Home » Luwuk Utara-Timur » Makam si Mungil Rita di Tengah Lahan yang Digusur
Makam si Mungil Rita di Tengah Lahan yang Digusur
Iton, seorang warga kelurahan Jole memperlihatkan kubur Rita P Asi yang terletak di tengah-tengah bantaran sungai Jole.

Makam si Mungil Rita di Tengah Lahan yang Digusur

Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) di sepanjang bantaran sungai Jole hingga saat ini terus berlanjut. Program tersebut meninggalkan kesan bagi keluarga almarhum Rita, karena diatas lahan tersebut terdapat makamnya.

Fajri Rahmadhani/Luwuk Post
Didalam sebuah gubuk yang mirip pos berukuran 3×2, seorang pria tengah duduk serius sambil memperbaiki pancingnya. Disampingnya, dua orang pria tak kalah serius bercengkrama.
Langkah demi langkah saya pun terus mendekati pos yang berada di tengah-tengah bantaran sungai Jole itu Rabu (6/1), sambil membuang senyum tipis.
Mereka adalah Iton, Goan dan Hirwan, warga yang sudah bertahun-tahun bermukim di disekitar bantaran sungai tersebut, sebenarnya mereka sudah diperintahkan oleh Pemerintah untuk segera pindah, karena nantinya lokasi tersebut akan dijadikan Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH).
Namun mereka menganggap baik langkah maupun ganti rugi tempat yang tidak tepat, hingga membuat Iton dan rekannya hingga saat ini memilih tetap bertahan. “Kalau cuma 30 sampai 40 juta itu tidak bisa untuk dibelikan tanah apalagi bangun rumah,” keluh Iton yang juga koordinator Forum penolakan penggusuran.
Ia hanya berharap adanya toleransi pemerintah untuk menyediakan fasilitas rumah yang lokasinya tidak jauh dari laut untuk dijadikan tempat tinggal, karena rata-rata mata pencaharian ia dan rekannya adalah nelayan.
Iton juga mengaku, dibantaran sungai Jole tidak hanya pemukiman saja yang ada, tetapi juga terdapat sebuah kuburan Rita P Asi, bocah berumur lima tahun yang meninggal pada tahun 1998 karena sakit, yang menurutnya, sangat disayangkan jika kuburan tersebut harus dibongkar. “Sebenarnya kami sudah lama ingin bertemu dengan pak Bupati, hanya saja selama ini ia terkesan lari, yang menerima kami hanyalah wakil Bupati,” keluhnya.
Ia pun berharap semoga saja Pemda mau lebih membijaksanai nasibnya dan sejumlah rekannya dikemudian hari. (*)

About uman