Home » Metro Luwuk » Jual Gorengan Demi Sekolahkan Anak
Jual Gorengan Demi Sekolahkan Anak
Wa Ode Ani (46), yang berstatus sebagai single parent tiga anak selama 20 tahun. Nampak Wa Ode Ani yang sedang membuat adonan gorengan untuk dijual di RSUD Luwuk, Rabu (13/1).

Jual Gorengan Demi Sekolahkan Anak

Berjuang dengan niat yang tulus, maka akan mendapatkan barokah dari Tuhan Yang Maha Esa. Ini pernyataan yang keluar dari mulut seorang single parent beranak tiga. Dengan jualan gorengan di seputaran RSUD Luwuk, Ia sehingga bisa menyekolahkan ketiga anaknya hingga lulus sekolah menengah atas (SMA). Berikut liputannya.

Laporan, Asnawi/Luwuk Post
Arah jarum jam  menunjukan pukul 18.00 Wita. Saya bersama teman bernama Ely Boy, sedang duduk di sebuah warung kopi sambil menikmati hidangan secangkir kopi hitam. Sambil bercengkrama dan bertukar pikiran untuk menjadi orang sukses, tiba-tiba Boy sapaan akrab Ely Boy langsung menepuk pundak sembari berkata, “Ayo, kita pergi di rumah seorang Janda yang menghidupi tiga anaknya, dengan hanya menjual gorengan,!” Saya pun dengan semangat langsung bergegas menuju rumah Janda tersebut yang bertempat di Kelurahan Bungin Timur, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai.
Ketika tiba, dari kejauhan terlihat seorang wanita duduk sambil meluruskan kakinya. Sepertinya, wanita tersebut sedang mengerjakan sesuatu, sehingga ia merasa kecapaian.
Ternyata, Dia adalah Wa Ode Ani (46), Single Perant tiga anak yang menjadi tujuan kami. Dengan senang hati, Wa Ode Ani pun mempersilahkan kami masuk ke rumahnya. Susana terlihat cair, ketika kami memperkenalkan diri bahwa, kami adalah wartawan Luwuk Post yang ingin mewawancarai dirinya, karena dianggap mampu  menjadi inspirasi bagi wanita-wanita yang ada diluar sana.
Ani sapaan akrabnya adalah, wanita yang ditinggalkan suaminya sejak 1995 silam. Ironisnya, kepergian suaminya tanpa meninggalkan harta benda untuk dijadikan bekal untuk menghidupi ketiga anaknya.
Namun, dengan kisah tragis yang dialami, tidak membuat Ani pasrah. Justru, Ani menjadikan kepergian itu sebagai langkah untuk memotifasi dirinya untuk begerak maju, demi melanjutkan kehidupan yang lebih baik.
“Saya sudah 20 tahun ditinggalkan La ode Fala (mantan suami,red), tanpa meninggalkan uang untuk ketiga anakku,” ujar Ani dengan pakaiannya yang kusam.
Ditanya mengenai aktifitasnya selama 20 tahun menghidupi ketiga anaknya, Ani pun langsung membawa kami di dapurnya. Disitulah menjelaskan aktifitasnya.
Ani selama 20 tahun berprofesi sebagai penjual gorengan. Sebelum Ani berjualan, ia harus bangun pagi sekira pukul 05.00 Wita untuk menyiapkan bahan dan menggoreng adonan yang sudah disiapkan. Aktifitasnya itu, hanya dilakukan sendiri, tanpa ditemani anak-anaknya.
Jenis gorengan yang disajikan Ani beragam. Ada gorengan Apolo, donat, panada, untuu. Ada juga jenis kue yang bukan gorengan yakni, lalampa (makanan khas masyarakat Banggai).
Setelah jualannya sudah beres, Ani langsung membersihkan dirinya. Dengan pakaiannya yang bersih, Ani langsung bergegas menjual gorengannya di seputaran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Luwuk.
“Kalau sudah selesai bagoreng, saya langsung berjualan di rumah sakit. Karena banyak orang yang mencari gorengan untuk sarapan pagi,” katanya sambil membuat adonan untuk digoreng besok paginya, Rabu (13/1).
Keuntungan yang diperoleh setiap harinya bisa mencapai Rp 100 ribu, dengan 150 gorengan yang dijual. Keuntungan inilah yang menjadi bekal dalam menghidupi ketiga anaknya. “Untungnya tidak banyak, hanya Rp 100 ribu. Jadi, saya sering simpan untuk biaya sekolahnya anak. Kalau tidak begini, mau harap dari siapa, tidak ada yang kirim,” imbuh Ani dengan wajah yang lesu.
Single Parent yang hanya lulusan sekolah dasar itu menyatakan, bukan tanpa alasan ia melakukan semua itu. Dia harus menghidupi tiga orang anaknya yang saat itu masih menempuh pendidikan. Dengan modal itulah, ketiga anaknya itu sudah lulus pada sekolah menengah atas (SMA).
“Alahmdulillah, ketiga anak saya sudah lulus semua. Dulu, niat anak-anak ingin sekolah cukup bagus. Sehingga, saya tidak ingin mematahkan semangat mereka. Jadi, saya harus kerja walaupun siang dan malam,” sebut Ani.
Walaupun ketiga anaknya sudah lulus SMA, tidak membuatnya berhenti berjulan. Ia terus berkerja, karena memiliki niat yang besar untuk menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Ia berharap, ketiga anaknya tidak bernasib sama dengan kehidupan yang dia jalani.  “Saya tidak mau nasib anakku seperti kehidupan saya,” paparnya.
Tidak terasa arah jarum jam menunjukan pukul 19.30 Wita. Ini pertanda, pembicaraan kami dengan ibu Ani telah usai. Dengan obrolan selama 1,5 jam itu, sangat bermanfaat bagi perempuan di luar sana. Karena kehidupan ibu Ani yang selama 20 tahun berstatus sebagai single parent, namun mampu menyekolahkan ketiga anaknya. Semoga bermanfaat. (*)

About uman