sampah, ia harus jeli melihat barang bekas yang memiliki nilai ekonomis. Seperti sampah plastik, besi tua, botol, dos bekas, alumunium dan lain sebagainya.
“Kami digaji hanya Rp1 juta. Jadi, saya sambil cari botol plastik, alumunium, dos-dos, pokoknya apa saja yang bisa menghasilkan uang. Biasanya saya kumpul, kalau sudah setengah karung, saya langsung jual di penadah. Paling harganya hanya Rp30 ribu setiap kali dijual. Alhamdulillah, untuk uang tambahan,” ujar Heru sambil tersenyum.
Ketika ada waktu luang, biasanya Heru dipanggil untuk menjadi buruh bangunan. Tapi hanya sesekali ia lakoni.
“Kalau tidak ada uang, saya langsung kerja bangunan. Upahnya Rp25 ribu per hari, kerjanya hanya bantu-bantu tetangga atau teman saja,” ungkapnya.
Walaupun, orang-orang beranggapan bahwa pekerjaannya sangat menjijikan, namun, tidak membuatnya patah semengat. Ia justru sangat menjiwai pekerjaanya. Karena yang ia pikirkan adalah, apapun pekerjaan asalkan halal dan bisa menghidupi keluarga kecilnya.
Bahkan, dari hasil jeri payahnya, Heru berniat ingin menyambung pendidikan adiknya yang sempat putus sekolah.
“Saya selalu menabung dari hasil gaji maupun uang sampingan, semua itu saya lakukan agar adik saya bisa seperti orang lain yakni, bisa merasakan pendidikan,” tutup Heru. (*)

About uman